Liputan6.com, Jakarta - Perkataan seseorang terkadang dapat memberikan petunjuk tentang bagaimana ia memandang dirinya sendiri dan orang lain. Bukan berarti satu kalimat tertentu otomatis menunjukkan seseorang egois, tetapi pola komunikasi yang terus berulang dapat memperlihatkan kecenderungan untuk lebih mengutamakan kepentingan, perasaan, atau sudut pandangnya sendiri.
Orang yang cenderung egois atau terlalu berpusat pada diri sendiri biasanya tidak selalu mengucapkan sesuatu yang kasar. Justru, sikap tersebut dapat muncul melalui percakapan sederhana, seperti ketika seseorang terus mengembalikan topik pembicaraan kepada dirinya, sulit memberikan ruang bagi orang lain, atau menganggap kebutuhan orang lain tidak sepenting kebutuhannya sendiri.
Karena itu, 7 ciri orang egois dari perkataannya berikut sebaiknya dipahami sebagai pola yang perlu diamati, bukan sebagai alat untuk langsung memberikan label kepada seseorang. Konteks, frekuensi, hubungan, dan situasi ketika perkataan tersebut muncul tetap penting untuk diperhatikan. Lantas bagaimana ciri orang egois dari perkataannya? Melansir dari berbagai sumber, Kamis (24/9/2026), simak ulasan informaisnya berikut ini.
Advertisement
1. “Aku juga pernah mengalami yang lebih berat”
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9351589/original/075056800_1789705618-Gemini_Generated_Image_2ophcn2ophcn2oph.jpg)
Salah satu pola perkataan yang patut diperhatikan adalah ketika seseorang hampir selalu membandingkan pengalaman orang lain dengan pengalaman dirinya sendiri. Misalnya, ketika seseorang sedang bercerita tentang masalah yang sedang dihadapi, bukannya memberikan kesempatan untuk didengarkan, orang tersebut justru segera mengatakan bahwa dirinya pernah mengalami masalah yang lebih berat.
Sesekali menceritakan pengalaman pribadi sebenarnya merupakan bagian normal dari percakapan. Masalahnya muncul ketika pola tersebut terjadi berulang kali dan membuat cerita orang lain seolah tidak lagi memiliki ruang. Alih-alih mendengarkan terlebih dahulu, perhatian percakapan segera dipindahkan kepada pengalaman pribadi.
Pola ini sejalan dengan pembahasan mengenai orang yang terlalu self-centered dalam Psychology Today. Psikolog Andrea Bonior, Ph.D. menjelaskan bahwa orang yang self-absorbed dapat begitu tenggelam dalam perasaan atau pengalamannya sendiri sehingga kurang memperhatikan respons lawan bicara dalam percakapan. Dengan kata lain, yang perlu diperhatikan bukan satu kali seseorang bercerita tentang dirinya, melainkan kecenderungan percakapan yang terus-menerus kembali berpusat kepadanya.
Advertisement
2. “Kalau aku tidak mau, ya tidak perlu dilakukan”
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9351587/original/062926100_1789705618-1.jpg)
Orang yang memiliki kecenderungan egois terkadang menunjukkan pola komunikasi yang menempatkan keinginannya sebagai ukuran utama dalam mengambil keputusan. Kalimat seperti ini dapat muncul ketika ada keputusan yang seharusnya dibicarakan bersama, tetapi seseorang menganggap keinginannya sudah cukup untuk menentukan hasil akhir.
Dalam hubungan pertemanan, keluarga, maupun pasangan, perbedaan keinginan sebenarnya merupakan hal yang wajar. Yang menjadi perhatian adalah ketika seseorang terus menganggap keinginannya harus menjadi prioritas dan tidak memberikan ruang yang cukup bagi kebutuhan orang lain.
Psikolog klinis Dr. Ramani Durvasula, Ph.D., yang juga profesor psikologi, menjelaskan bahwa pola narsistik antara lain dapat melibatkan entitlement, self-centeredness, kebutuhan akan validasi, serta rendah atau tidak konsistennya empati. Ia juga menekankan pentingnya melihat pola perilaku, bukan menggunakan istilah narsistik secara sembarangan untuk setiap orang yang terkadang bersikap egois.
