Liputan6.com, Jakarta - Dalam kehidupan sehari-hari, berinteraksi bersama teman, pasangan, keluarga, atau rekan kerja tidak selalu terasa mudah. Ada kalanya seseorang lebih mengutamakan kepentingan pribadi, sulit menerima pendapat lain, atau kurang memikirkan dampak ucapannya. Memahami cara mengenali orang egois, membantu kita melihat pola perilaku secara lebih jernih, tanpa terburu-buru memberi label negatif kepada orang lain.
Sikap egois bisa terlihat dari kebiasaan mendominasi percakapan, menuntut semua hal mengikuti keinginannya, atau menyalahkan orang lain saat muncul masalah. Perilaku semacam ini berpotensi membuat interaksi terasa berat sebelah dan memicu konflik berkepanjangan. Oleh sebab itu, cara mengenali orang egois perlu berangkat dari pengamatan terhadap kebiasaan berulang, bukan sekadar kesan pertama atau satu kejadian sesaat.
Memahami karakter seseorang juga membantu kita menentukan respons secara lebih bijak saat menghadapi interaksi tidak sehat. Kita dapat belajar menyampaikan keberatan, menetapkan batas pribadi dan menjaga kesejahteraan emosional tanpa harus memperuncing konflik. Dengan mempelajari cara mengenali orang egois, kita juga bisa membangun hubungan lebih seimbang, saling menghormati dan memberi ruang bagi setiap pihak, untuk menyampaikan kebutuhan maupun perasaannya.
Advertisement
Berikut ulasan lengkap yang Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Kamis (15/10/2026).
1. Sering Mendominasi Pembicaraan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4771856/original/057781800_1710389275-Ilustrasi_ngobrol__komunikasi_di_kantor__tempat_kerja.jpg)
Salah satu cara mengenali orang egois adalah memperhatikan bagaimana mereka berkomunikasi. Orang yang cenderung egois sering mengarahkan percakapan kembali kepada dirinya sendiri, mulai dari pengalaman pribadi, prestasi, masalah pekerjaan, hingga berbagai hal yang sedang dialami. Ketika orang lain mulai bercerita, mereka mungkin segera menyela atau mengalihkan topik agar perhatian kembali tertuju kepada dirinya. Akibatnya, lawan bicara tidak memiliki cukup kesempatan untuk menyampaikan pikiran maupun perasaannya.
Sebagai contoh, ketika seorang teman menceritakan masalah pekerjaan, orang tersebut justru memotong pembicaraan untuk membahas kesulitannya sendiri tanpa menanggapi cerita temannya terlebih dahulu. Perlu diingat, banyak berbicara tidak otomatis berarti egois. Hal yang perlu diperhatikan adalah apakah seseorang secara konsisten mengabaikan giliran bicara, tidak menunjukkan ketertarikan terhadap cerita orang lain, dan hanya ingin didengarkan tanpa bersedia mendengarkan.
2. Kurang Mempertimbangkan Perasaan Orang Lain
Ciri orang egois berikutnya adalah kurang mempertimbangkan dampak perilakunya terhadap orang lain. Mereka mungkin lebih berfokus pada apa yang diinginkan atau dirasakan sendiri daripada mencoba memahami sudut pandang orang lain. Misalnya, seseorang membatalkan janji secara mendadak tanpa memberi kabar yang memadai. Ketika temannya merasa kecewa, ia justru menganggap reaksi tersebut berlebihan dan tidak berusaha memahami mengapa orang lain merasa dirugikan.
Kemampuan memahami perasaan orang lain dikenal sebagai empati. Dalam hubungan yang sehat, empati membantu seseorang menyadari bahwa tindakan yang terasa sepele baginya bisa berdampak besar bagi orang lain. Meski demikian, kesulitan menunjukkan empati dalam satu situasi tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seseorang egois. Perhatikan apakah perilaku tersebut terus berulang dan apakah ia bersedia mendengarkan ketika dampak tindakannya dijelaskan.
