Interpol Tangkap 58 Orang dalam Operasi Besar Penipuan Investasi Kripto

Interpol menangkap 58 orang dan menyita US$ 2,67 juta dalam operasi global membongkar penipuan investasi kripto.

Diterbitkan 30 Agustus 2026, 18:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Interpol menangkap 58 orang dan mengidentifikasi 263 tersangka dalam operasi lintas negara untuk membongkar jaringan penipuan investasi kripto, romance scam, dan pencucian uang. Operasi tersebut melibatkan 22 negara dan berhasil menyita aset senilai US$ 2,67 juta.

Mengutip CoinMarketCap, Minggu (30/8/2026), Operation Jackal IV berlangsung selama delapan bulan, mulai November 2025 hingga Juni 2026.

Operasi ini menyasar sistem keuangan yang digunakan kelompok kejahatan terorganisasi di Afrika Barat. Sebanyak 22 negara dari enam benua terlibat, termasuk Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Uni Emirat Arab, Afrika Selatan, Argentina, Nigeria, dan Rumania.

Penyidik membidik kelompok seperti Black Axe dan organisasi kriminal serupa yang diduga menjalankan penipuan asmara, investasi kripto palsu, penipuan email bisnis, serta berbagai kejahatan finansial lainnya.

Polisi juga melacak perusahaan cangkang, rekening bank, dompet digital, dan penyedia layanan eksternal yang digunakan untuk menerima maupun menyembunyikan hasil kejahatan.

Selama operasi berlangsung, Interpol membantu lembaga penegak hukum bertukar informasi lintas negara, menganalisis aktivitas keuangan, serta mengoordinasikan tindakan penegakan hukum.

Interpol juga memberikan pelatihan khusus kepada penyidik yang menangani kasus pencucian uang.

“Dengan melacak aliran keuangan ilegal lintas negara, kami menyerang sumber kehidupan utama kejahatan terorganisasi dan membuat jaringan kriminal semakin sulit mendapatkan keuntungan dari aktivitas mereka,” kata Tomonobu Kaya, Direktur Interpol Financial Crime and Anti-Corruption Centre.

 

Penyitaan dan pemblokiran Rekening

Menurut Interpol, Operation Jackal IV menghasilkan 58 penangkapan dan mengidentifikasi 263 orang lain yang diduga memiliki keterkaitan dengan jaringan kriminal yang menjadi target operasi.

Di Argentina, polisi federal membongkar jaringan Crime-as-a-Service yang diduga menyediakan domain situs web dan layanan pencucian uang bagi kelompok kriminal Afrika Barat.

Penyidik mengidentifikasi 196 orang yang terhubung dengan operasi tersebut dan menangkap 17 tersangka.

Tim dukungan operasional Interpol membantu otoritas Argentina memeriksa informasi yang disita. Tim tersebut menganalisis hubungan antara tersangka, kelompok kriminal, dan mitra di luar negeri untuk membantu penyidik menemukan petunjuk tambahan.

Sementara itu, aparat Afrika Selatan melakukan operasi penindakan terbesar dalam rangkaian tersebut. Polisi menangkap 39 orang dalam penggerebekan di tujuh lokasi di Johannesburg.

Lokasi tersebut diduga digunakan kelompok yang menjalankan romance scam dan penipuan investasi terhadap para pensiunan di negara-negara berbahasa Inggris.

Menurut Interpol, anggota jaringan memiliki tugas berbeda. Sebagian berperan sebagai agen “conversion”, sedangkan lainnya menjadi agen “retention”.

Mereka bertugas mengubah calon korban yang awalnya dihubungi menjadi korban yang bersedia mengirim uang, serta membujuk korban lama untuk terus melakukan transfer.

Dalam penggerebekan di Johannesburg, polisi menyita US$ 2,67 juta, memblokir 257 rekening bank, dan mengumpulkan berbagai barang bukti.

Namun, terdapat perbedaan angka dalam rilis Interpol. Pernyataan tersebut menyebut 17 penangkapan di Argentina dan 39 di Afrika Selatan, atau total 56 orang. Di bagian lain, Interpol juga menyebut 11 penangkapan di Rumania.

