Liputan6.com, Jakarta - Pernah bertemu teman atau kerabat yang gemar menceritakan kisah yang sama berulang kali? Di balik kebiasaan itu, ada ciri kepribadian orang suka mengulang cerita yang sama yang menarik untuk dikenali.
Melansir dari Your Tango, orang yang sering mengulang cerita biasanya punya alasan, mulai dari mencari pengakuan, mengenang masa indah, hingga membagikan pelajaran hidup. Profesor Dan P. McAdams dari Northwestern University menyebut kisah-kisah itu sebagai narrative identity, yakni cerita tentang siapa diri seseorang yang terus disusun untuk memahami hidup.
Penelitian Nigel Gopie dan Colin M. MacLeod berjudul Destination Memory: Stop Me if I've Told You This Before (2009) juga menunjukkan bahwa manusia memang sulit mengingat kepada siapa ia sudah bercerita. Berikut adalah ciri kepribadian orang suka mengulang cerita yang sama dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Kamis (15/10/2026).
Advertisement
1. Suka Bernostalgia
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3474733/original/046058700_1623030314-brooke-cagle-TxSVqNgnjq4-unsplash_Fotor_Fotor.jpg)
Kenangan indah membuat seseorang merasa nyaman. Bagi orang yang mudah bernostalgia, menceritakan masa sekolah atau masa kecil bersama teman lama terasa seperti dibungkus selimut hangat, sehingga kisah itu mudah muncul kembali dalam obrolan.
Dalam tulisan di Psychology Today, Allen R. McConnell, Ph.D., dari Miami University, menjelaskan bahwa nostalgia dapat memperbaiki suasana hati, mengurangi rasa kesepian, dan memperkuat rasa terhubung dengan orang lain. Ia merujuk penelitian Wildschut dan kawan-kawan (2006) yang menemukan bahwa orang kerap bernostalgia saat menghadapi peristiwa pahit atau merasa sendirian.
McConnell menyebut nostalgia sebagai emosi yang bercampur, yaitu rasa rindu pada masa lalu yang tidak bisa kembali sehingga ada senang sekaligus sedih. Karena itu, cerita lama yang terus diulang bisa menjadi cara menenangkan diri sekaligus mendekat kepada orang tersayang. Bagi pendengar, kisah yang sudah hafal sekalipun dapat menjadi tanda bahwa si pencerita sedang ingin dekat.
Advertisement
2. Peka dan Empatik
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5365616/original/024581000_1759202135-pexels-thirdman-7659460.jpg)
Orang yang peka dan empatik merasakan sesuatu secara mendalam. Jika suatu kejadian memengaruhi mereka, baik menyenangkan maupun menyedihkan, mereka perlu menceritakannya kembali untuk mengolah perasaan tersebut.
Your Tango menyebut orang yang sangat peka juga lebih sulit mengingat kepada siapa mereka sudah bercerita, yang dikenal sebagai destination memory. Akibatnya, mereka bisa lupa sudah pernah membagikan kisah yang sama, terutama saat emosinya sedang meningkat.
Studi Gopie dan MacLeod (2009) menemukan bahwa mengingat kepada siapa kita sudah bercerita memang lebih rapuh daripada mengingat dari siapa kita mendengar suatu informasi. Peneliti juga menemukan bahwa bercerita tentang diri sendiri membuat ingatan itu makin sulit, sehingga hal ini bisa dialami siapa pun.
3. Kurang Percaya Diri dan Butuh Pengakuan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5186445/original/087011000_1744607059-young-couple-man-woman-clenching-fists-happy-excited-standing-blue-wall.jpg)
Salah satu alasan orang mengulang cerita adalah mencari pengakuan, terutama jika kisah itu menyangkut kesulitan atau masalah yang belum selesai. Mereka butuh mendengar tanggapan orang lain berkali-kali untuk merasa yakin bahwa cara mereka menilai kejadian dan bersikap sudah tepat.
Menurut Your Tango, setiap kali bercerita kembali, rasa percaya diri mereka bertambah sedikit, apalagi bila pendengar memberi dukungan. Cerita itu juga menjadi pengingat bagi pendengar tentang bagaimana si pencerita bersikap pada masa lalu dan bagaimana ia ingin dikenal. Pola ini terutama tampak pada kisah yang menyangkut kesulitan atau urusan yang belum tuntas.
Konsep narrative identity dari McAdams menjelaskan bahwa seseorang terus menyusun kisah hidupnya demi menemukan makna. Karena itu, mendengarkan dengan sabar dapat membuat mereka merasa dihargai.
