7 Ciri Orang yang Selalu Ingin Dipuji, Baginya Pengakuan Begitu Berarti

Kenali 7 ciri orang yang selalu ingin dipuji, mulai dari sulit menerima kritik hingga kebiasaan mencari validasi lewat media sosial.

Diterbitkan 23 September 2026, 19:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ciri orang yang selalu ingin dipuji sebenarnya bisa dikenali dari beberapa pola perilaku yang cukup konsisten muncul dalam keseharian mereka. Menurut psikiater Timothy Jeider sebagaimana dikutip Psych Central, sebagian orang memang mengandalkan persetujuan dari orang lain untuk memperkuat rasa berharga dalam dirinya. Ketika rasa berharga itu sedang goyah atau tidak stabil, mereka cenderung mencari validasi dari lingkungan sekitar sebagai pijakan untuk merasa cukup baik.

Kebutuhan akan pujian ini tidak selalu tampak berlebihan di permukaan, tapi kalau diperhatikan lebih dalam, ada sejumlah tanda yang bisa jadi petunjuk. Berikut 7 ciri orang yang cenderung selalu ingin dipuji, sebagaimana dilansir liputan6.com dari berbagai sumber, Rabu (23/9/2026).

1. Menghindari Risiko karena Takut Mengecewakan Orang Lain

Menurut laman Bolde, mengambil risiko membutuhkan keyakinan yang kuat terhadap kemampuan diri sendiri. Namun, orang yang terlalu bergantung pada pujian sering kali ragu-ragu di setiap pengambilan keputusan karena khawatir kehilangan pengakuan atau membuat orang lain kecewa terhadap pilihannya.

Rasa takut gagal pada tipe orang ini bukan sekadar soal target yang tidak tercapai, tapi juga terasa seperti ancaman terhadap siapa dirinya sebenarnya. Akibatnya, keberanian untuk bereksperimen dan mencoba hal baru jadi tersendat, karena mereka lebih memilih jalan aman yang berpeluang besar dipuji dibanding pilihan yang benar-benar mencerminkan keinginan pribadinya.

Di balik kecenderungan ini, sering tersembunyi kekhawatiran akan ditolak secara sosial. Saat pujian dijadikan tolok ukur utama rasa berharga, kehilangan pujian bisa terasa seperti kehilangan tempat di tengah kelompok atau lingkungan sosialnya.

2. Sulit Menerima Kritik

Dilansir dari laman Notes Read, saat seseorang terlalu bergantung pada pujian, masukan atau kritik yang bersifat negatif bisa dianggap sebagai serangan terhadap identitas dan citra diri yang selama ini susah payah dibangun. Bukan isi kritiknya saja yang jadi soal, tapi hilangnya rasa aman yang tadinya didapat dari pengakuan orang lain.

Harga diri yang rapuh semacam ini membuat proses belajar dan berkembang jadi lebih berat, sebab rasa takut ditolak jauh lebih besar dibanding dorongan untuk memperbaiki diri. Kondisi ini sering membuat seseorang menutup diri atau justru bereaksi berlebihan begitu menerima masukan yang sebenarnya jujur dan membangun.

Pada akhirnya, sikap ini bisa membuat orang tersebut makin menjauh dari lingkungan sekitarnya. Secara psikologis, penjelasannya cukup sederhana: ketika kepercayaan diri terlalu bergantung pada pujian, kritik terasa seperti serangan pribadi, bukan kesempatan untuk tumbuh lebih baik.

3. Cemas Ketika Tidak Mendapatkan Cukup Perhatian

Orang dengan kebutuhan tinggi akan pujian biasanya juga mudah merasa gelisah saat perhatian dari orang sekitarnya berkurang, meski hanya untuk sementara waktu. Kecemasan ini muncul karena mereka terbiasa mengukur nilai dirinya lewat seberapa banyak sorotan yang mereka dapatkan dari lingkungan.

Ketika sedang berada di tengah orang banyak namun tidak mendapat komentar atau apresiasi seperti biasanya, mereka bisa merasa gelisah, tidak nyaman, bahkan mempertanyakan apakah ada yang salah dengan dirinya. Perasaan ini sering muncul tanpa alasan yang jelas, murni karena kurangnya "asupan" perhatian yang biasa mereka andalkan.

Kecemasan semacam ini pada akhirnya bisa mendorong mereka melakukan berbagai cara untuk kembali mendapatkan sorotan, mulai dari mencari topik pembicaraan yang menonjolkan diri hingga secara tidak sadar menciptakan situasi yang membuat orang lain kembali memperhatikan mereka.

4. Ketergantungan pada Pengakuan Eksternal

Ciri lain yang cukup mencolok adalah kecenderungan untuk terus mencari validasi dari luar dirinya, alih-alih membangun rasa percaya diri dari dalam. Setiap keputusan, penampilan, atau pencapaian terasa belum lengkap sebelum ada orang lain yang mengonfirmasi bahwa hal tersebut memang baik atau layak dibanggakan.

