Liputan6.com, Jakarta - Banyak orang mengira bahwa jalan menuju puncak kekayaan dan karier selalu diisi dengan jadwal yang padat, kecerdasan di atas rata-rata, dan rapat eksklusif bernilai miliaran rupiah. Padahal, jika kita menelisik lebih dalam secara akurat, ada kebiasaan orang sukses yang sering terlihat sepele namun justru menjadi fondasi utama pencapaian luar biasa mereka.
Faktanya, kesuksesan sejati bukanlah hasil dari satu gebrakan besar yang terjadi dalam semalam, melainkan akumulasi dari tindakan-tindakan kecil yang diulang secara persisten. Berbagai studi mengenai produktivitas dan psikologi perilaku menunjukkan bahwa rutinitas harian yang sangat sederhana memiliki kekuatan psikologis yang luar biasa.Â
Lantas, apa saja rutinitas harian yang sering kali diremehkan namun diterapkan secara religius oleh para tokoh dunia ternama seperti Elon Musk hingga Bill Gates? Berikut ini Liputan6.com merangkum dari berbagai sumber sepuluh kebiasaan tersembunyi yang menjadi rahasia di balik layar kehidupan para figur sukses, Rabu (7/10/2026).
Advertisement
1. Bangun Lebih Awal Tanpa Menekan Tombol Snooze
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4249212/original/004634200_1670151041-happy-beautiful-asian-woman-wake-up-smiling-stretching-her-arms-her-bed-bedroom.jpg)
Bangun pagi mungkin terdengar klise, namun menolak menekan tombol snooze pada alarm adalah bentuk disiplin pertama yang dimenangkan di hari itu. Para CEO dan pemimpin dunia menggunakan waktu ekstra di pagi hari untuk menikmati keheningan, mengumpulkan fokus sebelum dibanjiri oleh notifikasi gawai dan tuntutan pekerjaan yang tiada habisnya.
Waktu emas yang terbebas dari distraksi ini biasanya dimanfaatkan untuk meditasi, olahraga ringan, atau sekadar merencanakan agenda harian yang krusial. Ketenangan di awal hari terbukti secara ilmiah mampu menurunkan tingkat stres kortisol dan meningkatkan fokus analitis yang tajam di sisa hari kerja.
Advertisement
2. Membaca Buku Secara Konsisten
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4285243/original/071603000_1673230487-young-woman-reading-from-book-home.jpg)
Hampir semua tokoh sukses lintas generasi memiliki satu kesamaan yang mencolok, yaitu kecintaan mereka terhadap aktivitas membaca buku. Mereka tidak hanya melahap buku-buku bisnis atau investasi, tetapi juga biografi, fiksi sastra, hingga sejarah untuk terus memperluas perspektif dan melatih otot imajinasi mereka.
Membaca secara konsisten, meskipun hanya meluangkan waktu 20 menit sehari, membantu otak untuk menyerap literatur baru dan membentuk koneksi saraf yang inovatif. Inilah mengapa miliarder sekelas Warren Buffett menghabiskan sebagian besar waktu kerja hariannya hanya untuk merenung dan membaca laporan.
3. Mencatat Ide di Buku Jurnal Kecil
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4688991/original/054855500_1702789688-nulis.jpg)
Mengandalkan memori otak saja tidak pernah cukup bagi individu yang memiliki mobilitas dan produktivitas tinggi. Mereka selalu membudayakan kebiasaan membawa buku catatan fisik ukuran saku atau memanfaatkan aplikasi catatan pintar di ponsel untuk merekam gagasan, inspirasi spontan, atau tenggat waktu yang melintas.
Kebiasaan yang tampak sederhana ini menjamin tidak ada ide brilian yang menguap begitu saja saat kesibukan melanda. Selain itu, memindahkan beban ingatan ke dalam medium tulisan sangat ampuh mengurangi kecemasan mental (mental clutter) dan membebaskan kapasitas otak untuk berpikir analitis.
Advertisement
4. Menetapkan Prioritas dengan Aturan 80/20
![Atur Rencana Kerja dan Singkirkan Distraksi [Dok/freepik.com]](https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net/wds7ldOFor0WecExMi4m1xW8NwE=/640x360/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5334453/original/047243400_1756715834-flat-lay-notebook-with-list-desk.jpg)
Orang sukses mengimplementasikan Prinsip Pareto dengan sangat akurat, di mana 80 persen hasil yang maksimal sejatinya berasal dari 20 persen usaha yang paling krusial. Mereka menolak terjebak dalam kesibukan yang semu dan ilusif, melainkan sangat selektif dalam memilih proyek mana yang benar-benar memberikan esensi nyata.