Advertisement
4. Mudah Merasa Kesepian
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3355479/original/097107300_1611214279-sam-farallon-Ij_wbhqjdrc-unsplash.jpg)
Orang yang bertambah usia dapat terbiasa mengulang cerita karena dunia pergaulannya terasa makin sempit. Saat hari-hari tidak lagi sepadat dulu, kisah lama menjadi lebih berharga sehingga lebih sering diceritakan.
Your Tango menilai kebiasaan ini menjadi cara menghubungkan masa lalu dengan masa kini serta menjaga agar mereka tetap merasa relevan. Pandangan itu sejalan dengan temuan di Psychology Today yang mengaitkan nostalgia dengan berkurangnya rasa kesepian.
Dalam situasi ini, pendengar tidak perlu menganggapnya sebagai gangguan. Kehadiran dan perhatian sering kali lebih mereka butuhkan daripada isi ceritanya.
5. Mudah Bosan dan Ingin Menghadirkan Keseruan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5256714/original/017008500_1750248484-Toleransi_dalam_pertemanan_seru.jpg)
Ada pula orang yang mengulang cerita karena kisahnya memang seru. Saat hidup terasa datar, mereka mengeluarkan kenangan terbaiknya untuk menghadirkan kembali kegembiraan.
Menurut Your Tango, mereka ingin ikut berkontribusi dalam percakapan tanpa harus berbohong. Maka, mereka memilih cerita yang sudah terbukti menarik, meski lawan bicara mungkin pernah mendengarnya.
Dalam banyak kasus, tujuannya sederhana, yaitu membuat suasana lebih hidup. Kisah yang lucu atau mengejutkan terasa aman dipakai kapan saja untuk mencairkan obrolan, terutama saat bertemu orang yang belum akrab atau ketika pembicaraan mulai sepi.
Advertisement
6. Rajin Berbagi dan Suka Membantu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5168440/original/016302000_1742445987-female-friends-taking-books-from-library-drinking-coffee.jpg)
Terkadang, orang mengulang cerita untuk menyampaikan kembali pelajaran yang ia peroleh dari sebuah pengalaman. Cara ini mirip dongeng anak yang selalu dibacakan ulang karena memuat pesan di akhir kisah.
Profesor Adam Galinsky dari Columbia Business School, seperti dikutip Your Tango, menjelaskan bahwa pengulangan menciptakan rasa lancar atau fluency yang meningkatkan pemahaman serta penilaian terhadap kebenaran, nilai, dan keabsahan sebuah informasi. Dengan begitu, pendengar terus menyerap detail dan bisa menangkap hal yang terlewat pada cerita pertama.
Orang dengan ciri ini biasanya bercerita dengan niat baik. Mereka ingin orang lain tidak mengulang kesalahan yang pernah mereka alami, sehingga pesan dalam cerita itu terus diingatkan, terutama kepada anak, adik, atau rekan yang lebih muda.
7. Suka Merenung dan Berpikir Mendalam
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5215985/original/076146200_1746934959-pexels-cottonbro-6566831.jpg)
Mengulang cerita dapat menjadi cara berpikir. Dengan menceritakannya lagi, seseorang bisa menelaah kisah itu lebih jauh, memahami konteksnya, dan mungkin memperbaiki pandangannya sendiri.
Buku Repeating Words, Retelling Stories: Repetition, Variation, and Serial Significance in Literature karya Antonio Rossini dan Christos Strubakos memang membahas karya sastra, tetapi gagasannya dikutip Your Tango untuk menjelaskan kebiasaan ini. Menurut buku tersebut, pengulangan tidak hanya menguatkan suatu konsep, tetapi juga dapat melahirkan makna baru lewat kontras, penahapan, dan koreksi.
Dengan kata lain, setiap kali bercerita, seseorang bisa menemukan sudut pandang baru. Proses ini mirip memecahkan masalah secara langsung bersama lawan bicara.
Kapan Kebiasaan Mengulang Cerita Perlu Diwaspadai?
Mengulang cerita sesekali adalah hal wajar. Namun, Kementerian Kesehatan RI melalui laman kemkes.go.id mencantumkan menanyakan dan menceritakan hal yang sama berulang kali, bersama sering lupa kejadian yang baru terjadi dan lupa janji, sebagai gejala umum demensia Alzheimer.