Pola pikir ini membuat harga diri mereka jadi sangat rapuh, karena bergantung sepenuhnya pada penilaian orang lain yang sifatnya berubah-ubah dan di luar kendali. Ketika pengakuan itu tidak kunjung datang, muncul perasaan hampa atau tidak cukup baik, meski sebenarnya tidak ada yang salah dengan apa yang telah mereka lakukan.

Ketergantungan semacam ini juga membuat mereka rentan terhadap manipulasi, karena orang lain bisa dengan mudah memengaruhi suasana hati mereka hanya lewat pujian atau penolakan sederhana.

5. NPD, Ciri Lain yang Perlu Diwaspadai

Kebutuhan berlebihan akan pujian dalam beberapa kasus juga berkaitan dengan gangguan kepribadian narsistik atau NPD, meski tentu tidak semua orang yang senang dipuji mengalami kondisi ini. Perbedaannya terletak pada intensitas dan dampaknya terhadap hubungan dengan orang lain.

Pada NPD, kebutuhan akan pengakuan biasanya disertai rasa berhak mendapatkan perlakuan istimewa serta kesulitan berempati terhadap perasaan orang lain. Pujian bukan sekadar dinikmati, tapi dianggap sebagai sesuatu yang memang seharusnya diterima secara terus-menerus.

Karena garis antara kebutuhan validasi yang wajar dan gejala NPD bisa cukup tipis, penting untuk tidak buru-buru melabeli diri sendiri atau orang lain. Jika kecenderungan ini sudah cukup mengganggu hubungan atau kehidupan sehari-hari, berkonsultasi dengan profesional kesehatan mental bisa membantu memahami kondisi ini lebih jelas.

6. Lebih Sering Membanggakan Diri daripada Berbagi

Masih dilansir dari laman Bolde, ada perbedaan mendasar antara merayakan sebuah pencapaian dan menceritakannya semata-mata demi mendapat pujian. Jika seseorang terus-menerus menonjolkan keberhasilan dirinya hanya untuk memancing apresiasi, hal itu bisa jadi tanda adanya kebutuhan besar terhadap pengakuan dari luar.

Kebiasaan ini justru berpotensi membuat orang-orang di sekitarnya perlahan menjauh, karena percakapan yang seharusnya dua arah malah terus berpusat pada penghargaan yang mereka cari. Pada akhirnya, mereka bisa terjebak dalam siklus mengejar tepuk tangan tanpa pernah benar-benar merasa puas secara mendalam. Berbagi cerita dengan tulus biasanya justru mempererat hubungan, sementara terus-menerus membanggakan diri malah cenderung menciptakan jarak dengan orang-orang terdekat.

7. Sering Mencari Validasi lewat Media Sosial

Di era digital, kebutuhan akan pujian juga sering terlihat dari kebiasaan mengecek jumlah like, komentar, atau reaksi di media sosial secara berulang-ulang. Bagi sebagian orang, angka-angka ini seolah menjadi cermin seberapa berharga dan diterima diri mereka di mata orang lain.

Ketika unggahan tidak mendapat respons sebanyak yang diharapkan, muncul rasa kecewa atau bahkan cemas, meski sebenarnya tidak ada hubungan langsung antara jumlah interaksi dengan nilai diri seseorang yang sesungguhnya. Kondisi ini bisa mendorong seseorang untuk terus-menerus memposting konten demi mengejar reaksi positif dari orang lain.

Cara Menyikapi Orang yang Sering Membutuhkan Pujian

Menghadapi seseorang yang memiliki banyak tanda tersebut tidak harus dilakukan dengan memberikan kritik secara langsung. Cobalah memberikan apresiasi secara wajar tanpa memperkuat kebiasaan mencari validasi secara berlebihan.

Jika perilakunya mulai mengganggu hubungan, komunikasi yang terbuka dan tidak menghakimi dapat membantu. Penting juga untuk mengingat bahwa perilaku mencari pujian dapat memiliki berbagai penyebab dan tidak cukup untuk digunakan sebagai dasar memberikan label psikologis tertentu.

Kebiasaan ini pada akhirnya menunjukkan bagaimana ciri orang yang selalu ingin dipuji bisa beradaptasi mengikuti perkembangan zaman, dari sekadar butuh pengakuan langsung hingga bergantung pada validasi digital yang sifatnya sekilas dan mudah berubah.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Ciri Orang yang Selalu Ingin Dipuji

1. Apa penyebab utama seseorang selalu ingin dipuji?

Menurut Psych Central, hal ini biasanya terjadi karena rasa berharga dalam diri yang goyah, sehingga seseorang mencari validasi dari lingkungan sekitar.

2. Kenapa orang yang butuh pujian sulit menerima kritik?

Karena kritik dianggap mengancam identitas dan citra diri yang sudah dibangun, sehingga terasa seperti serangan pribadi, bukan masukan untuk berkembang.

3. Apakah selalu ingin dipuji sama dengan gangguan kepribadian narsistik?

Tidak selalu. NPD memiliki intensitas dan dampak yang lebih besar terhadap hubungan sosial dibanding sekadar kebutuhan validasi yang wajar.

4. Apa dampak dari kebiasaan sering membanggakan diri?

Kebiasaan ini bisa membuat orang lain menjauh, karena hubungan yang seharusnya saling berbagi malah berpusat pada pengakuan semata.