Sebelum layar laptop menyala, mereka mengidentifikasi maksimal tiga tugas paling berat yang wajib diselesaikan hari itu, apa pun hambatannya. Disiplin dalam memprioritaskan hal yang mendesak membuat mereka mampu bekerja dengan taktik yang jauh lebih cerdas, bukan sekadar memforsir tenaga buta.
5. Merapikan Tempat Tidur Sendiri
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9330303/original/050068200_1787369154-125364.jpg)
Laksamana William H. McRaven pernah mempopulerkan filosofi militer bahwa merapikan tempat tidur adalah tugas pertama yang akan memicu rantai produktivitas penyelesaian tugas-tugas berikutnya. Hal ini menciptakan sebersit perasaan bangga yang akan mendorong motivasi bawah sadar untuk menaklukkan tantangan yang lebih besar.
Meskipun tampak receh, tempat tidur yang rapi mencerminkan keteraturan mental dan kendali penuh atas privasi lingkungan personal. Saat kembali ke kamar dalam kondisi penat pada malam hari, pemandangan tempat tidur yang tertata rapi akan memberikan injeksi psikologis yang mendamaikan.
Advertisement
6. Berjalan Kaki untuk Mencari Inspirasi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5243840/original/095821300_1749114950-young-woman-with-headphones-walking-park.jpg)
Duduk terpaku berjam-jam di depan komputer justru menjadi racun yang sering mematikan insting kreativitas pekerja modern. Tokoh-tokoh inovator seperti mendiang Steve Jobs hingga Mark Zuckerberg amat gemar melakukan rapat sambil berjalan santai (walking meetings) untuk mengurai benang kusut permasalahan bisnis.
Aktivitas fisik berintensitas rendah seperti berjalan kaki terbukti memompa aliran darah segar ke seluruh area otak, yang secara langsung memicu pemikiran asosiatif dan inovatif. Ini adalah bentuk jeda aktif, yang memberikan ruang bernapas bagi otak bawah sadar untuk memformulasi jalan keluar yang brilian.
7. Mendengarkan Lebih Banyak Daripada Berbicara
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4940763/original/078857600_1725937260-Ilustrasi_ngobrol__bicara__komunikasi__menyapa.jpg)
Kemampuan komunikasi yang disegani bukan sekadar diukur dari seberapa fasih seseorang merangkai retorika di depan publik. Individu yang sukses secara matang justru lebih banyak mempraktikkan seni mendengarkan aktif (active listening) ketika mereka bernegosiasi dengan tim, mentor ahli, maupun klien strategis.
Melalui proses menyimak saksama tanpa niat untuk langsung membantah, mereka menyerap informasi tersembunyi, memahami inti konflik, dan merajut relasi yang berlandaskan empati. Mereka menyadari betul bahwa berbicara hanya mengulang pengetahuan lama, sementara mendengarkan adalah pintu gerbang menuju wawasan baru.
Advertisement
8. Membatasi Keputusan-Keputusan Kecil
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9366795/original/023144800_1791277333-vitaly-gariev-H2K8EFcIfWs-unsplash.jpg)
Setiap manusia terlahir dengan ambang batas energi mental harian untuk mengambil suatu keputusan (dikenal sebagai decision fatigue). Untuk mempertahankan kewarasan pikiran, figur sukses dengan sengaja memangkas ragam pilihan remeh, seperti pakaian apa yang pantas dikenakan atau variasi menu sarapan pagi.
Fakta ini menjelaskan mengapa tokoh publik seperti Barack Obama atau almarhum Bob Sadino sering kali tampil dengan setelan pakaian yang serupa di berbagai kesempatan. Dengan menerapkan sistem otomatis pada hal-hal kecil, mereka menabung penuh kapasitas otak untuk merumuskan kebijakan yang berdampak masif.
9. Menjaga Hidrasi Tubuh Sejak Pagi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5541315/original/035116400_1774858615-creative-portrait-young-adult.jpg)
Menenggak satu hingga dua gelas air putih tepat setelah membuka mata mungkin terdengar seperti saran kesehatan usang dari dokter keluarga Anda, namun ini adalah ritual yang tak pernah dilewatkan para miliarder. Setelah tubuh puasa cairan selama fase tidur pulas, rehidrasi sangat vital untuk menghidupkan kembali sistem metabolisme.
