Menggunakan Suara Bayi Saat Berbicara pada Hewan Peliharaan? Ini Penjelasan Psikologinya

Ketahui alasan ilmiah di balik kebiasaan kita menggunakan suara bayi saat berbicara pada hewan peliharaan kesayangan.

Diterbitkan 16 Agustus 2026, 15:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Saat berjalan santai di taman, Anda mungkin pernah mendengar seseorang berseru, “Siapa anak pintar yang manis ini?” Namun, ketika menoleh, ternyata ia sedang berbicara dengan anjing peliharaannya. Menariknya, nada suara melengking dan manja tersebut terdengar sangat mirip dengan gaya bicara saat berinteraksi dengan bayi.

Kebiasaan ini ternyata bukan sekadar cara berbicara yang muncul begitu saja. Penelitian menunjukkan manusia cenderung mengubah nada dan irama suara ketika berbicara dengan bayi maupun hewan peliharaan, terutama saat menunjukkan kasih sayang.

Lantas, mengapa kita berbicara seperti itu kepada hewan peliharaan? Apakah mereka benar-benar menyukai atau memahami nada tersebut? Di balik kebiasaan sederhana ini ternyata ada alasan menarik tentang cara manusia membangun kedekatan dengan hewan. Simak ulasan lengkapnya berikut ini, dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber pada Kamis (13/8/2026).

Fungsi Penting Menggunakan 'Suara Bayi'

Manusia secara alami akan beralih ke cara bicara yang lebih hangat dan ekspresif ketika berhadapan dengan sosok yang tidak sepenuhnya memahami bahasa kita. Baik untuk hewan peliharaan maupun bayi, kita otomatis meninggikan suara dan membuatnya terdengar lebih berirama bak sebuah nyanyian.

Secara vokal, tindakan ini berfungsi layaknya melambaikan tangan di keramaian untuk menarik perhatian penuh dan menunjukkan sinyal keramahan. Bagi interaksi hewan, gaya bicara ini murni tentang koneksi batin sebagai cara kita mengatakan, "Aku memperhatikanmu, dan kamu aman bersamaku."

Perbedaan Kehangatan Suara

Meskipun sekilas terdengar sama persis, gaya bicara untuk bayi dan hewan peliharaan nyatanya memiliki perbedaan tingkat fleksibilitas. Sebuah studi di tahun 2024, Menurut penelitian Denis Burnham, Michelle Opacic, dan Ute Vollmer-Conna yang diterbitkan dalam jurnal Anthrozoös pada 2024 yang menguji kehangatan suara wanita menunjukkan hasil yang cukup mengejutkan. 

Wanita yang hanya memiliki bayi atau hanya memiliki anjing memancarkan tingkat kehangatan suara yang sama. Namun, bagi wanita yang memiliki keduanya di rumah, suara yang diarahkan kepada sang bayi ternyata terdengar lebih hangat dibandingkan saat mereka berbicara kepada anjingnya. 

Hal ini membuktikan bahwa nada bicara pada hewan peliharaan bisa berubah-ubah menyesuaikan dengan tuntutan perhatian lainnya.

Unsur Edukasi dalam Gaya Bicara

Perbedaan utama lainnya dari kedua gaya bahasa ini terletak pada aspek edukasi di dalamnya. Ketika berbicara dengan bayi, manusia secara tidak sadar juga sedang melakukan proses pengajaran. 

Orang tua sering kali melebih-lebihkan pengucapan huruf vokal, seperti mengucapkan kata dengan bunyi "eee" yang sangat jelas. Teknik yang disebut hiper-artikulasi ini bertujuan agar suara ucapan lebih mudah dibedakan oleh bayi untuk membangun fondasi kosakata mereka. 

Namun, saat peneliti mencari pola hiper-artikulasi ini pada ucapan untuk hewan peliharaan, mereka hampir tidak menemukannya sama sekali.

Cara Berbicara yang Menyesuaikan Jenis Hewan

Hewan peliharaan pada umumnya memang mendapatkan melodi nada tinggi yang memantul serta penuh kehangatan emosional, namun tanpa pelafalan kata yang diperjelas. Menariknya, pola ini sedikit berubah ketika peneliti mengamati cara manusia berbicara dengan burung beo, hewan yang terkenal jago meniru ucapan manusia. 

Berdasarkan penjelasan tersebut, manusia cenderung memberikan suara hangat kepada anjing, berbicara dengan nada yang sedikit lebih jelas untuk burung beo, dan menyimpan pelafalan yang paling jelas layaknya paket edukasi lengkap khusus untuk bayi.

Manfaat Nyata bagi Hewan Peliharaan

Lalu, apakah gaya bicara ini sungguh menguntungkan dan dipedulikan oleh hewan peliharaan? Sebuah studi tahun 2017 dalam royalsocietypublishing.org mengungkapkan bahwa anak anjing rupanya jauh lebih menyukai rekaman suara bernada kekanak-kanakan ini dibandingkan suara orang dewasa biasa. 

Mereka bergerak mendekat dengan lebih antusias dan memusatkan perhatian lebih lama. Tidak hanya anjing, sebuah studi di tahun 2021 dalam jurnal yang dibuat oleh Animal Cognition, juga menemukan bahwa kuda yang diajak bicara dengan nada hangat terbukti mampu lebih fokus pada pelatihnya dan lebih jago merespons isyarat tangan untuk menemukan makanan tersembunyi.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Penggunaan Suara Bayi Saat Berbicara pada Hewan Peliharaan

1. Mengapa orang sering menggunakan suara seperti bayi saat berbicara dengan hewan peliharaan? Nada tinggi dan intonasi yang lebih ekspresif dapat membantu menarik perhatian serta menunjukkan emosi positif kepada hewan. 

2. Apakah anjing memahami suara bayi tersebut? Anjing dapat merespons karakteristik suara seperti nada dan intonasi, meski tidak berarti mereka memahami bahasa seperti manusia. Penelitian menunjukkan anjing lebih responsif terhadap suara yang diarahkan kepada mereka, terutama pada anak anjing.

3. Apakah berbicara dengan suara bayi membuat hewan lebih dekat dengan pemiliknya? Gaya bicara tersebut dapat membantu menarik perhatian dan mendukung interaksi sosial antara manusia dan hewan, meski tingkat responsnya dapat berbeda pada setiap hewan. 

4. Apakah suara kepada hewan memang mirip dengan suara kepada bayi? Ya. Penelitian Denis Burnham, Michelle Opacic, dan Ute Vollmer-Conna pada 2024 menemukan kemiripan dalam ekspresi emosi pada suara yang diarahkan kepada anjing dan bayi. 

5. Apakah semua hewan peliharaan menyukai suara bernada tinggi? Belum tentu. Respons dapat berbeda berdasarkan jenis, usia, dan pengalaman hewan. Pada anjing, penelitian menunjukkan anak anjing lebih responsif terhadap dog-directed speech dibandingkan anjing dewasa.