Laman Kemenkes lain tentang demensia juga mencantumkan bahasa yang berulang, misalnya mengajukan pertanyaan yang sama berulang kali, sebagai salah satu tanda dan gejala. Kemenkes juga menyebut deteksi dini memberikan hasil yang jauh lebih baik. Bila kebiasaan ini muncul sangat sering dan disertai lupa kejadian baru atau kesulitan beraktivitas, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter.
Informasi ini bukan pengganti pemeriksaan profesional. Perubahan yang tiba-tiba pada seseorang yang sebelumnya jarang mengulang cerita juga layak diperhatikan keluarga.
Advertisement
Cara Bijak Menanggapi Orang yang Suka Mengulang Cerita
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1153031/original/052592800_1456373409-ngobrol.jpg)
Memahami ciri kepribadian orang suka mengulang cerita yang sama membantu pendengar bersikap lebih sabar. Jika ceritanya membawa kenangan bahagia, dengarkan dengan tenang dan tanggapi dengan hangat, seolah baru mendengarnya.
Anda juga bisa menanyakan detail baru, misalnya perasaan saat kejadian itu berlangsung. Pertanyaan semacam ini membuat obrolan lebih segar dan membantu si pencerita merasa dihargai. Jika kebiasaan itu terasa mengganggu, sampaikan dengan lembut, misalnya dengan mengatakan bahwa Anda ingin mendengar kabar terbaru mereka.
Bagi yang gemar bercerita, Memory Key menjelaskan bahwa menyebut nama lawan bicara saat bercerita dapat membantu mengingat kepada siapa informasi sudah disampaikan. Cara lain adalah meminta lawan bicara menghentikan cerita bila mereka sudah pernah mendengarnya.
Pada akhirnya, ciri kepribadian orang suka mengulang cerita yang sama tidak bisa disimpulkan dari satu sifat saja. Setiap orang punya alasan berbeda, sehingga memahami latar belakangnya lebih bermanfaat daripada langsung menilai atau menghindari mereka.
Pertanyaan dan Jawaban Ciri Kepribadian Orang Suka Mengulang Cerita yang Sama
1. Apa penyebab orang suka mengulang cerita yang sama?
Penyebabnya beragam, mulai dari nostalgia, kebutuhan akan pengakuan, rasa kesepian, keinginan berbagi pelajaran, hingga menganggap kisahnya seru. Menurut Your Tango, setiap orang bisa punya alasan yang berbeda.
2. Mengapa orang bisa lupa sudah pernah bercerita?
Hal ini berkaitan dengan destination memory, yaitu kemampuan mengingat kepada siapa seseorang sudah menyampaikan informasi. Studi Gopie dan MacLeod (2009) menemukan bahwa kemampuan ini lebih mudah keliru dibanding mengingat dari siapa informasi diterima.
3. Apakah suka mengulang cerita pasti tanda pikun?
Tidak selalu. Kemenkes mencantumkan kebiasaan ini sebagai salah satu gejala umum demensia Alzheimer bila terjadi berulang kali bersama gejala lain, seperti sering lupa kejadian baru. Jika khawatir, konsultasikan dengan dokter.
4. Bagaimana cara menanggapi orang yang suka mengulang cerita?
Dengarkan dengan sabar dan tanggapi dengan hangat, terutama bila ceritanya membawa kenangan bahagia. Menanyakan detail baru juga dapat membuat obrolan terasa lebih segar.
5. Bagaimana agar tidak mengulang cerita kepada orang yang sama?
Memory Key menjelaskan bahwa menyebut nama lawan bicara saat bercerita dapat membantu mengingat kepada siapa informasi sudah disampaikan. Selain itu, mintalah lawan bicara menghentikan cerita bila mereka sudah pernah mendengarnya.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374518/original/013435400_1792054116-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-10-15T154739.817.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374250/original/004232300_1792041603-HOAX__35_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374273/original/056682000_1792043129-cek_fakta_-_kejaksaan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3033050/original/073846700_1580099128-20200127--Melihat-Tes-SKD-CPNS-di-Jakarta-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4940763/original/078857600_1725937260-Ilustrasi_ngobrol__bicara__komunikasi__menyapa.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364651/original/002458200_1791013905-A6_00020.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9320339/original/055931900_1786345832-138994.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3151472/original/076091900_1591977163-sad-thinking-young-woman-standing-isolated_171337-18048.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4594412/original/065286900_1696151263-woman-hand-holding-smart-phone-blank-screen-copy-space-hand-holding-smartphone-isolated-white-background_1_.jpg)