Liputan6.com, Jakarta - Kenali anak dibesarkan orang tua tidak bahagia bukan berarti memberi label kepada orang tua sebagai penyebab semua masalah anak. Namun, suasana rumah yang dipenuhi konflik, ketegangan, komunikasi buruk, atau kurangnya kehangatan dapat memengaruhi cara anak memahami dirinya dan lingkungan sekitar.
Anak mungkin belum mampu menjelaskan apa yang dirasakannya. Mereka justru menunjukkannya melalui perubahan perilaku, cara berkomunikasi, prestasi di sekolah, hingga hubungan dengan orang lain.
Karena itu, orang dewasa perlu lebih peka terhadap tanda-tanda tersebut. Berikut penjelasan selengkapnya sebagaimana dilansir liputan6.com dari berbagai sumber, Selasa (6/10/2026).
Advertisement
1. Sulit Mengatakan "Tidak" dan Cenderung Menjadi People Pleaser
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3491016/original/024417900_1624441606-pexels-photo-206557.jpeg)
Melansir laman Your Tango, anak yang tumbuh bersama orang tua yang kesulitan mengelola emosinya sering ikut memikul beban emosional di rumah. Mereka belajar membaca suasana hati orang dewasa, menenangkan keadaan, dan menghindari konflik demi menjaga rumah tetap tenang.
Kebiasaan ini terbawa ke luar rumah. Mereka sulit menolak permintaan, takut mengecewakan, dan sering mengorbankan kebutuhan sendiri agar orang lain tetap senang. Di sekolah, anak seperti ini mungkin terlihat penurut dan "mudah diatur", padahal sebenarnya sedang cemas jika ada yang kecewa kepadanya. Saat dewasa, pola ini bisa membuat mereka kewalahan karena terus mengiyakan permintaan, bahkan ketika sudah kelelahan.
Advertisement
2. Rendah Diri
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3525830/original/066115400_1627617814-pexels-rodnae-productions-6936342.jpg)
Melansir laman Psychology Today, banyak penyintas mengalami perasaan tidak berharga atau merasa dirinya tidak cukup baik. Hal ini dapat muncul akibat kritik yang terus-menerus atau kurangnya perhatian dan dukungan emosional selama masa kanak-kanak.
Anak belum punya kemampuan menilai bahwa masalah mungkin ada pada situasi di rumah. Yang mereka simpulkan biasanya sederhana: "pasti ada yang salah dengan aku." Kesimpulan ini bisa menetap menjadi suara batin yang keras. Anak jadi sulit menerima pujian, mudah membandingkan diri dengan orang lain, dan merasa pencapaiannya tidak pernah cukup. Pada usia dewasa, rasa rendah diri ini dapat memengaruhi keberanian mengambil peluang, baik dalam karier maupun hubungan.
3. Cenderung Mengisolasi Diri
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4690850/original/083836000_1702945563-portrait-tired-girl-her-office-desk.jpg)
Tumbuh di lingkungan yang kacau atau penuh kekerasan bisa menimbulkan rasa terasing. Ketika rumah yang seharusnya menjadi tempat aman justru terasa menakutkan dan tanpa dukungan emosional, anak bisa merasa terputus dari orang lain.
Dampaknya dapat terbawa ke sekolah, pertemanan, bahkan dunia kerja saat dewasa. Sebagian orang merasa tidak dipahami dan sulit percaya pada orang lain karena takut dihakimi atau ditolak.
Anak mungkin lebih memilih menyendiri di kamar, menolak ajakan bermain, atau jarang bercerita. Menarik diri terasa lebih aman daripada mengambil risiko terluka lagi, meski akibatnya mereka kehilangan dukungan sosial yang sangat dibutuhkan.
Advertisement
4. Selalu Merasa Sesuatu yang Buruk Akan Terjadi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4751731/original/068414100_1708738616-portrait-little-girl-with-teddy-bear-blurred-background-interior-room.jpg)
Sebagian penyintas membawa perasaan waspada ini hingga dewasa, seolah-olah hal buruk akan segera datang. Perasaan itu bisa muncul meski tidak ada ancaman nyata. Seorang klien yang diceritakan penulisnya, misalnya, sudah berusia 40 tahun tetapi masih merasa akan mendapat masalah setiap saat.