Volume otak manusia dibentuk oleh sekitar 75 persen air, sehingga dehidrasi skala ringan saja dapat mengebiri tingkat konsentrasi, memori jangka pendek, dan kewaspadaan kognitif. Menjaga hidrasi konsisten adalah intervensi paling murah yang menjamin mesin biologis tubuh beroperasi dalam performa level elite.
Advertisement
10. Melakukan Evaluasi Diri Sebelum Tidur
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3249830/original/046342800_1601102094-pexels-andrea-piacquadio-3772712.jpg)
Tirai penutup dari sebuah hari yang sibuk tidak selalu diakhiri dengan menonton tayangan hiburan tanpa henti. Orang sukses cenderung mengalokasikan waktu sunyi sekitar 10 hingga 15 menit sebelum tidur untuk mengaudit progres diri, mengevaluasi keberhasilan, dan mengidentifikasi celah kegagalan di hari tersebut.
Praktik evaluasi retrospektif ini menumbuhkan tingkat kesadaran diri (self-awareness) yang tidak tergoyahkan dan mengunci pelajaran agar mereka tidak terperosok di lubang kesalahan yang sama. Mereka berdamai dengan kekurangan hari itu, membersihkan beban mental, dan bersiap memeluk hari esok dengan strategi yang lebih presisi.
Pertanyaan Umum Seputar Topik
Apa kebiasaan orang sukses yang paling mudah diterapkan oleh pemula?
Merapikan tempat tidur setiap pagi dan meminum segelas air putih sesaat setelah bangun adalah langkah paling mudah yang bisa mengubah pola pikir disiplin Anda secara instan.
Mengapa tokoh sukses seperti Mark Zuckerberg sering memakai baju yang sama?
Tujuannya adalah untuk menghindari decision fatigue (kelelahan mengambil keputusan), sehingga energi mental mereka utuh tersimpan untuk memecahkan masalah bisnis yang lebih besar.
Apakah saya harus melakukan kesepuluh kebiasaan ini secara bersamaan?
Tidak perlu. Idealnya, pilihlah satu atau dua kebiasaan yang paling relevan dengan rutinitas Anda saat ini, lalu jadikan itu konsisten sebelum menambahkan kebiasaan baru lainnya.
Berapa lama waktu yang dibutuhkan agar kebiasaan ini melekat?
Studi dari University College London menemukan bahwa rata-rata dibutuhkan waktu sekitar 66 hari agar sebuah tindakan baru bisa terpatri menjadi kebiasaan otomatis yang permanen.
Apakah membaca buku fiksi juga memberikan manfaat yang sama bagi kesuksesan?
Tentu saja. Membaca buku fiksi sangat efektif untuk meningkatkan rasa empati, mengasah kecerdasan emosional, dan melatih otak dalam berpikir kreatif atau out of the box.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367418/original/016331900_1791348185-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-10-07T114242.118.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5421569/original/046140800_1763950258-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2025-11-24T082534.482.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261063/original/026293200_1781677316-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-17T130056.370.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9296218/original/017054600_1784007463-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-14T123701.052.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4764675/original/048436800_1709782695-pexels-andrea-piacquadio-3756679.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364651/original/002458200_1791013905-A6_00020.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363979/original/062618200_1790927438-WhatsApp_Image_2026-10-02_at_14.34.23.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363541/original/082820800_1790873841-Foto_2.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363423/original/047017100_1790859858-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_6.58.42_PM__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362754/original/098924600_1790829492-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_09.43.00__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362269/original/040098400_1790766180-795732a8-c861-4c22-8125-6fbfa58c0b6d.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5248978/original/047488200_1749624744-Meningkatkan_Kemampuan_Komunikasi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4717897/original/046756200_1705410794-Ilustrasi_ngobrol__nongkrong__kumpul_bareng_teman.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367414/original/060438000_1791347641-4552ee9a-39cb-4acd-91bf-74ca8126b981.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367429/original/087607300_1791348180-2149607178.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355795/original/008242700_1790142079-01M34ATVVHJM12Y849T50MNEK2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367209/original/064423200_1791337144-Gemini_Generated_Image_b3blaxb3blaxb3bl.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4942667/original/082011500_1726114940-portrait-happy-asian-girl-say-hi-stops-drawing-digital-tablet-with-graphic-pen-waving-hand.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5152215/original/037201300_1741241082-WhatsApp_Image_2025-03-06_at_1.04.13_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3978108/original/042143000_1648535623-pexels-alexander-suhorucov-6457544.jpg)