Liputan6.com, Jakarta - Kebiasaan membuat playlist musik menurut psikologis menjadi topik yang semakin menarik seiring meningkatnya penggunaan layanan streaming musik. Ya, banyak orang membuat playlist berdasarkan suasana hati, aktivitas, atau kenangan tertentu tanpa menyadari bahwa kebiasaan tersebut memiliki kaitan dengan kondisi psikologis. Hal itu senada dengan pernyataan yang dilansir dari laman Therapeutic Self Care, yang menyebutkan bahwa mendengarkan musik memiliki pengaruh terhadap kesehatan mental.Â
Lebih lanjut, sebagaimana melansir dari laman All About Psychology, musik yang dipersonalisasi dapat memulihkan koneksi, menenangkan kesedihan, dan memperkuat identitas, sehingga memperlakukannya sebagai pilihan semata berarti mengabaikan inti permasalahannya. Yuk simak alasan psikologis dari kebiasaan seseorang membuat playlist musik.Â
1. Kemampuan Mengendalikan Emosi dengan Cara yang Tepat
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317490/original/088700900_1786015759-imtiyaz-ali-LxBMsvUPAgo-unsplash__1_.jpg)
Sebagaimana melansir laman Therapeutic Self Care, musik mampu mengaktifkan berbagai area otak, termasuk area yang bertanggung jawab atas emosi. Ketika seseorang membuat playlist, mereka tidak hanya mengelompokkan musik, tetapi membuat pilihan tentang apa yang ingin didengar, kapan, dan dalam urutan apa, yang mencerminkan bagaimana mereka ingin merasa atau bagaimana mereka mencoba mengatasi perasaan yang sudah ada.
Salah satu teknik yang digunakan dalam terapi musik adalah 'Prinsip ISO', di mana musik dicocokkan dengan suasana hati klien, kemudian secara bertahap diubah untuk memengaruhi keadaan suasana hati yang diinginkan. Misalnya, jika seseorang merasa cemas, playlist dapat dikurasi untuk membantunya beralih dari keadaan cemas ke keadaan tenang.
Playlist regulasi emosi yang efektif dimulai dengan musik yang mencerminkan suasana hati saat ini, lalu secara bertahap bergeser dalam nada, tempo, dan intensitas menuju keadaan emosi yang lebih positif atau seimbang.
Advertisement
2. Punya Kemampuan Mengelola Stres Efektif
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4877700/original/032291300_1719549431-IMG-20240628-WA0028.jpg)
Kebiasaan membuat playlist musik juga mencerminkan kemampuan individu dalam mengelola stres secara sehat. Mendengarkan musik telah terbukti secara ilmiah dapat menurunkan kortisol, hormon stres utama tubuh. Bahkan hanya 15 menit mendengarkan musik dapat secara signifikan mengurangi kecemasan dan meningkatkan relaksasi.
Musik dapat membantu mengurangi gejala kecemasan dan depresi, serta mendukung pengurangan stres. Saat mendengarkan lagu yang disukai, tubuh dapat memproduksi hormon dopamin yang berkaitan dengan rasa senang dan rileks, sehingga banyak orang memilih mendengarkan musik untuk menenangkan pikiran setelah aktivitas padat.
Playlist yang menenangkan, seringkali dengan tempo sekitar 60-80 detak per menit (BPM), dapat menyinkronkan gelombang otak untuk menginduksi ketenangan dan mengaktifkan respons relaksasi tubuh. Musik instrumental atau suara alam sangat efektif untuk menghilangkan stres. Dengan membuat playlist khusus untuk relaksasi, seseorang memiliki alat yang siap sedia untuk mengurangi kecemasan dan menenangkan diri saat dibutuhkan.
3. Cerminan Kesadaran Diri dalam Pilihan Lagu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5319231/original/081278200_1755508676-pexels-tirachard-kumtanom-112571-1001850.jpg)
Pilihan lagu dalam playlist seringkali mencerminkan tingkat self-awareness atau kesadaran diri seseorang. Musik dapat membantu mengidentifikasi emosi yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Ketika seseorang mendengar lagu dan berpikir, "Ini persis seperti yang saya rasakan," momen pengakuan itu bisa sangat kuat, membantu memahami emosi dan menjadi titik awal untuk refleksi diri.
Playlist yang dikurasi dengan cermat dapat berfungsi sebagai "peta emosional", menunjukkan kapan seseorang mencari kenyamanan, stimulasi, konsentrasi, atau relaksasi. Musik juga sering menjadi bentuk ekspresi diri, di mana jenis lagu yang dipilih mencerminkan kepribadian, kondisi emosional, atau suasana hati seseorang saat itu.