Di rumah yang tidak stabil, anak belajar bahwa suasana bisa berubah drastis tanpa peringatan. Tubuh dan pikirannya terbiasa siaga. Pada anak, ini tampak sebagai sikap mudah kaget, sulit rileks, atau terlalu berhati-hati. Saat dewasa, kewaspadaan tersebut bisa berubah menjadi kecemasan yang sulit dijelaskan, bahkan ketika hidup sedang baik-baik saja.
5. Suka Memendam Perasaan Sendiri
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3974139/original/013655800_1648124435-caleb-woods-VZILDYoqn_U-unsplash.jpg)
Anak yang merasa perasaannya tidak didengar, diremehkan, atau malah memicu pertengkaran akan belajar menyimpan semuanya sendiri. Dari luar mereka tampak tenang atau "baik-baik saja".
Memendam bukan berarti perasaan itu hilang. Emosi yang tidak tersalurkan bisa keluar dalam bentuk lain, seperti sakit perut, sulit tidur, mudah marah, atau tiba-tiba menangis tanpa sebab jelas.
Saat kita berusaha mengenali anak dibesarkan orang tua tidak bahagia, kebiasaan memendam ini sering menjadi petunjuk yang paling mudah terlewat karena anak tidak menimbulkan masalah yang terlihat. Justru anak yang terlalu "tidak merepotkan" layak diperhatikan lebih dekat.
Advertisement
6. Meragukan Dirinya Sendiri
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4845167/original/029876300_1716883044-IMG_1334.jpeg)
Kritik berlebihan, tuntutan yang berubah-ubah, atau perasaan yang selalu dianggap salah membuat anak tidak percaya pada penilaiannya sendiri. Ketika apa yang dirasakan terus dibantah, anak mulai bertanya apakah perasaannya valid.
Saat dewasa, mereka sulit mengambil keputusan, sering meminta validasi dari orang lain, dan mudah merasa keputusannya keliru. Hal-hal kecil seperti memilih menu makan atau menjawab pesan bisa terasa melelahkan karena mereka takut salah. Berbeda dengan rendah diri yang berkaitan dengan nilai diri, keraguan ini lebih berkaitan dengan kepercayaan pada kemampuan menilai dan memutuskan.
7. Sulit Meminta Bantuan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2843891/original/018274600_1562156772-boy-child-childhood-235554.jpg)
Jika sejak kecil permintaan tolong dibalas dengan pengabaian, kemarahan, atau penilaian negatif, anak belajar bahwa lebih aman mengurus semuanya sendiri. Mereka tumbuh menjadi pribadi yang tampak mandiri dan tangguh.
Namun, kemandirian ini sering lahir dari rasa takut, bukan pilihan bebas. Mereka enggan bergantung pada siapa pun karena khawatir merepotkan atau ditolak. Akibatnya, mereka bisa menanggung beban berat sendirian di sekolah, kantor, maupun keluarga sampai benar-benar kewalahan. Orang di sekitar pun sering tidak sadar bahwa mereka sebenarnya butuh dukungan.
Advertisement
8. Kesulitan Mengatur Emosi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5110626/original/086902500_1737976278-Kontrol_anak.jpg)
Anak belajar mengelola emosi dengan meniru dan dibimbing orang dewasa. Bila di rumah emosi diledakkan, ditekan, atau diabaikan, mereka kehilangan contoh yang sehat tentang cara menenangkan diri.
Akibatnya, reaksi mereka bisa ekstrem. Ada yang mudah meledak atau sangat sensitif terhadap hal kecil, ada pula yang justru mati rasa dan sulit mengenali perasaannya sendiri. Kemampuan mengatur emosi sebenarnya bisa dipelajari kapan saja, tetapi anak yang tidak pernah diajari membutuhkan waktu, kesabaran, dan lingkungan yang aman untuk berlatih.