3. “Kamu terlalu sensitif”
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5222449/original/020921800_1747394716-steptodown.com899462.jpg)
Kalimat tersebut dapat memiliki banyak konteks. Seseorang mungkin mengucapkannya karena memang tidak memahami perasaan lawan bicara, tetapi kalimat ini juga bisa menjadi pola yang membuat perasaan orang lain terus-menerus dianggap berlebihan.
Jika seseorang menyampaikan bahwa perkataan atau tindakan tertentu membuatnya tersinggung, respons yang sehat tidak harus selalu berupa persetujuan. Namun, masih ada perbedaan antara mengatakan bahwa seseorang memiliki sudut pandang berbeda dengan langsung menolak atau meremehkan perasaan yang disampaikan.
Dalam pembahasan mengenai komunikasi narsistik di Psychology Today, pola seperti menolak perasaan orang lain dan kurang memberikan validasi disebut sebagai salah satu karakteristik komunikasi yang perlu diperhatikan. Namun, artikel tersebut juga mengingatkan bahwa seseorang yang sesekali melakukan hal tersebut tidak otomatis memiliki gangguan kepribadian narsistik. Yang lebih penting adalah pola yang menetap dan berulang.
Advertisement
4. “Aku sudah melakukan banyak hal untukmu, jadi kamu harus…”
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5067624/original/044670300_1735274911-1735271503743_kata-sindiran-buat-suami-yg-egois.jpg)
Perkataan yang mengaitkan kebaikan atau bantuan dengan kewajiban orang lain dapat menunjukkan pola hubungan yang terasa transaksional. Misalnya, seseorang terus mengingatkan bantuan yang pernah diberikannya kemudian menjadikannya alasan agar orang lain memenuhi keinginannya.
Memberikan bantuan tentu tidak selalu berarti seseorang memiliki niat buruk. Dalam hubungan yang sehat pun, orang dapat mengingat kontribusi masing-masing. Yang perlu diperhatikan adalah ketika bantuan tersebut berulang kali digunakan sebagai alat untuk mendapatkan kepatuhan, rasa berutang, atau hak istimewa.
Dr. Ramani Durvasula menjelaskan bahwa entitlement dan kecenderungan mengutamakan kepentingan sendiri merupakan bagian yang dapat muncul dalam pola narsistik. Ia juga membahas bagaimana kebutuhan untuk mendapatkan sesuatu dari orang lain dapat memengaruhi cara seseorang berinteraksi. Karena itu, perkataan semacam ini sebaiknya dilihat bersama perilaku lain, bukan dijadikan bukti tunggal mengenai kepribadian seseorang.
5. “Sudahlah, yang penting aku dapat yang aku mau”
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4746923/original/051009000_1708336088-young-woman-white-hoodie-posing-mirror.jpg)
Kalimat yang menunjukkan bahwa hasil akhir harus sesuai dengan keinginan pribadi juga dapat menjadi petunjuk adanya pola mementingkan diri sendiri. Terlebih jika seseorang mengucapkannya setelah orang lain menjelaskan kebutuhan, keberatan, atau dampak dari keputusan tersebut.
Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang tentu memiliki kebutuhan pribadi dan tidak harus selalu mengalah. Menjaga kepentingan diri sendiri juga berbeda dengan egois. Perbedaannya dapat terlihat dari kemampuan untuk tetap mempertimbangkan kepentingan orang lain ketika mengambil keputusan.
Penelitian mengenai psychological selfishness mendefinisikan keegoisan sebagai situasi ketika seseorang ingin memperoleh manfaat bagi dirinya sendiri sambil mengabaikan keinginan orang lain atau harapan sosial yang relevan dalam situasi tersebut. Artinya, konteks sangat penting. Keinginan untuk mendapatkan sesuatu bagi diri sendiri belum tentu egois apabila kebutuhan dan kepentingan pihak lain tetap dipertimbangkan.
