8 Ciri Orang Caper dan Haus Validasi, Penyebab, hingga Cara Mengatasinya

Ciri orang caper dan haus validasi bisa terlihat dari perilaku sehari-hari. Simak 8 cirinya, kemungkinan penyebab, dan cara penanganannya.

Diterbitkan 24 September 2026, 14:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Seseorang dapat menunjukkan perilaku yang bertujuan mendapatkan perhatian, baik positif maupun negatif, dalam berbagai situasi. Fenomena mencari perhatian ini tidak hanya terjadi pada anak-anak, tetapi juga umum ditemukan pada orang dewasa, dan kerap terlihat dalam aktivitas sehari-hari.

Perilaku ini bisa jadi memiliki penyebab mendasar yang kompleks, seperti gangguan kepribadian tertentu pada orang dewasa. Dalam beberapa kasus, tindakan mencari perhatian justru merupakan sinyal seseorang sedang membutuhkan bantuan atau dukungan. Untuk memahami lebih dalam, artikel ini akan mengulas delapan ciri utama orang yang caper dan haus validasi, kemungkinan pemicunya, serta berbagai opsi penanganan yang tersedia, sebagaimana dihimpun dari beragam sumber, Kamis(24/9/2026).

1. Bersikap Terlalu Dramatis

Melansir Medical News Today, emosi yang dipertontonkan secara berlebihan di ruang publik bisa menjadi cara seseorang merebut sorotan. Reaksinya biasanya jauh melampaui kadar situasi yang sebenarnya, sehingga persoalan sepele diceritakan seakan musibah besar.

Tujuannya sering kali agar orang di sekitar menoleh dan memberi tanggapan. Perilaku ini dilakukan secara sengaja demi perhatian, bukan sekadar karena kepribadiannya ekspresif.

2. Senang Berbicara tentang Dirinya Sendiri

Menurut Your Tango, orang dengan kecenderungan ini menempatkan diri sebagai poros segalanya, seakan orang lain hanyalah pelengkap dalam ceritanya. Obrolan selalu ia tarik kembali ke topik tentang dirinya, sementara lawan bicara nyaris tidak diberi ruang untuk bersuara.Sikap egois ini membuat orang lain merasa tidak didengar dan kurang dihargai. Lama-kelamaan, orang pun enggan berlama-lama mengobrol dengannya.

3. Kebiasaan Berbohong tentang Hal-hal Kecil

Sebagian orang membumbui cerita dengan kebohongan kecil agar terdengar lebih menarik atau lebih hebat. Contohnya melebih-lebihkan pengalaman, kenalan, atau pencapaian yang sebenarnya biasa saja.

Motifnya biasanya bukan untuk merugikan orang lain, melainkan supaya dirinya dipandang istimewa. Jika terus dilakukan, kebiasaan ini bisa merusak kepercayaan orang di sekitarnya.

4. Merasa Diabaikan ketika Tidak Menjadi Pusat Perhatian

Salah satu ciri orang caper dan haus validasi yang paling kentara adalah rasa tidak nyaman saat perhatian beralih ke orang lain. Ketika teman dipuji atau menjadi topik pembicaraan, mereka bisa merasa tersisih.

Reaksinya beragam, misalnya menjadi murung, menyindir, atau tiba-tiba mengalihkan pembicaraan kembali kepada dirinya. Perasaan diabaikan ini muncul karena harga dirinya bergantung pada seberapa besar perhatian yang ia terima.

5. Suka Mencari Pujian

Orang yang haus validasi kerap memancing pujian, misalnya dengan merendahkan diri agar dibantah, atau menanyakan pendapat orang lain tentang penampilan dan hasil kerjanya berulang kali. Pujian menjadi semacam asupan yang harus terus diisi ulang.

Tanpa pujian, mereka merasa kurang berharga atau tidak yakin dengan apa yang telah dilakukan. Kebutuhan ini bisa terasa melelahkan bagi orang-orang di sekitarnya.

6. Sering Memamerkan Kehidupan Pribadi di Media Sosial

Media sosial sering menjadi panggung bagi mereka yang haus pengakuan. Unggahan tentang pencapaian, barang baru, hingga masalah pribadi dibagikan secara terus-menerus dengan harapan mendapat likes dan komentar.

