Jadikan Pidato Trump Taruhan, Operator Teleprompter Gedung Putih Didenda Rp 2,7 Miliar

Seorang mantan operator teleprompter Gedung Putih didenda US$172.000 karena bertaruh pada pidato Trump di platform Kalshi.

Diterbitkan 30 Agustus 2026, 18:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washiington - Mantan operator teleprompter Gedung Putih diperintahkan membayar lebih dari US$ 172.000 setelah menggunakan informasi internal untuk bertaruh mengenai isi pidato Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Dikutip dari BBC, Minggu (30/8/2026), Gabriel Perez diketahui melakukan sejumlah transaksi di platform pasar prediksi Kalshi, dengan mempertaruhkan apa yang akan disampaikan Trump dalam sejumlah pidatonya antara Desember 2025 hingga Februari 2026.

Kalshi merupakan platform pasar prediksi yang memungkinkan pengguna memasang taruhan mengenai berbagai peristiwa di dunia nyata.

Regulator platform tersebut, Commodity Futures Trading Commission (CFTC), menyatakan Perez harus menyerahkan keuntungan sebesar US$ 107.539,02. Selain itu, ia diwajibkan membayar denda perdata sebesar US$ 65.000.

Gedung Putih belum memberikan komentar terkait keputusan tersebut. Pada Juli lalu, juru bicara Gedung Putih saat itu, Karoline Leavitt, mengatakan Perez sedang menjalani cuti tanpa dibayar dan tidak akan kembali ke posisinya.

Dalam pengumuman penyelesaian kasus pada Jumat, CFTC menyatakan Perez telah “misappropriated” atau menyalahgunakan pengetahuan sebelumnya mengenai pidato Trump untuk memasang taruhan, yang dinilai melanggar kewajiban kepercayaan dan kerahasiaannya.

CFTC menyebut denda perdata Perez dikurangi karena ia memberikan “exemplary co-operation” atau kerja sama yang sangat baik selama penyelidikan.

Selain denda, Perez juga dilarang melakukan perdagangan selama tiga tahun.

Pengacara utama Kalshi, Bobby DeNault, menyambut keputusan tersebut melalui akun X. Ia menegaskan bahwa siapa pun yang melanggar aturan perusahaan maupun hukum federal akan menghadapi konsekuensi.

 

Awal Mula Kasus

Kasus ini bermula ketika analis Kalshi menemukan aktivitas taruhan yang tidak biasa pada “mention markets” pada Maret. Dalam jenis kontrak tersebut, pengguna memprediksi apakah seorang pembicara akan menyebut istilah tertentu, seperti nama negara, slogan kampanye, atau kata-kata tertentu.

Kalshi kemudian menggunakan data akun untuk mengidentifikasi pengguna tersebut sebagai pegawai federal yang bertugas mengoperasikan teleprompter Gedung Putih. Aktivitas itu selanjutnya dilaporkan kepada regulator.

“Perkataan para pemimpin politik seperti Presiden dan ketua The Fed menyebabkan pergerakan miliaran dolar di pasar valuta asing, kontrak berjangka minyak, [dan] pasar saham,” kata perusahaan tersebut dalam pernyataan pada Juli.

Pada bulan yang sama, Kantor Manajemen Gedung Putih juga mengirim surat kepada para pembantu presiden yang berisi larangan untuk memasang taruhan di pasar prediksi. Informasi itu disampaikan para pejabat pemerintahan kepada CBS News, mitra media AS BBC.