Bank Indonesia Siapkan Insentif Baru

Bank Indonesia memperkuat insentif likuiditas untuk mengatasi distribusi dana antarbank dan mendorong penyaluran kredit ke sektor riil.

Diterbitkan 23 Juli 2026, 10:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) mengungkapkan persoalan likuiditas perbankan saat ini bukan disebabkan oleh kekurangan dana, melainkan distribusi likuiditas yang belum merata antarbank. Kondisi tersebut mendorong BI memperkuat kebijakan insentif likuiditas agar penyaluran kredit ke sektor riil semakin optimal.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, likuiditas perbankan secara agregat masih sangat memadai. Ia menyebut rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) perbankan masih berada di atas 24%. Karena itu, tantangan utama saat ini adalah mengatasi segmentasi likuiditas di pasar uang dan perbankan.

"Secara keseluruhan likuiditas lebih dari cukup. Masalahnya distribusi alat likuid antarbank berbeda. Oleh karena itu, kami memperkuat kebijakan insentif likuiditas untuk mengatasi segmentasi likuiditas di pasar uang dan perbankan," ujar Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia, ditulis Kamis (23/7/2026).

Untuk mengatasi persoalan tersebut, BI memperbarui Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) melalui skema pendalaman pasar uang. Perry menjelaskan, insentif akan diberikan kepada bank yang aktif melakukan transaksi repo Surat Berharga Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Perbendaharaan Negara (SPN), baik di pasar uang maupun dengan BI, sehingga redistribusi likuiditas antarbank dapat berjalan lebih efektif.

Menurut Perry, kebijakan tersebut akan memperdalam pasar uang, meningkatkan efektivitas operasi moneter, sekaligus memperkuat kemampuan perbankan dalam menyalurkan pembiayaan ke sektor-sektor produktif. Ia menilai distribusi likuiditas yang lebih baik akan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

 

Tren Suku Bunga Menurun

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menegaskan kondisi likuiditas perbankan tetap sehat. Ia mengatakan rasio AL/DPK masih berada di atas 24%, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) di atas 23%, serta rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) tetap terjaga.

"Likuiditas secara keseluruhan masih cukup baik. Dengan tren suku bunga yang mulai menurun dan masuknya likuiditas dari domestik maupun luar negeri, kondisi pasar uang juga semakin membaik," kata Destry dalam kesempatan yang sama.

Destry mengungkapkan BI sempat menyuntikkan likuiditas melalui instrumen repo dan swap hingga mendekati Rp 1.000 triliun pada akhir Juni 2026 untuk menjaga stabilitas pasar uang. Seiring membaiknya kondisi pasar, posisi repo BI kini turun menjadi sekitar Rp 800 triliun, sedangkan suku bunga pasar uang overnight (IndONIA) turun ke kisaran 6,15%.

 

Arus Masuk Modal Asing

Selain ditopang kebijakan BI, likuiditas domestik juga diperkuat oleh arus masuk modal asing. Hingga tahun berjalan, aliran dana asing ke Surat Berharga Negara (SBN) dan SRBI mencapai Rp 192 triliun, yang terdiri dari Rp 8,8 triliun di SBN dan Rp 183,2 triliun di SRBI. Sepanjang Juli 2026, arus masuk bersih kembali bertambah sekitar Rp 20 triliun.

BI juga melihat ruang pertumbuhan kredit masih terbuka lebar, terutama pada sektor pertanian, perdagangan, transportasi, dan industri pengolahan. Menurut Destry, sektor-sektor tersebut masih memiliki kesenjangan pembiayaan yang besar sehingga berpotensi menjadi motor penguatan kredit sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6