Harga Bitcoin Bisa Jatuh ke USD 38.000, Ini Ramalan yang Bikin Geger!

Kombinasi kebijakan The Fed, regulasi yang mandek, dan arus keluar ETF membayangi pergerakan Bitcoin.

Diterbitkan 06 Februari 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Perusahaan manajemen kekayaan global, Stifel, memperingatkan bahwa harga Bitcoin berpotensi mengalami penurunan tajam dalam waktu dekat. Kombinasi likuiditas yang semakin ketat, kebuntuan regulasi, serta derasnya arus keluar dana dari exchange-traded fund (ETF) Bitcoin dinilai menjadi faktor utama tekanan tersebut.

Dikutip U Today, Jumat (6/2/2026), dalam catatan riset terbarunya, Stifel menyebut Bitcoin berisiko anjlok hingga ke level USD 38.000. Angka itu mencerminkan potensi koreksi lanjutan sekitar 47% dari posisi harga saat ini.

Peringatan tersebut muncul setelah Bitcoin kembali mencatatkan level terendah baru sepanjang 2025. Pada perdagangan terbaru, harga aset kripto terbesar di dunia itu sempat jatuh ke USD 72.185, memperpanjang tren pelemahan yang sudah berlangsung dalam beberapa bulan terakhir.

Menurut Stifel, kondisi pasar Bitcoin saat ini tidak bisa dipandang sebagai koreksi biasa. Struktur pasar yang terbentuk justru dinilai menyerupai fase paling menyakitkan dari crypto winter pada periode sebelumnya.

“Risiko penurunan lebih lanjut masih terbuka lebar,” tulis Stifel, seraya menegaskan bahwa tekanan makro dan struktural belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

 

The Fed dan Regulasi Jadi Beban Pasar Kripto

Stifel menilai salah satu hambatan terbesar bagi Bitcoin datang dari kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) yang masih ketat. Meski pelaku pasar sempat berharap pemangkasan suku bunga secara agresif, Federal Reserve (The Fed) tetap mempertahankan sikap yang kurang akomodatif demi menekan inflasi.

Suku bunga tinggi terus menguras likuiditas global dan menjauhkan dana dari aset-aset berisiko, termasuk Bitcoin. Kondisi ini membuat pasar kripto semakin rentan terhadap tekanan jual.

Di sisi lain, janji ledakan industri kripto di bawah pemerintahan AS saat ini dinilai belum terwujud. Proses legislasi terkait regulasi pro-kripto berjalan lambat dan cenderung menemui jalan buntu.

Mandeknya kepastian regulasi tersebut menambah ketidakpastian bagi investor, sekaligus menahan arus modal baru masuk ke pasar kripto.

 

ETF Bitcoin Mulai Beri Tekanan, Tapi Dana Institusi Bertahan

Selain faktor makro, Stifel juga menyoroti peran ETF Bitcoin spot yang kini berubah menjadi sumber tekanan jual. Produk yang sebelumnya menjadi pendorong utama reli harga Bitcoin justru mengalami arus keluar dana.

Meski demikian, analis ETF Bloomberg, Eric Balchunas, menilai situasinya tidak sepenuhnya negatif. Ia menyebut investor ETF cenderung masih bertahan, sementara aksi jual lebih banyak dilakukan oleh pelaku kripto lama.

Menurut Balchunas, meski Bitcoin telah mengalami penurunan tajam sekitar 40%, hanya sekitar 6% aset dalam ETF Bitcoin spot yang ditarik. Angka ini tergolong rendah untuk aset dengan volatilitas setinggi Bitcoin.

Artinya, sekitar 94% dana institusional yang masuk melalui ETF—termasuk dari BlackRock dan Fidelity—masih bertahan. Kondisi ini menunjukkan kepercayaan investor institusi belum sepenuhnya hilang, meski risiko penurunan jangka pendek tetap membayangi.