Arthur Hayes: Bitcoin Masuki Bull Market, Likuiditas Dolar AS Jadi Katalis

Arthur Hayes memprediksi likuiditas dolar AS akan bertambah dan berpotensi mendorong reli Bitcoin lebih lanjut.

Diterbitkan 28 Agustus 2026, 12:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bitcoin (BTC) telah memasuki bull market baru. Prediksi ini disampaikan Arthur Hayes yang menilai Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent tengah bersiap meningkatkan likuiditas dolar AS melalui operasi di pasar Treasury.

DIkutip dari CoinMarketCap, Jumat (28/8/2026), Hayes berpendapat, ketika pemerintah menyuntikkan likuiditas untuk menjaga imbal hasil obligasi Treasury tetap terkendali, Bitcoin dan aset berisiko lainnya cenderung mendapatkan keuntungan.

Dalam esainya pada 25 Agustus, Hayes membandingkan Bessent dengan mantan Menteri Keuangan AS Janet Yellen. Menurut dia, keduanya menghadapi tekanan untuk menjaga biaya pinjaman tetap terkendali ketika pemerintah AS terus melakukan belanja.

Hayes menyoroti imbal hasil Treasury AS bertenor 10 tahun yang disebutnya sebagai harga paling penting di pasar keuangan AS.

Menurut co-founder BitMEX tersebut, regulator biasanya mulai khawatir ketika imbal hasil Treasury 10 tahun mendekati 5%. Pasalnya, kenaikan imbal hasil dapat meningkatkan biaya hipotek serta pinjaman bagi perusahaan dan konsumen.

Hayes kemudian mengulas kebijakan Yellen pada Desember 2023 yang meningkatkan penerbitan Treasury bills dibandingkan obligasi berjangka panjang.

Kebijakan itu mendorong dana pasar uang berpindah dari program Reverse Repo (RRP) Federal Reserve ke Treasury bills.

 

Suntikan Likuiditas

Hayes memperkirakan saldo RRP turun dari sekitar US$ 2,5 triliun menjadi US$ 100 miliar ketika Bessent mulai menjabat pada Januari 2025.

Artinya, sekitar US$ 2,4 triliun dana berpindah ke pasar keuangan. Hayes menyebut perpindahan tersebut sebagai suntikan likuiditas.

Pada periode yang sama, Bitcoin dan Nasdaq 100 menguat, sementara imbal hasil Treasury 10 tahun menjauh dari level 5%. Hal itu terjadi meskipun Federal Reserve mempertahankan suku bunga sekitar 5,3% dan terus mengurangi neracanya.

Kini, Hayes menilai Bessent mencoba melakukan langkah serupa melalui instrumen pengelolaan utang pemerintah AS.

Pada 19 Agustus, Bessent mengumumkan peningkatan pembelian kembali atau buyback obligasi pemerintah dari US$ 2 miliar menjadi sedikitnya US$ 4 miliar setiap operasi.

Imbal hasil Treasury 10 tahun sempat turun setelah pengumuman tersebut, sementara Bitcoin menguat dalam beberapa hari berikutnya. Namun, dampaknya tidak bertahan lama karena imbal hasil kembali naik di atas level sebelum pengumuman.

Hayes menilai rencana tersebut masih terlalu kecil dibandingkan total utang pemerintah AS yang mencapai sekitar US$ 40 triliun.

"Bitcoin meroket dari titik terendahnya setelah Yellen mengumumkan skema pencetakan uangnya, dan saya berpendapat hal yang sama akan terjadi setelah Bessent kembali menunjukkan keyakinannya untuk mengikuti jejak pendahulunya dan secara signifikan meningkatkan laju penciptaan likuiditas dolar," tulis Hayes.

 

Tiga Pilihan untuk Bessent

Hayes memaparkan tiga pilihan yang dapat ditempuh Bessent untuk meningkatkan likuiditas.

Pertama, memangkas belanja pemerintah. Namun, Hayes menilai langkah tersebut kecil kemungkinan dilakukan mengingat AS menghadapi agenda pemilu.

Kedua, menerapkan kebijakan agresif seperti Bank of Japan (BoJ), dengan membeli obligasi tanpa batas jika imbal hasil Treasury menembus 5%.

Pilihan ketiga sekaligus yang dinilai paling mungkin adalah meningkatkan pembelian kembali obligasi dalam jumlah lebih kecil tetapi dilakukan lebih sering, kecuali volatilitas pasar meningkat tajam.

Hayes juga melihat potensi sumber likuiditas dari Treasury General Account (TGA), yang saldonya sekitar US$ 1 triliun.

Mengutip laporan CNBC, ia menyebut Bessent dapat mengurangi saldo TGA untuk membiayai pembelian kembali obligasi tambahan.

Prediksi tersebut muncul ketika Bitcoin sudah mengalami kenaikan signifikan. Bitcoin baru-baru ini kembali menembus US$ 80.000 untuk pertama kalinya sejak Mei.

Saat artikel ditulis, Bitcoin bergerak mendekati US$ 79.000. Meski demikian, harganya masih mencatat kenaikan lebih dari 23% dalam tujuh hari dan sedikit di bawah angka tersebut dalam sebulan.

Bitcoin masih sekitar 37% di bawah rekor tertingginya sepanjang masa yang mencapai lebih dari US$ 126.000 pada Oktober 2025.

Bagi Hayes, peningkatan likuiditas dolar dapat menjadi katalis tambahan bagi Bitcoin untuk melanjutkan reli.