Liputan6.com, Jakarta - Mendengarkan orang lain bukan sekadar diam ketika seseorang berbicara. Cara seseorang menyimak cerita, merespons perkataan, hingga memberikan ruang bagi lawan bicara untuk mengungkapkan perasaan dapat memengaruhi kualitas komunikasi dan hubungan.
Salah satu keterampilan yang bisa diterapkan adalah active listening atau mendengarkan secara aktif. Mengutip Verywell Mind, keterampilan ini melibatkan perhatian penuh, pemahaman terhadap pesan verbal maupun nonverbal, serta respons yang menunjukkan ketertarikan dan empati. Kebiasaan tersebut dapat membantu lawan bicara merasa didengar dan dipahami.
Terdapat beberapa kebiasaan lain saat mendengarkan yang bisa membuat orang lain merasa dihargai, dilansir Liputan6.com dari laman Verywell Mind, Kamis (15/10).
1. Memberikan Perhatian Penuh kepada Lawan Bicara
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4984091/original/066941400_1730181985-pexels-ekaterina-bolovtsova-4051137.jpg)
Salah satu kebiasaan saat mendengarkan yang bisa membuat orang lain merasa dihargai adalah memberikan perhatian penuh selama percakapan. Ketika seseorang sedang bercerita, hindari memeriksa ponsel, membaca notifikasi, atau membiarkan pikiran terus beralih ke hal lain. Fokus pada perkataan lawan bicara membantu memahami pesan yang ingin disampaikan secara lebih utuh.
Perhatian penuh juga berarti berusaha memahami sudut pandang orang lain, bukan hanya menunggu giliran untuk berbicara. Dengan menyimak secara saksama, seseorang memiliki kesempatan lebih besar untuk menangkap maksud dan perasaan yang menyertai cerita tersebut.
Kebiasaan ini dapat menunjukkan bahwa cerita lawan bicara layak mendapatkan waktu dan perhatian. Meski tidak harus selalu memberikan jawaban panjang, kehadiran yang tulus selama percakapan bisa membuat interaksi terasa lebih nyaman.
Advertisement
2. Memperhatikan Bahasa Tubuh dan Ekspresi Wajah
Komunikasi tidak hanya berlangsung melalui kata-kata. Gerakan tubuh, ekspresi wajah, anggukan, dan cara seseorang menyampaikan kalimat juga dapat memberikan petunjuk tentang perasaan atau maksud yang ingin diungkapkan.
Saat mendengarkan, tunjukkan bahasa tubuh yang terbuka dan tidak terkesan menolak percakapan. Misalnya, menghadap ke arah lawan bicara, mengangguk pada saat yang sesuai, serta menunjukkan ekspresi yang selaras dengan situasi. Respons tersebut dapat membantu percakapan terasa lebih hangat dan menunjukkan bahwa cerita orang lain diperhatikan.
Namun, bahasa tubuh perlu dipahami sesuai konteks. Seseorang yang berbicara cepat belum tentu sedang gugup, begitu pula ekspresi wajah tertentu tidak selalu mencerminkan perasaan yang sama pada setiap orang. Karena itu, perhatikan isyarat nonverbal tanpa terburu-buru menyimpulkan apa yang sedang dirasakan lawan bicara.
3. Menjaga Kontak Mata Sewajarnya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4580975/original/000436500_1695116463-yolanda-suen-7niGqACEMvE-unsplash.jpg)
Kontak mata dapat membantu menunjukkan bahwa seseorang sedang menyimak percakapan. Ketika dilakukan secara wajar, kebiasaan ini dapat memberi kesan bahwa perhatian tidak terbagi dan lawan bicara memiliki ruang untuk menyampaikan pikirannya.
Meski demikian, menjaga kontak mata bukan berarti harus terus menatap tanpa jeda. Tatapan yang terlalu intens justru bisa membuat sebagian orang merasa tidak nyaman. Sesekali mengalihkan pandangan secara alami tetap bisa menjadi bagian dari percakapan yang normal.
