Liputan6.com, Jakarta - Bitcoin (BTC) bergerak stabil di sekitar level US$ 80.000 dan kembali menjadi perhatian trader serta analis. Investor kini mencermati arus dana Exchange Traded Fund (ETF) Bitcoin serta perkembangan ekonomi makro yang dapat memengaruhi pergerakan harga.
Area resistance yang menjadi perhatian utama berada di kisaran US$ 81.000-US$ 83.000. Sementara itu, level US$ 86.000 dinilai berpotensi menjadi titik pemicu koreksi lebih dalam.
Mengutip CoinMarketCap, Sabtu (29/8/2026), di tengah pergerakan tersebut, hubungan Bitcoin dengan indeks Nasdaq mulai melemah. Sebaliknya, pergerakannya semakin menunjukkan kesamaan dengan emas.
Advertisement
Kondisi itu memunculkan kembali pandangan bahwa Bitcoin mulai dipertimbangkan sebagai instrumen lindung nilai atau hedge terhadap risiko ekonomi makro.
Pola Harga 2022 Kembali Muncul?
Menurut pakar kripto Ali Charts, pergerakan Bitcoin saat ini memiliki kemiripan dengan pola yang terjadi ketika pasar mengalami penurunan pada 2022.
Kemiripan tersebut menimbulkan pertanyaan apakah pola yang sama dapat kembali menghasilkan pemulihan harga.
Ali Charts memperkirakan apabila Bitcoin menghadapi resistance dan terkoreksi di sekitar US$ 83.000, kondisi tersebut justru dapat menjadi peluang pembelian.
Level tersebut disebut memiliki kemiripan dengan titik puncak pada Mei 2026.
Jika pola historis kembali berulang, penurunan harga setelah menyentuh resistance dapat menjadi momentum bagi investor untuk kembali masuk ke pasar.
Â
Koreksi Berpotensi Terjadi di US$ 86.000
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1937629/original/026426200_1519626771-1.jpg)
Pendiri Liquid Capital, Yi Lihua, menyoroti kesulitan Bitcoin untuk menembus resistance US$ 81.000.
Lihua memperkirakan Bitcoin berpotensi mengalami koreksi ringan dalam beberapa hari mendatang sebelum kembali melanjutkan kenaikan dan mencoba menembus level tersebut.
Ia juga mencermati level US$ 86.000. Jika Bitcoin mendekati harga tersebut, Lihua berencana menutup posisi long karena memperkirakan level itu dapat memicu koreksi pasar yang lebih signifikan.
Meski mengantisipasi penurunan jangka pendek di area resistance, Lihua tetap melihat prospek pasar secara bullish. Ia memilih menutup posisi long tanpa membuka posisi short.
Bitcoin sebelumnya telah mengalami pemulihan kuat dari sekitar US$ 60.000 hingga kembali berada di atas US$ 81.000. Penguatan ini kembali memunculkan pembahasan mengenai peran Bitcoin sebagai aset pelindung terhadap penurunan nilai mata uang.
Permintaan terhadap Bitcoin dan emas sebagai aset lindung nilai juga kembali meningkat di tengah kekhawatiran terhadap utang, defisit anggaran, serta risiko depresiasi mata uang.
Arus modal institusional turut memberikan dukungan. Hingga 27 Agustus, ETF Bitcoin spot di AS mencatat arus dana masuk bersih selama sembilan hari berturut-turut.
ETF, termasuk IBIT milik BlackRock, menjadi salah satu pendorong utama masuknya dana institusional ke pasar Bitcoin.
Â
Advertisement
Potensi Penguatan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3438115/original/068747600_1619182983-WhatsApp_Image_2021-04-22_at_14.56.51.jpeg)
Selain arus dana ETF, perubahan kondisi makroekonomi juga menjadi faktor yang diperhatikan investor Bitcoin.
Kebijakan pemerintah AS terkait Treasury serta keberlanjutan fiskal menjadi bagian dari perdebatan mengenai arah pasar aset digital dan emas.
Pergerakan Bitcoin selanjutnya juga akan dipengaruhi perkembangan kebijakan moneter AS. Salah satu agenda yang dinantikan pasar adalah pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh di Jackson Hole.
Pidato tersebut dipandang penting untuk memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter dalam jangka panjang.
Pasar akan mencermati pandangan Warsh terkait kebijakan pembelian Treasury jangka panjang oleh The Fed. Dukungan ataupun minimnya dukungan terhadap kebijakan tersebut dapat memengaruhi sentimen terhadap Bitcoin dan emas dalam waktu dekat.
Jika pernyataan Warsh memberikan sinyal positif bagi likuiditas dan kebijakan moneter, Bitcoin berpotensi melanjutkan penguatannya.
Sebaliknya, sinyal kebijakan yang lebih ketat dapat memberikan tekanan terhadap kenaikan Bitcoin yang telah terjadi.
Dengan Bitcoin berada di sekitar US$ 80.000, level US$ 81.000-US$ 83.000 menjadi area penting yang harus ditembus untuk memperkuat momentum kenaikan.
Sementara itu, US$ 86.000 menjadi level yang perlu diperhatikan karena berpotensi memicu koreksi lebih besar
Â
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9331817/original/055880700_1787567222-BSU_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9310112/original/014361000_1785306495-Screenshot_2026-07-29_125347.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334903/original/053454000_1787904698-HOAX__7_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335179/original/068083900_1787917398-cek_fakta_menko.jpg)
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-gray-landscape-new.png,1180,20,0)/kly-media-production/medias/1937644/original/001119200_1519626925-1.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5028254/original/041675300_1732871304-fotor-ai-2024112916726.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816485/original/067351800_1714383642-fotor-ai-20240429133817.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3589344/original/052527000_1633066032-New_Project__10_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4674211/original/014291300_1701747020-aleksi-raisa-DCCt1CQT8Os-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4740419/original/047203600_1707701768-fotor-ai-202402128350.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5302024/original/069793300_1753969621-Gemini_Generated_Image_9sncvd9sncvd9snc.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4750922/original/000470300_1708667884-WhatsApp_Image_2024-02-22_at_16.29.58__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3913279/original/044672700_1643034569-24_januari_2022-3.jpg)