Advertisement
3. Selalu Ingin Segala Sesuatu Berjalan Sesuai Keinginannya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5485936/original/031920100_1769570208-david-veksler-KH-nptRWtBo-unsplash.jpg)
Orang yang cenderung egois sering mengalami kesulitan ketika harus menerima pilihan yang berbeda dari keinginannya sendiri. Mereka mungkin ingin menentukan tempat makan, memilih film, mengatur jadwal pertemuan, atau mengambil keputusan bersama tanpa memberikan ruang yang seimbang bagi orang lain.
Sebagai contoh, saat pergi bersama teman, ia selalu memilih restoran sesuai seleranya. Ketika orang lain mengusulkan tempat berbeda, ia langsung menolak tanpa mempertimbangkan alasan atau kebutuhan anggota kelompok lainnya.
Sikap ini bisa membuat hubungan terasa tidak adil, terutama jika satu pihak terus-menerus harus mengalah demi menghindari konflik.
Dalam hubungan yang sehat, setiap orang memiliki kesempatan untuk menyampaikan pendapat dan mencari jalan tengah. Tidak semua keinginan harus dipenuhi, tetapi keputusan bersama sebaiknya mempertimbangkan kebutuhan pihak-pihak yang terlibat.
4. Mudah Menyalahkan Orang Lain
Orang egois juga dapat menunjukkan kecenderungan untuk melempar tanggung jawab ketika melakukan kesalahan. Alih-alih mengakui perannya dalam suatu masalah, mereka mungkin mencari alasan untuk membenarkan tindakan sendiri atau menjadikan orang lain sebagai penyebab utama. Misalnya, ketika pekerjaan kelompok tidak selesai tepat waktu, ia menyalahkan anggota lain tanpa mengakui bahwa dirinya juga terlambat menyelesaikan tugas.
Kebiasaan seperti ini dapat menghambat penyelesaian masalah. Diskusi yang seharusnya berfokus pada perbaikan justru berubah menjadi pertengkaran mengenai siapa yang paling bersalah.
Seseorang tidak harus selalu menganggap dirinya salah untuk menunjukkan kedewasaan. Akan tetapi, kesediaan mengakui kesalahan, mendengarkan masukan, dan memperbaiki perilaku merupakan bagian penting dari hubungan yang sehat. Jika seseorang terus-menerus menyalahkan orang lain dan menolak bertanggung jawab atas tindakannya, pola tersebut patut diperhatikan.
5. Selalu Ingin Menjadi Pusat Perhatian
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4684371/original/079513300_1702440645-Ilustrasi_orang_egois__egoisme__toxic__konflik.jpg)
Keinginan mendapatkan perhatian merupakan hal yang wajar. Setiap orang sesekali ingin didengarkan, dihargai, atau memperoleh pengakuan atas pencapaiannya. Namun, sikap ini bisa menjadi masalah ketika seseorang terus berusaha mengalihkan perhatian kepada dirinya sendiri. Contohnya, saat seorang teman membagikan kabar baik, ia langsung menceritakan pencapaiannya sendiri agar terlihat lebih hebat. Dalam percakapan kelompok, ia mungkin menyela cerita orang lain atau merasa tidak nyaman ketika seseorang mendapat perhatian lebih besar.
Perilaku seperti ini dapat membuat orang di sekitarnya merasa kurang dihargai. Mereka mungkin merasa bahwa pengalaman dan keberhasilan pribadi tidak pernah mendapatkan ruang yang cukup. Untuk mengenali pola tersebut, perhatikan apakah seseorang mampu memberikan perhatian secara tulus kepada orang lain atau justru selalu mencari cara untuk mengembalikan sorotan kepada dirinya.
6. Suka Mengatur Hubungan Sosial Orang Lain
Sikap egois juga dapat terlihat melalui keinginan mengontrol keputusan sosial orang lain. Seseorang mungkin mencoba menentukan siapa yang boleh diundang ke suatu acara, dengan siapa temannya boleh bergaul, atau hubungan mana yang dianggap pantas dipertahankan. Sebagai contoh, ia meminta temannya tidak mengundang seseorang ke pesta hanya karena dirinya tidak menyukai orang tersebut. Permintaan ini menjadi semakin bermasalah ketika disertai tekanan, ancaman, atau upaya membuat temannya merasa bersalah jika tidak menuruti keinginannya.
