Harga BTC Anjlok, Kini Sentuh Rp 1,45 Miliar

Harga bitcoin (BTC) makin tersungkur hingga merosot 4,7% dalam 24 jam terakhir.

Diterbitkan 21 November 2025, 07:49 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga bitcoin (BTC) semakin terpuruk. Kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar ini berada di bawah posisi USD 90.000 pada Jumat, (21/11/2025) pukul 07.12 WIB. Mengutip data Coinmarketcap.com, harga bitcoin turun 4,7% dalam 24 jam terakhir.

Selama sepekan terakhir, harga BTC anjlok 12,33%. Saat ini, harga bitcoin berada di posisi USD 87.038,43 atau Rp 1,45 miliar (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.738).

Selain bitcoin, harga Ethereum juga terpuruk. Harga Ethereum anjlok 5,49% dalam 24 jam terakhir. Selama sepekan terakhir, harga Ethereum melemah 11,56%. Kini, harga Ethereum berada di posisi USD 2.851,45 atau Rp 47,71 juta.

Berdasarkan data CoinGecko, harga bitcoin turun dari level tertinggi di atas USD 103.000. Indeks the Fear and Greed berada di 11, yang menunjukkan ketakutan ekstrem untuk minggu kedua berturut-turut.

Dalam 24 jam terakhir, 221.588 pelaku pasar dilikuidasi, dengan total likuidasi mencapai USD 794,11 juta atau Rp 13,29 triliun. Dari total likuidasi, bitcoin mencapai USD 118,47 juta atau Rp 1,98 triliun.

Analis Bloomberg, Mike McGlone memperingatkan pasar dapat melemah hingga USD 10.000. Ia mengatakan, struktur bitcoin saat ini mengingatkannya pada penurunan tajam yang terjadi pada 2018, saat harganya anjlok dari USD 10.000 menjadi hampir USD 3.000.

“Pasar bisa kembali ke USD 10.000 jika tekanan berlanjut di seluruh aset berisiko,” kata McGlone.

Ia mengatakan, kenaikan pasokan token, arus masuk ETF saat akhir siklus dan kondisi makro yang memburuk mempengaruhi pasar kripto.

Ia menambahkan, sinyal volatilitas,  termasuk VIX yang berada di dekat rata-rata 200 hari dan volatilitas terealisasi S&P 500 yang turun ke level 2017, menunjukkan meningkatnya kerapuhan di pasar kripto.

“Saya tidak melihat adanya katalis yang jelas yang akan menghentikan momentum penurunan Bitcoin,” ia memperingatkan.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

CEO Ark Invest Cathie Wood Memangkas Prediksi Harga Bitcoin, Ini Penyebabnya

Sebelumnya, CEO Ark Invest, Cathie Wood memangkas prediksi harga bitcoin (BTC) dari USD 1,5 juta menjadi USD 1,2 juta per koin. Harga itu setara dari Rp 25,06 miliar menjadi Rp 20,04 miliar (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah 16.704).

Perubahan prediksi harga bitcoin dalam lima tahun ini telah memicu komentar di platform X dahulu bernama Twitter. Sejumlah pihak mempertanyakan relevansinya mengingat penurunan itu merupakan penurunan 20% untuk proyeksi kenaikan lebih dari 1.000%. Demikian mengutip Yahoo Finance, Jumat (7/11/2025).

CEO Ark Invest Cathie Wood menyampaikan prediksi harga bitcoin terbaru itu dalam acara di CNBC pada 6 November 2025. Ia menuturkan, stablecoin telah mengambilalih sebagian peran yang sebelumnya ia prediksi dimainkan bitcoin dengan skalalibilitas lebih cepat dari perkiraan.

Cathie Wood menuturkan, meningkatnya daya tarik stablecoin di negara-negara maju dan terutama pasar negara berkembang yang berfungsi sebagai dolar AS digital untuk pembayaran dan tabungan.

 

Harga Bitcoin

"Mengingat apa yang terjadi pada stablecoin. Kita mungkin bisa mengurangi sekitar USD 300.000 dari prediksi bullish itu,” ujar dia.

Hal itu merujuk pada target harga bitcoin USD 1,5 juta dalam prediksi bullish Ark Invest untuk bitcoin pada 2030 yang dipublikasikan dalam laporan ARK’s Big Ideas 2025 pada Februari 2025.

Dengan Bitcoin yang saat ini diperdagangkan sedikit di atas angka USD 100.000, prediksi bullish Ark memproyeksikan pertumbuhan 1.100%, hingga USD 1,2 juta per BTC dalam lima tahun, atau lonjakan 220% per tahun. Sebagai perbandingan, Bitcoin telah naik 630% sejak harga pembukaannya pada 1 November 2020, diperdagangkan pada harga USD 13.800 per koin.

 

Pertumbuhan Stablecoin

Adapun kapitalisasi pasar stablecoin saat ini berada pada titik tertinggi sepanjang masa di atas USD 306 miliar atau Rp 5.111 triliun, mencatat pertumbuhan eksponensial dalam lima tahun terakhir.

Pada 2 November 2020, kapitalisasi pasar kelas token ini mencapai USD 21 miliar atau Rp 350,7 triliun, menurut data DefiLlama, menunjukkan pertumbuhan 1.350% dalam periode yang sama dengan pertumbuhan BTC sebesar 630%. Mengungguli Bitcoin sebanyak 2,14 kali lipat.

Banyak perusahaan dan institusi mulai melirik penggunaan stablecoin dengan lebih optimistis dan merasakan peluang akhir-akhir ini. Nama-nama besar telah mulai bergerak memenuhi permintaan ini, seperti yang dilaporkan Coinspeaker awal tahun ini.

Pada September, Google meluncurkan platform pembayaran AI dengan dukungan stablecoin, bekerja sama dengan Coinbase dan lebih dari 60 organisasi besar. Sementara itu, Cloudflare meluncurkan NET Dollar, stablecoin yang didukung USD yang dirancang bagi agen AI untuk melakukan transaksi otomatis.

Namun, Wood tetap memandang Bitcoin sebagai "emas digital" dan aset yang solid untuk lindung nilai terhadap mata uang fiat, yang mana stablecoin yang dipatok dalam dolar memiliki keterbatasan.