9. Sulit Mempercayai Orang Lain
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4110702/original/033378100_1659433813-pexels-yan-krukov-8617515.jpg)
Ketidakstabilan dan pengalaman dikhianati sejak kecil dapat membuat seseorang menganggap orang lain tidak dapat diandalkan atau tidak aman. Janji yang sering diingkari, rahasia yang dibocorkan, atau kasih sayang yang datang dan pergi membuat anak belajar bahwa kepercayaan itu berisiko.
Pola ini terbawa hingga dewasa dan menyulitkan mereka membangun hubungan yang sehat, aman, dan penuh kepercayaan. Mereka mungkin selalu curiga terhadap niat orang, menjaga jarak, atau mengetes kesetiaan pasangan dan teman. Ironisnya, sikap protektif ini justru bisa menjauhkan mereka dari hubungan hangat yang sebenarnya mereka butuhkan.
Advertisement
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Kenali Anak Dibesarkan Orang Tua Tidak Bahagia
1. Apakah mengenali anak dibesarkan orang tua tidak bahagia berarti menyalahkan orang tua?
Tidak. Tujuannya memahami pengaruh suasana rumah terhadap anak agar mereka bisa mendapat dukungan yang tepat.
2. Mengapa anak jarang mengungkapkan perasaannya secara langsung?
Mereka belum mampu menjelaskannya, sehingga perasaan itu muncul lewat perilaku, cara berkomunikasi, prestasi sekolah, dan hubungan sosial.
3. Apa tanda yang paling sering terlewat?
Memendam perasaan dan sulit meminta bantuan, karena anak tampak tenang dan mandiri sehingga tidak terlihat bermasalah.
4. Apakah dampaknya bisa terbawa sampai dewasa?
Ya. Rendah diri, rasa cemas akan hal buruk, dan sulit percaya pada orang lain dapat terbawa ke pertemanan, pekerjaan, dan hubungan dekat.
5. Apa yang bisa dilakukan jika tanda-tanda ini muncul?
Hadir sebagai pendengar yang aman tanpa menghakimi, dan cari bantuan psikolog atau konselor bila dampaknya mengganggu kehidupan sehari-hari.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9366610/original/070754600_1791272536-cek_fakta_wayan_koster.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5497006/original/077149700_1770612558-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-09T114656.423.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3579753/original/089827300_1632296561-InternetMati1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5561710/original/027708500_1776757647-cek_fakta_bansos_ibu_hamil.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5211886/original/002578200_1746599832-non-explicit-image-child-abuse.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364651/original/002458200_1791013905-A6_00020.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363979/original/062618200_1790927438-WhatsApp_Image_2026-10-02_at_14.34.23.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363541/original/082820800_1790873841-Foto_2.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363423/original/047017100_1790859858-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_6.58.42_PM__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362754/original/098924600_1790829492-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_09.43.00__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362269/original/040098400_1790766180-795732a8-c861-4c22-8125-6fbfa58c0b6d.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9361300/original/000394000_1790692999-WhatsApp_Image_2026-09-29_at_9.36.27_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360089/original/_Langkah_Membumi_mengajak_mahasiswa_mempraktikkan_pemilahan_sampah_berdasarkan_kategori_organik__anorganik_dan_residu_dalam_Waste_Sorting_Competition_yang_berlangsung_sepanjang_Bulan_September_202.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9366495/original/028565700_1791269199-pexels-ivan-s-6799972.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9366382/original/083256200_1791264226-pexels-shkrabaanthony-5466274.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4934327/original/017108500_1725253540-friends-telling-secrets.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5326833/original/064224500_1756113249-pexels-cottonbro-6951509.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9365660/original/059374400_1791187783-323897aa-49b5-4f8c-aaf8-751cdd7dfa8d.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5345754/original/062927100_1757572341-pexels-fotios-photos-1092671.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9365889/original/030382500_1791200337-Gemini_Generated_Image_psgidwpsgidwpsgi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9365923/original/041329900_1791203194-pexels-mart-production-8801036.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4949434/original/079535900_1726894645-pexels-david-manzyk-253085053-20425010.jpg)