Sukses

Selain Bitcoin, Harga Ether hingga Solana Ikut Lesu

Liputan6.com, Jakarta - Investor bersikap hati-hati dan tekanan jual di pasar kripto global tidak menunjukkan tanda-tanda mereda pada Sabtu, 22 Januari. Hal ini ditunjukkan dengan harga bitcoin turun 4 persen, ether susut sekitar 7 persen pada perdagangan sore di Amerika Serikat (AS).

Bitcoin, kripto terbesar berdasarkan nilai pasar sekitar USD 35.300 atau sekitar Rp 506,24 juta (asumsi kurs 14.341 per dolar AS). Jumlah itu mewakilisi penyusutan lebih dari 50 persen kapitalisasi pasar bitcoin dari level tertinggi sepanjang masa pada November 2021.

Selain itu, trader kripto juga bereaksi dengan sinyal hawkish dari bank sentral AS atau the Federal Reserve, petunjuk peraturan baru oleh Gedung Putih dan ancaman larangan di Rusia terhadap kripto.

Adapun penurunan ether, token terbesar kedua dan dalam koin yang lebih baru telah melampaui penurunan bitcoin.

Selama tujuh hari perdagangan terakhir, bitcoin susut sekitar 20 persen dibandingkan ether hampir 30 persen. Token Solana dan DeFi masing-masing turun hampir 38 persen. Harga Dogecoin merosot 30 persen dalam sepekan. Shiba Inu susut 38 persen, berdasarkan data CoinMarketCap.

“Kripto adalah aset berisiko naik turun. Ini bahkan lebih merupakan aset berisiko sekarang karena sebagian besar kapitalisasi kripto adalah Ethereum, solana dan segala macam hal lain yang pada dasarnya hanya teknologi di mana kami mengedepankan asumsi besar pertumbuhan global hingga saat ini,” ujar Leigh Drogen dari Starkiller Capital dilansir dari yahoo finance, Minggu (23/1/2022).

Sementara itu, Head of Market Insights Genesis Global Trading Inc, Noelle Acheson menuturkan, penurunan ether berarti ether bahkan lebih rentan terhadap perubahan selera risiko yang didorong makro ketimbang bitcoin.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

Harga Bitcoin Merosot

Sebelumnya, kripto melanjutkan penurunan dramatis pada perdagangan Sabtu, 22 Januari 2022. Harga bitcoin susut hampir setengah dari nilainya sejak mencapai level tertinggi pada November 2021.

Bitcoin, kripto paling berharga di dunika berdasarkan nilai pasar jatuh sekitar 8 persen dan diperdagangkan di atas USD 35.000 atau sekitar Rp 502,04 juta (asumsi kurs Rp 14.344 per dolar AS). Bitcoin mencapai posisi tertinggi USD 69.000 atau sekitar Rp 989,73 juta pada November.

Sementara itu, ether, kripto terbesar kedua berdasarkan kapitalisasi apsar merosot hampir 10 persen untuk diperdagangkan sekitar USD 2.400 atau sekitar Rp 34,42 juta. Demikian mengutip dari laman CNBC, Minggu, 23 Januari 2022.

Tekanan terhadap kripto terjadi setelah penurunan di pasar saham pada Kamis pekan ini. Kripto dan saham anjlok bersamaan pada Januari 2022. Hal ini seiring investor khawatir bagaimana antisipasi kenaikan suku bunga the Federal Reserve akan penagruhi pasar.

Bitcoin dinilai berfungsi sebagai lindung nilai terhadap kenaikan inflasi akibat dari stimulus pemerintah tetapi analis menuturkan, risikonya the Federal Reserve yang lebih hawkish dapat menekan kripto. Di sisi lain, ada juga kekhawatiran regulator AS akan menindak mata uang digital.

Sementara itu, bank sentral Rusia mengusulkan pelarangan penggunaan dan penambangan kripto pada awal pekan ini.

Pejabat menilai hal tersebut dapat menimbulkan ancaman terhadap stabilitas keuangan, kesejahterana warga dan kedaulatan kebijakan moneternya. Otoritas AS juga telah menekan aspek tertentu dari pasar.