Kebiasaan mendengarkan musik, termasuk pengaturan shuffle dan pola skipping, mencerminkan strategi regulasi emosi yang mungkin tidak disadari. Ini menunjukkan bahwa pilihan musik adalah cerminan dari keadaan internal dan kebutuhan psikologis seseorang.
Advertisement
4. Kemampuan Membangun Identitas dan Koneksi Sosial
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317491/original/033296400_1786015761-filip-VHf4jqrUu7g-unsplash.jpg)
Musik adalah cerminan identitas diri dan alat untuk membangun koneksi sosial. Musik menyatukan kita dan menyampaikan perasaan ketika kata-kata tidak mampu. Ini berbicara tentang identitas kita sebagai individu dan sebagai anggota kelompok. Playlist dapat sangat personal, mencerminkan selera, pengalaman, dan kenangan unik seseorang. Membuat atau mendengarkan playlist yang selaras dengan preferensi individu dapat menumbuhkan rasa identitas dan koneksi dengan musik dan artis.
Selain itu, berbagi playlist dengan orang lain, seperti teman atau keluarga, dapat memfasilitasi ikatan sosial dan menumbuhkan rasa koneksi melalui pengalaman musik bersama. Playlist kolaboratif, di mana banyak individu berkontribusi lagu, dapat menciptakan rasa identitas kolektif dan mempromosikan rasa memiliki.
5. Jembatan Memori dan Nostalgia Lewat Melodi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317492/original/044666500_1786015763-juja-han-HU-uL54pfQI-unsplash.jpg)
Musik memiliki kekuatan unik untuk memicu kenangan dan nostalgia yang kuat. Mendengar lagu yang familiar dapat secara jelas memicu ingatan otobiografi dan pelepasan emosional. Musik yang membangkitkan nostalgia dapat memperkuat koneksi kita dengan diri kita di masa lalu, sekarang, dan masa depan. Ini juga dapat membantu memproses emosi yang menantang dan mengintegrasikan kembali keadaan positif ke masa kini.
Penelitian menunjukkan bahwa musik nostalgia tidak hanya mengembalikan kenangan, tetapi juga mengaktifkan otak dengan cara yang dapat mendukung kesejahteraan emosional dan fungsi kognitif, terutama pada individu yang mengalami gangguan memori. Efek nostalgia ini membuat emosi terasa lebih kuat dibanding sekadar mendengar suara biasa.
Playlist yang mencakup lagu-lagu dari periode penting dalam hidup atau lagu-lagu yang terkait dengan kenangan berharga dapat membawa kita kembali ke masa lalu, membangkitkan emosi, dan menumbuhkan koneksi yang lebih dalam dengan masa lalu kita.
Advertisement
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Kebiasaan Membuat Playlist Musik Menurut Psikologis
1. Apa manfaat utama musik yang dipersonalisasi menurut psikologi?
Musik yang dipersonalisasi dapat memulihkan koneksi, menenangkan kesedihan, dan memperkuat identitas diri.
2. Bagaimana playlist musik membantu dalam regulasi emosi?
Playlist berfungsi sebagai alat regulasi diri yang membantu mengelola keadaan emosi, fokus, dan tingkat energi, seringkali dengan menggunakan "Prinsip ISO" untuk secara bertahap menggeser suasana hati.
3. Apa peran musik dalam mengelola stres?
Mendengarkan musik dapat menurunkan hormon stres kortisol, mengurangi kecemasan, dan meningkatkan relaksasi, terutama dengan musik bertempo 60-80 BPM.
4. Bagaimana kebiasaan membuat playlist mencerminkan self-awareness?
Pilihan lagu dalam playlist mencerminkan keadaan internal dan kebutuhan psikologis, membantu individu mengidentifikasi dan memahami emosi yang sulit diungkapkan, serta berfungsi sebagai peta emosional.
Â
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9310889/original/017316800_1785380146-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-30T095434.257.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9312077/original/024885800_1785478974-indomaret.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316854/original/006178900_1785992062-Screenshot_2026-08-06_113022.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316905/original/064384100_1785995980-cek_fakta_luhut.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317489/original/020918400_1786015759-fath-3NgcTH0CFJg-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5448340/original/073102400_1766026912-10.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317459/original/031141100_1786014014-Gemini_Generated_Image_jbplyajbplyajbpl.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5167171/original/010604800_1742316277-delicious-fruit-jam-bowl_23-2148563226.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317290/original/089070400_1786008288-5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317545/original/060918300_1786020508-2309d1d6-9054-45dd-8ee6-d24e9c526b4d.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317460/original/065597700_1786014116-COB_FIC.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317285/original/014570900_1786008256-6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317398/original/060832400_1786010575-HL_pagar.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317268/original/026628700_1786008197-es_kulkul.jpeg)