Liputan6.com, Jakarta - Sebulan sebelum bom mulai menghantam Iran, sebuah kantor berita internasional melaporkan bahwa Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) tengah menyelidiki apakah sejumlah platform kripto membantu pejabat Iran menghindari sanksi ekonomi. Ketika serangan udara dimulai pada 28 Februari, penyelidikan tersebut secara tidak langsung mendapat “uji coba nyata”.
Hasilnya cukup mengejutkan.
Perang tidak menghancurkan infrastruktur kripto Iran. Justru konflik itu menunjukkan betapa pentingnya peran stablecoin dalam sistem keuangan negara tersebut.
Advertisement
Dikutip dari Yahoo Finance, Rabu (4/3/2026), dilaporkan bahwa volume transaksi kripto di Iran diperkirakan mencapai USD 8 miliar hingga USD 10 miliar sepanjang 2025. Data tersebut mengacu pada analisis perusahaan blockchain TRM Labs dan Chainalysis.
Salah satu pemain utama adalah Nobitex, bursa kripto terbesar di Iran yang disebut melayani sekitar 15 juta pengguna.
Namun angka transaksi tersebut sebenarnya hanya menggambarkan sebagian dari fenomena yang lebih besar.
Perusahaan analitik kripto asal Inggris, Elliptic, menyebut Bank Sentral Iran membeli setidaknya USD 507 juta dalam bentuk USDT tahun lalu. Langkah ini disebut sebagai strategi canggih untuk menghindari sistem perbankan global.
Chainalysis memperkirakan sekitar setengah volume transaksi kripto Iran terkait dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Sementara TRM Labs menilai angka tersebut lebih rendah, sekitar 5%, tetapi tetap mengidentifikasi lebih dari 5.000 alamat dompet kripto yang terhubung dengan IRGC yang telah memindahkan dana sekitar USD 3 miliar sejak 2023.
Laporan lain dari TRM Labs pada Januari juga mengungkap bahwa dua perusahaan yang terdaftar di Inggris, Zedcex dan Zedxion, menyalurkan sekitar USD 619 juta stablecoin ke dompet yang terkait dengan IRGC pada 2024 saja.
Jumlah itu melonjak 2.500% dibandingkan tahun sebelumnya.
“Ini bukan sekadar penyalahgunaan kripto secara oportunistik. Ini adalah organisasi militer yang dikenai sanksi yang mengoperasikan infrastruktur pertukaran kripto di luar negeri,” kata Kepala Kebijakan Global TRM Labs, Ari Redbord.
Ketika Perang Menguji Sistem Crypto Iran
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5519553/original/019919200_1772581892-6.jpg)
Serangan udara yang terjadi pada 28 Februari memberikan tekanan besar pada infrastruktur digital Iran.
Analisis TRM Labs menunjukkan bahwa konektivitas internet di Iran sempat turun hingga sekitar 99% setelah serangan gabungan AS dan Israel tersebut.
Akibatnya, volume transaksi kripto langsung merosot sekitar 80% hanya dalam beberapa hari.
Sejumlah bursa kripto di Iran kemudian beralih ke mode bertahan. Beberapa di antaranya menghentikan penarikan dana sepenuhnya, sementara yang lain membekukan transaksi baik dalam bentuk kripto maupun rial, mata uang nasional Iran.
Beberapa platform bahkan mengubah sistem transaksi menjadi pemrosesan batch dua kali sehari untuk menjaga stabilitas sistem.
Namun langkah paling signifikan justru datang dari Bank Sentral Iran.
Otoritas moneter tersebut memerintahkan bursa kripto untuk sementara menghentikan perdagangan pasangan USDT–toman. Toman merupakan denominasi yang umum digunakan dari mata uang rial dan menjadi jembatan utama antara kripto dan mata uang fiat di Iran.
Kepanikan masyarakat yang menukar rial menjadi USDT yang dipatok ke dolar AS membuat pasangan perdagangan ini menjadi indikator langsung dari pelemahan mata uang Iran.
Dengan menghentikan perdagangan tersebut, Bank Sentral Iran pada dasarnya mencoba memperlambat penurunan nilai mata uang nasional—langkah yang bisa dianggap sebagai versi kripto dari penutupan pasar valuta asing saat krisis.
Ketika perdagangan kembali dibuka, likuiditas pasar terlihat sangat tipis dan harga sempat bergerak tidak stabil.
Peristiwa itu menunjukkan betapa dalamnya peran USDT dalam sistem keuangan Iran.
Secara keseluruhan, TRM Labs menyimpulkan bahwa ekosistem kripto Iran mengalami tekanan, tetapi tidak runtuh.
Namun ada catatan penting. Ketika internet padam, masyarakat biasa kehilangan akses ke kripto. Sebaliknya, aktor yang terkait dengan pemerintah kemungkinan masih memiliki akses ke infrastruktur tertentu yang tetap online.