Hal terpenting adalah menyesuaikan kontak mata dengan situasi dan kenyamanan masing-masing orang. Perhatian juga dapat ditunjukkan melalui cara merespons, sikap tubuh, dan kesediaan menyimak sampai lawan bicara selesai berbicara.
Advertisement
4. Mengajukan Pertanyaan yang Membuka Ruang Bercerita
Mengajukan pertanyaan yang tepat dapat menunjukkan bahwa seseorang benar-benar tertarik pada cerita lawan bicara. Alih-alih hanya memberikan pertanyaan yang jawabannya sebatas ya atau tidak, cobalah menggunakan pertanyaan terbuka yang mendorong orang lain menjelaskan pengalaman atau pemikirannya dengan lebih leluasa.
Misalnya, ketika teman menceritakan pengalaman yang mengecewakan, seseorang bisa bertanya, "Bagian mana yang paling membuat kamu kecewa?" atau "Bagaimana perasaan kamu setelah kejadian itu?" Pertanyaan semacam ini memberikan kesempatan bagi lawan bicara untuk menjelaskan hal-hal yang dianggap penting.
Meski begitu, pertanyaan sebaiknya disampaikan secara alami dan tidak terasa seperti interogasi. Berikan kesempatan kepada lawan bicara untuk menjawab sesuai kenyamanannya. Dengan menunjukkan rasa ingin tahu yang tulus, percakapan dapat terasa lebih bermakna dan membantu kedua pihak memahami satu sama lain.
5. Mengulang Inti Cerita untuk Memastikan Pemahaman
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4940763/original/078857600_1725937260-Ilustrasi_ngobrol__bicara__komunikasi__menyapa.jpg)
Mendengarkan secara aktif juga dapat dilakukan dengan menyampaikan kembali inti cerita yang telah didengar. Kebiasaan ini membantu memastikan bahwa pesan, pikiran, atau perasaan lawan bicara tidak disalahartikan.
Sebagai contoh, ketika seorang teman bercerita tentang beban pekerjaan yang semakin berat, seseorang dapat merespons, "Jadi, kamu merasa kewalahan karena tanggung jawabnya bertambah, ya?" Respons tersebut memberikan kesempatan bagi teman untuk mengonfirmasi atau meluruskan pemahaman yang kurang tepat.
Cara ini juga bisa diterapkan dengan merangkum bagian penting dari cerita atau meminta penjelasan ketika ada hal yang belum dipahami. Dengan begitu, percakapan tidak hanya berjalan satu arah, tetapi menjadi proses saling memahami.
Namun, mengulang perkataan orang lain tidak harus dilakukan pada setiap kalimat. Pilih bagian yang memang penting atau berkaitan dengan perasaan yang sedang disampaikan agar respons tetap terdengar tulus dan tidak dibuat-buat.
Advertisement
6. Bersabar dan Tidak Memotong Pembicaraan
Memberikan waktu kepada orang lain untuk menyelesaikan perkataannya merupakan kebiasaan sederhana yang dapat membuat percakapan terasa lebih menghargai. Hindari langsung menyela, menyelesaikan kalimat lawan bicara, atau mengalihkan pembahasan sebelum ia selesai menyampaikan maksudnya.
Kesabaran juga berarti tidak terburu-buru menyiapkan jawaban ketika orang lain masih berbicara. Jika perhatian terlalu berfokus pada respons yang akan diberikan, ada kemungkinan sebagian informasi atau emosi yang disampaikan justru terlewat.
Selain itu, jangan selalu merasa perlu mengisi setiap jeda dengan cerita pribadi. Terkadang, seseorang membutuhkan waktu untuk menyusun kata-kata sebelum melanjutkan pembicaraan. Memberikan jeda tanpa mendesaknya dapat membantu percakapan berlangsung lebih nyaman.
Kebiasaan ini terutama berguna ketika seseorang sedang menghadapi masalah atau berusaha mengungkapkan perasaan yang sulit dijelaskan. Tidak setiap cerita membutuhkan tanggapan cepat karena sebagian orang hanya ingin didengarkan terlebih dahulu.