Advertisement
6. “Masalahmu jangan dibawa-bawa ke aku”
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3107177/original/096058300_1587378543-beauty-blur-cold-cute-206481.jpg)
Seseorang memang tidak selalu mampu menjadi tempat curhat setiap saat. Ada kondisi ketika seseorang sedang lelah, sibuk, atau membutuhkan ruang pribadi. Karena itu, menolak percakapan pada satu kesempatan tidak otomatis berarti egois.
Namun, apabila seseorang secara konsisten menuntut orang lain mendengarkan masalahnya, sementara ia hampir selalu menolak ketika orang lain membutuhkan perhatian, pola tersebut dapat menunjukkan hubungan komunikasi yang tidak seimbang. Perkataan menjadi salah satu petunjuk karena memperlihatkan bagaimana seseorang merespons kebutuhan emosional orang lain.
Dr. Ramani Durvasula menekankan pentingnya melihat kapasitas empati dan timbal balik dalam hubungan. Dalam penjelasannya tentang narsisme, ia menggambarkan pola yang terlalu berpusat pada diri sendiri sebagai kecenderungan untuk lebih sibuk dengan pengalaman pribadi dan kurang memperhatikan pengalaman orang lain. Namun, sekali lagi, pola seperti ini perlu dilihat secara konsisten dan tidak boleh langsung disamakan dengan diagnosis tertentu.
7. “Aku memang begini, kamu saja yang harus mengerti”
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3915268/original/005389800_1643184937-pexels-cottonbro-8427595_1_.jpg)
Kalimat seperti ini dapat menjadi tanda bahwa seseorang tidak terlalu terbuka terhadap evaluasi atau perubahan dalam cara berinteraksi. Terutama jika kalimat tersebut digunakan setiap kali orang lain menyampaikan bahwa perilakunya menimbulkan masalah.
Setiap orang memang memiliki karakter dan batasan masing-masing. Tidak semua kritik juga benar, sehingga seseorang berhak mempertahankan pendapatnya. Namun, hubungan yang sehat tetap membutuhkan kemampuan untuk mendengarkan, melakukan refleksi, dan mempertimbangkan dampak perkataan maupun tindakan terhadap orang lain.
Dr. Ramani Durvasula juga menekankan pentingnya membedakan antara gaya kepribadian, sifat narsistik, dan diagnosis gangguan kepribadian. Ia menjelaskan bahwa narsisme merupakan pola yang dapat mencakup entitlement, grandiosity, kebutuhan akan validasi, self-centeredness, serta masalah empati. Karena itu, perkataan seperti “aku memang begini” baru lebih bermakna ketika menjadi bagian dari pola yang terus berulang dan disertai penolakan terhadap tanggung jawab atau perspektif orang lain.
Advertisement
Jangan Menilai Seseorang Hanya dari Satu Kalimat
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9348076/original/087274300_1789380807-4.jpg)
Perkataan memang dapat memberikan petunjuk mengenai pola komunikasi, tetapi tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seseorang pasti egois. Orang dapat berbicara dengan cara yang berbeda ketika sedang lelah, stres, marah, menghadapi masalah, atau berada dalam situasi tertentu.
Dalam psikologi, penting membedakan antara perilaku egois yang sesekali muncul dan pola kepribadian yang berlangsung secara konsisten. Bahkan sumber Psychology Today yang membahas selfishness juga menekankan bahwa selfishness dan narcissism bukanlah hal yang sama. Keegoisan dapat muncul sesekali, sedangkan narsisme melibatkan pola yang lebih konsisten dan persoalan empati yang lebih luas.
Karena itu, jika ingin memahami apakah seseorang memang memiliki kecenderungan egois, perhatikan pola yang lebih luas: apakah ia mampu mendengarkan, mempertimbangkan kebutuhan orang lain, menerima masukan, mengakui kesalahan, dan menunjukkan empati. Perkataan hanyalah salah satu bagian dari gambaran tersebut.