Setiap orang memang boleh menyampaikan ketidaknyamanan atau menetapkan batasan pribadi. Namun, ada perbedaan antara mengungkapkan perasaan dan memaksakan keputusan kepada orang lain. Dalam pertemanan yang sehat, seseorang dapat menyatakan keberatan tanpa harus mengendalikan hubungan sosial orang lain. Jika keinginan mengatur disertai upaya membatasi kebebasan, mengisolasi, atau menekan orang lain, perilaku tersebut perlu mendapat perhatian lebih serius.
Advertisement
7. Meminta Orang Lain Terus Bersabar, tetapi Tidak Melakukan Perubahan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5326913/original/039961100_1756114887-pexels-karolina-grabowska-6255877.jpg)
Ciri lainnya adalah sering meminta pengertian dari orang lain tanpa menunjukkan usaha yang seimbang untuk memperbaiki perilaku sendiri.
Sebagai contoh, seseorang berulang kali datang terlambat dan selalu meminta teman-temannya bersabar. Ia menganggap keterlambatan tersebut sebagai hal biasa, sementara waktu orang lain tidak dipertimbangkan secara serius.
Hal serupa dapat muncul dalam hubungan ketika seseorang terus meminta dimaklumi atas janji yang dilanggar, komunikasi yang buruk, atau kebiasaan mengabaikan kesepakatan.
Meminta pengertian sebenarnya bukan tindakan egois. Setiap orang dapat mengalami kesulitan atau membutuhkan kelonggaran dalam situasi tertentu. Masalah muncul ketika pengertian selalu dituntut dari satu pihak, sedangkan pihak lain tidak bersedia bertanggung jawab atau melakukan perubahan.
Hubungan yang sehat membutuhkan timbal balik. Kesabaran perlu disertai komunikasi jujur, penghormatan terhadap waktu orang lain, dan upaya nyata untuk memperbaiki kebiasaan.
Â
Â
Pertanyaan Seputar Cara Mengenali Orang Egois dalam Kehidupan Sehari-hari
Bagaimana cara mengenali orang egois?
Orang egois biasanya menunjukkan pola perilaku berupa kecenderungan mengutamakan kepentingan sendiri, sulit mempertimbangkan perasaan orang lain, dan ingin keputusan berjalan sesuai keinginannya.
Apa saja ciri-ciri orang egois yang paling mudah dikenali?
Beberapa ciri yang dapat diperhatikan meliputi sering mendominasi pembicaraan, kurang menunjukkan empati, sulit berkompromi serta mudah menyalahkan orang lain
Mengapa orang egois cenderung mengutamakan dirinya sendiri?
Perilaku tersebut dapat dipengaruhi berbagai hal, seperti kebiasaan sejak kecil, pola komunikasi dalam keluarga, kebutuhan akan pengakuan, atau kesulitan memahami perspektif orang lain.
Apakah orang yang sering membicarakan dirinya sendiri termasuk egois?
Belum tentu. Seseorang mungkin banyak bercerita karena antusias, gugup, atau merasa dekat dengan lawan bicara.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346108/original/077588800_1789110397-cek_fakta_cpns_imigrasi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374518/original/013435400_1792054116-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-10-15T154739.817.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374250/original/004232300_1792041603-HOAX__35_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374273/original/056682000_1792043129-cek_fakta_-_kejaksaan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3345103/original/025914400_1610265459-disgusted-woman-raise-palm-stop-refusing-offer_176420-17699.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3345103/original/025914400_1610265459-disgusted-woman-raise-palm-stop-refusing-offer_176420-17699.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9305531/original/072424800_1784796638-6ku7A3y5oBpcey8N7nbwbY5eXrd4tzTNLjN0KuXx.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5215985/original/076146200_1746934959-pexels-cottonbro-6566831.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4940763/original/078857600_1725937260-Ilustrasi_ngobrol__bicara__komunikasi__menyapa.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4095081/original/000633600_1658311465-pexels-kindel-media-8550841.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5530606/original/075592700_1773465028-34262.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5127770/original/082608800_1739182169-Komunikasi_pasangan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9320339/original/055931900_1786345832-138994.jpg)