Jumlah respons dari orang lain lalu dijadikan tolok ukur nilai diri. Ketika unggahan sepi tanggapan, suasana hati mereka pun bisa ikut turun.

7. Sulit Menerima Kritik

Karena harga dirinya bertumpu pada penilaian orang lain, kritik sering terasa seperti serangan pribadi. Mereka bisa langsung defensif, tersinggung, atau menarik diri saat mendengar masukan, bahkan yang disampaikan dengan baik.

Padahal, kritik yang membangun sebenarnya berguna untuk berkembang. Ketidakmampuan menerimanya membuat mereka sulit belajar dari kesalahan dan mudah bermasalah dalam hubungan kerja maupun pertemanan.

8. Terus-Menerus Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Menurut Impossible Psychological Services, kebiasaan menakar diri lewat prestasi, penampilan, atau kesuksesan orang lain bisa menjadi salah satu ciri orang caper dan haus validasi. Kebiasaan ini kemungkinan muncul karena nilai diri diukur dengan standar dari luar, lalu pengakuan dicari lewat perasaan lebih unggul. Sayangnya, kepuasan dari cara ini biasanya singkat karena selalu ada orang yang tampak lebih baik.

Mengapa Seseorang Suka Mencari Perhatian?

Laman Impossible Psychological Services menyebut bahwa dorongan mencari perhatian bisa berasal dari berbagai faktor, di antaranya:

  • Harga diri yang rendah. Seseorang baru merasa berharga kalau diakui oleh orang lain.

  • Gangguan kepribadian tertentu. Misalnya gangguan kepribadian histrionik.

  • Kesepian. Minimnya relasi sosial atau kedekatan emosional mendorong seseorang mencari perhatian dari lingkungannya.

  • Cemas dan merasa tidak aman. Rasa tidak aman membuat seseorang terus butuh diyakinkan dan divalidasi.

  • Kebutuhan emosional yang belum terpenuhi. Mencari perhatian kadang menjadi cara tidak langsung untuk meminta dukungan.

 

Bagaimana Cara Mengatasi Perilaku Caper?

Langkah penanganan disesuaikan dengan akar masalahnya. Bila perilaku ini terkait persoalan psikologis atau gangguan kepribadian, psikoterapi bisa menjadi pilihan.

Lewat terapi, seseorang diajak mengenali dirinya dan pola perilakunya, menyadari efek tindakannya pada orang lain, serta belajar mengelola emosi dan situasi yang menekan.  Bila berkaitan dengan trauma, kekerasan, kehilangan, atau pengalaman berat lainnya, pendampingan tenaga kesehatan mental dapat membantu proses pemulihannya.

Pada anak, orang tua perlu menggali apa yang sebenarnya dibutuhkan anak di balik tingkahnya. Anak sering belum bisa menyampaikan langsung bahwa ia kesepian, takut, sedih, atau merasa kurang diperhatikan. Dengan memahami hal itu, orang tua bisa merespons dengan tepat, tidak sekadar menegur atau menempelkan label "caper".

Pertanyaan dan Jawaban Singkat Seputar Ciri Orang Caper dan Haus Validasi

1. Apa itu perilaku caper?

Perilaku yang bertujuan mendapatkan perhatian, baik positif maupun negatif, dan bisa muncul pada anak maupun orang dewasa.

2. Apa saja contoh ciri orang caper dan haus validasi?

Bersikap dramatis, senang membicarakan diri sendiri, berbohong soal hal kecil, merasa diabaikan saat bukan pusat perhatian, suka mencari pujian, pamer di media sosial, sulit menerima kritik, dan sering membandingkan diri dengan orang lain.

3. Apa penyebab seseorang suka mencari perhatian?

Bisa karena rasa percaya diri rendah, gangguan kepribadian tertentu seperti histrionik, kesepian, rasa cemas dan tidak aman, atau kebutuhan emosional yang belum terpenuhi.

4. Apakah perilaku caper selalu berarti gangguan kepribadian?

Tidak selalu. Perilaku ini bisa berkaitan dengan banyak hal, dan diagnosis hanya dapat ditentukan oleh tenaga profesional.

5. Bagaimana cara mengatasinya?

Bergantung pada penyebabnya. Psikoterapi atau bantuan profesional kesehatan mental bisa membantu, sedangkan pada anak, orang tua perlu memahami kebutuhan di balik perilakunya.