Pertanyaan & Jawaban Seputar Ciri Orang Egois dari Perkataannya
1. Apakah orang egois bisa dikenali hanya dari perkataannya?
Tidak selalu. Perkataan hanya dapat menjadi salah satu petunjuk mengenai pola komunikasi seseorang. Untuk memahami apakah seseorang cenderung egois, perlu diperhatikan perilaku dan pola interaksinya secara keseluruhan, bukan hanya satu atau dua kalimat yang pernah diucapkan.
2. Apa ciri perkataan orang yang cenderung egois?
Beberapa pola yang dapat diperhatikan antara lain sering mengembalikan pembicaraan kepada dirinya sendiri, sulit mempertimbangkan sudut pandang orang lain, menganggap keinginannya harus didahulukan, atau meremehkan perasaan orang lain. Namun, pola tersebut perlu terjadi berulang dan dilihat berdasarkan konteks.
3. Apakah orang yang sering membicarakan dirinya sendiri berarti egois?
Belum tentu. Menceritakan pengalaman pribadi merupakan bagian normal dalam percakapan. Hal tersebut baru patut diperhatikan jika seseorang hampir selalu menjadikan dirinya sebagai pusat pembicaraan dan tidak memberikan ruang yang cukup bagi orang lain untuk bercerita atau menyampaikan pendapat.
4. Apakah orang egois sama dengan orang narsistik?
Tidak sama. Egois dapat merujuk pada perilaku yang lebih mengutamakan kepentingan diri sendiri dalam situasi tertentu, sedangkan narsisme merupakan istilah psikologis yang memiliki pengertian lebih spesifik. Karena itu, seseorang tidak dapat disebut narsistik hanya berdasarkan beberapa perkataan atau perilaku yang dianggap egois.
5. Bagaimana cara menghadapi orang yang cenderung egois?
Tetapkan batasan yang jelas, sampaikan kebutuhan secara langsung, dan perhatikan apakah orang tersebut bersedia mendengarkan serta mempertimbangkan sudut pandang Anda. Jika pola komunikasi terus membuat hubungan tidak seimbang, menjaga jarak atau membatasi topik tertentu dapat menjadi pilihan yang sesuai dengan situasinya.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356940/original/051953100_1790227062-HOAX__20_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356963/original/076849000_1790227753-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-24T122607.841.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9348780/original/066704200_1789457937-cek_fakta_-_pekerja_migran.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9337193/original/082818200_1788236451-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-01T111508.347.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3345103/original/025914400_1610265459-disgusted-woman-raise-palm-stop-refusing-offer_176420-17699.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356800/original/077671500_1790221190-WhatsApp_Image_2026-09-24_at_09.33.18.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9332646/original/012342700_1787713788-e321c65d-e224-4b30-b5f9-c7dc77968345.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3940632/original/006857000_1645419592-caterpillar_6020b_equipina.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355283/original/019472000_1790097211-WhatsApp_Image_2026-09-23_at_00.04.59.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350795/original/061905200_1789630521-ChatGPT_Image_17_Sep_2026__14.15.53.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4647050/original/096680300_1699881296-Tempat_Sampah.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9347871/original/082698900_1789371708-ChatGPT_Image_14_Sep_2026__14.36.52.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9352169/original/056693800_1789732852-Foto_1_credit_WWF-Indonesia_Ilham_Andriansyah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346285/original/094214300_1789120119-file_0000000047f882308af83e40b22f096a.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1176605/original/028391000_1458444646-20160319-Earth-Hour-di-kawasan-Bundaran-HI-Fanani-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3929526/original/096494900_1644470631-jesse-schoff-Ph2KtIqKs7c-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9349154/original/070984700_1789475303-WhatsApp_Image_2026-09-15_at_7.23.17_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9305534/original/006051300_1784796642-b3LMlSX7cvmNiwqlKPCtCOnAwE1lxtv98JVvQ9B0.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3459188/original/022683600_1621386808-cowomen-cKQkMFzXHAI-unsplash_Fotor.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4694981/original/059163000_1703214208-Ilustrasi_pernikahan__menikah__Islami.jpg)