7. Mendengarkan Tanpa Terburu-buru Menghakimi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5122341/original/046714700_1738737741-portrait-young-asian-couple-enjoying-date-spending-good-time-together-love-concept.jpg)
Sikap terbuka saat mendengarkan dapat membantu seseorang merasa lebih nyaman dalam menyampaikan pendapat atau pengalaman pribadi. Ketika lawan bicara sedang bercerita, hindari langsung menyalahkan, mempermalukan, atau mengkritik sebelum memahami situasi secara menyeluruh.
Mendengarkan tanpa menghakimi bukan berarti harus selalu menyetujui perkataan orang lain. Seseorang tetap bisa memiliki pandangan yang berbeda, tetapi perbedaan tersebut dapat disampaikan setelah memberikan kesempatan kepada lawan bicara untuk menjelaskan sudut pandangnya.
Selain itu, jangan terburu-buru memberikan nasihat yang tidak diminta atau mengalihkan pembicaraan menjadi pengalaman pribadi. Ketika seseorang sedang menghadapi kesulitan, ia mungkin membutuhkan dukungan emosional sebelum siap mempertimbangkan solusi.
Dengan berusaha memahami situasi dari sudut pandang orang lain, percakapan dapat menjadi ruang yang lebih aman untuk berbagi pikiran dan perasaan. Sikap ini juga membantu menjaga komunikasi agar tetap saling menghormati, meskipun terdapat perbedaan pendapat.
Advertisement
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Kebiasaan Saat Mendengarkan yang Bisa Membuat Orang Lain Merasa Dihargai
Apa yang dimaksud dengan mendengarkan secara aktif?
Mendengarkan secara aktif adalah keterampilan menyimak dengan penuh perhatian, memahami pesan yang disampaikan, serta memberikan respons yang menunjukkan ketertarikan dan empati kepada lawan bicara.
Mengapa mendengarkan dengan baik bisa membuat orang lain merasa dihargai?
Mendengarkan dengan baik menunjukkan bahwa seseorang bersedia meluangkan waktu dan perhatian untuk memahami cerita orang lain. Kebiasaan ini dapat membantu lawan bicara merasa didengar, dipahami, dan lebih nyaman saat berbagi pikiran atau perasaan.
Bagaimana cara menunjukkan bahwa seseorang benar-benar mendengarkan?
Caranya antara lain dengan memberikan perhatian penuh, memperhatikan bahasa tubuh, menjaga kontak mata sewajarnya, mengajukan pertanyaan yang relevan, serta tidak memotong pembicaraan. Hindari pula terburu-buru menghakimi atau memberikan nasihat sebelum memahami situasi yang diceritakan.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334225/original/010172500_1787825621-demo_motor.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5152114/original/020170500_1741235399-cek_fakta_bank_mandiri.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4588612/original/076171200_1695698562-20230926-Bansos-Beras-Arbas-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373717/original/089421500_1791973478-Cek_fakta_Bank_Mandiri_--.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5127770/original/082608800_1739182169-Komunikasi_pasangan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364651/original/002458200_1791013905-A6_00020.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363979/original/062618200_1790927438-WhatsApp_Image_2026-10-02_at_14.34.23.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5020296/original/018942100_1732517949-Chery_J6_Batik_1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3108176/original/099514400_1587459746-close-up-of-text-on-paper-318451__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9313614/original/088129500_1785659642-IMG-20260802-WA0005.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373984/original/058443400_1792028040-Hl__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373963/original/043246600_1792024224-88bd65d9-fd8a-40d1-9357-ed75a3552ea5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9320339/original/055931900_1786345832-138994.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360535/original/045939100_1790652404-5a3d75f7-bab9-49db-abba-61440561e1a8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4344696/original/048405500_1677815277-hands-women-who-raise-their-hands.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373733/original/018781800_1791974220-k.jpg)