Jika seluruh angka tingkat negara dijumlahkan, totalnya menjadi 67 orang. Interpol tidak menjelaskan apakah penangkapan di Rumania termasuk dalam total 58 orang atau merupakan hasil penyelidikan terkait.

Penipuan Investasi Rumania Rugikan Korban hingga 143 Juta Euro

Polisi Rumania membongkar pusat panggilan yang diduga menawarkan keuntungan besar dari investasi saham dan mata uang kripto.

Penyidik menemukan bahwa uang yang ditransfer korban justru dialihkan ke dompet elektronik yang dikendalikan pelaku, bukan ditempatkan pada investasi sebenarnya.

Interpol memperkirakan jaringan tersebut mencuri dan mencuci sekitar 143 juta euro dari korban di berbagai negara.

Sebanyak 11 orang ditangkap. Polisi juga menyita sekitar 330.000 euro dalam bentuk uang tunai dan kripto, enam properti, serta sejumlah jam tangan mewah.

 

Kelompok Kriminal Afrika Barat

Di Italia, penyidik mengidentifikasi satu orang yang diduga terlibat dalam jaringan pencucian uang yang beroperasi di sejumlah negara Eropa.

Menurut Interpol, jaringan tersebut menggunakan perusahaan cangkang, layanan pengiriman uang, dan penarikan tunai untuk menyembunyikan asal dana.

Satu rekening bank tercatat memproses 845.000 euro melalui 560 transaksi yang melibatkan 20 instrumen keuangan. Dalam kasus ini, belum ada penangkapan yang dilaporkan dan penyelidikan masih berfokus pada satu tersangka.

Operation Jackal IV juga menemukan bahwa sejumlah kelompok kriminal Afrika Barat membeli layanan Crime-as-a-Service dari penyedia eksternal, termasuk melalui pasar dark web.

Layanan tersebut memungkinkan kelompok penipu menyewa infrastruktur situs web, layanan pencucian uang, dan pekerjaan teknis lainnya sehingga mereka tidak perlu mengelola seluruh operasi sendiri.

Sebelumnya, Interpol juga menjalankan operasi serupa bernama Operation First Light. Pada operasi tersebut, aparat di 97 negara dan wilayah menangkap 5.811 orang serta menyita atau membekukan aset ilegal senilai US$ 293 juta.

Operasi itu juga mengidentifikasi lebih dari 142.000 korban dan memblokir lebih dari 31.000 rekening bank.

 

Amerika Serikat Kejar Dana Hasil Penipuan Kripto

Amerika Serikat termasuk dalam 22 negara yang berpartisipasi dalam Operation Jackal IV. Namun, Interpol tidak menyebut adanya penangkapan atau penyitaan aset khusus di AS dalam rilisnya.

Secara terpisah, Departemen Kehakiman AS (DOJ) mengejar penyitaan US$ 25 juta dalam bentuk kripto yang ditemukan melalui lima penyelidikan terkait korban di AS dan Kanada.

Kasus tersebut melibatkan platform kripto palsu dan jaringan pencucian uang yang memiliki kaitan dengan China, Malaysia, dan Kamboja.

Jaksa menyebut Scam Center Strike Force DOJ telah menyita lebih dari US$ 800 juta sejak dibentuk pada November 2025.

Dalam penindakan terpisah pada Juni, Coinbase membekukan lebih dari US$ 3 juta kripto yang diduga terkait jaringan penipuan di Asia Tenggara.

Coinbase bekerja sama dengan DOJ, Meta, Microsoft, Starlink, dan aparat penegak hukum luar negeri untuk melacak transfer dana serta infrastruktur digital yang berkaitan dengan romance scam dan penipuan investasi.

Meta menonaktifkan lebih dari 1,4 juta akun, halaman, dan grup yang terkait dugaan penipuan. Microsoft menangguhkan sekitar 20.000 akun, sedangkan Starlink menghentikan layanan ribuan perangkat internet yang diduga terkait aktivitas ilegal.

Polisi Thailand juga menangkap 63 orang yang diduga terhubung dengan operasi penipuan tersebut.