Penurunan volume transaksi secara keseluruhan bisa saja menyembunyikan aktivitas pemindahan dana oleh pihak-pihak yang dekat dengan rezim.
TRM menyebut pergerakan tersebut kemungkinan baru akan terlihat setelah analisis data transaksi dilakukan secara lebih mendalam.
Advertisement
Stablecoin, Sanksi, dan Dilema Regulasi Global
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5519552/original/025362700_1772581891-5.jpg)
Beberapa hari setelah laporan TRM Labs dirilis, Financial Action Task Force (FATF) juga menerbitkan laporan khusus mengenai stablecoin dan dompet kripto tanpa kustodian pada 3 Maret.
Waktu publikasinya dinilai cukup relevan dengan situasi yang sedang terjadi.
FATF mengutip data Chainalysis yang menunjukkan bahwa stablecoin menyumbang sekitar 84% dari seluruh volume transaksi kripto ilegal pada 2025.
Laporan tersebut secara eksplisit menyebut aktor-aktor Iran memanfaatkan stablecoin untuk pendanaan aktivitas yang melanggar sanksi internasional.
FATF juga merekomendasikan agar penerbit stablecoin memiliki kemampuan membekukan, membakar (burn), dan memblokir alamat dompet tertentu guna mengendalikan penyalahgunaan.
Saat ini terdapat lebih dari 250 stablecoin yang beredar di pasar global, dengan total kapitalisasi melebihi USD 300 miliar.
FATF mendorong negara-negara di dunia untuk segera membangun kerangka regulasi yang lebih kuat guna mengatasi risiko yang muncul dari penggunaan stablecoin.
Paradoks Stablecoin
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5519550/original/096330700_1772581889-3.jpg)
Kasus Iran menyoroti paradoks dalam ekosistem stablecoin.
Nilai yang dipatok pada dolar AS membuat stablecoin seperti USDT sangat berguna untuk transaksi lintas negara yang sah. Namun fitur yang sama juga menjadikannya alat yang efektif untuk menghindari sanksi ekonomi.
Penerbit USDT, Tether, menyatakan memiliki kebijakan tanpa toleransi terhadap penggunaan kriminal.
Namun analis keuangan dari lembaga RUSI, Tom Keatinge, pernah mengatakan kepada Reuters bahwa semakin besar tekanan terhadap ekonomi Iran, semakin besar pula kemungkinan penggunaan kripto akan meningkat.
“Semakin keras tekanan terhadap ekonomi Iran, kita juga harus siap menghadapi konsekuensinya, salah satunya adalah meningkatnya penggunaan kripto,” ujarnya.
Pada akhirnya, perang bukanlah penyebab ketergantungan Iran pada stablecoin.
Konflik tersebut hanya membuat ketergantungan itu menjadi semakin jelas dan tidak bisa lagi diabaikan.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5564063/original/036332000_1776924981-cek_fakta_-_BSU_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5496891/original/097309800_1770608635-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-09T103958.761.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8710243/original/038928400_1782790135-IMG_3966.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8715404/original/084148600_1782803575-Cek_fakta_bsu_25_juta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/3246/original/023028100_1470665987-kecil.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5519555/original/049184200_1772581893-8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1411708/original/048619800_1479708636-Iran.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1411598/original/098494900_1479704927-Amerika_Serikat.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8389795/original/062452300_1782269925-inggris.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260740/original/033303400_1781654609-063_2281951293.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8715414/original/056650500_1782804083-AP26180851266408.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8711445/original/003693600_1782792455-000_B8QK6YV.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8715315/original/077601700_1782799662-Netherlands__Jan_Paul_van_Hecke.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8714917/original/028527700_1782798194-Brazil_s_Gabriel_Martinelli.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8625301/original/096522400_1782619158-000_B8K37NR.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8713141/original/058795600_1782795003-Germany_players_are_dejected.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8513256/original/026711200_1782437004-AP26176799194484.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8710893/original/011996500_1782791219-WhatsApp_Image_2026-06-30_at_10.43.26__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8709002/original/001727100_1782787701-000_B8QH9N2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8711341/original/045734100_1782792164-IMG-20260630-WA0021.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5524822/original/062327900_1773012804-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5563532/original/083842700_1776904085-AP26108447222186.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5540889/original/074569200_1774841000-6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4721215/original/050847100_1705711212-fotor-ai-2024012073921.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3181744/original/039116300_1594892567-20200716-Rupiah-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5563533/original/046149400_1776904156-AP26108447326306.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4013695/original/083702900_1651632388-000_329D9V2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4066834/original/034753100_1656461868-Harga_Minyak_AFP.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5563534/original/033369400_1776904230-AP26108447289863.jpg)