Sukses

Okky Madasari: Sastra Bukan Motivasi Agar Pembaca Sukses

Citizen6: Namanya melesat setelah Anugerah Sastra Khatulistiwa 2012 dengan novelnya yang berjudul  ‘Maryam’. Perempuan ini menyisihkan antara lain 'Cerita Cinta Enrico' karya Ayu Utami. Okky Madasari  saat ini sedang menyiapkan novel keempatnya, ‘Pasung Jiwa’ yang akan terbit pada Mei mendatang.

Novel-novelnya mengangkat tema-tema yang bisa dikatakan tidak populer.  Misalnya pada  'Maryam,' yang berkisah tentang orang-orang yang terusir karena iman. Perempuan yang nama akun twitternya @OkkyMadasari ini memfokuskan ceritanya pada pada sosok Maryam, seorang perempuan penganut Ahmadiyah asal Lombok yang mengalami diskriminasi dan penderitaan karena keluarganya terusir dari kampung halamannya.

Begitu juga dengan novel sebelumnya:  'Entrok' dan '86.' Novel tersebut masing-masing mengangkat tema yang spesifik dan "tidak pasaran". Berikut wawancara dengan Okky Madasari yang juga mengelola yayasan  pendidikan "Muara Bangsa".

Kenapa  Okky memutuskan menjadi penulis, apa menariknya?

Bagi saya, menulis adalah menyuarakan sesuatu. Saya menulis karena ada yang ingin saya sampaikan, saya suarakan, saya gugat, dan saya perjuangkan. Dengan menulis novel, saya bisa bersuara dan menyampaikan sesuatu dengan lebih leluasa.

Ide-ide saya berasal dari kehidupan. Saya menangkap persoalan dalam masyarakat. Saya melihat, mendengar, dan merasakan apa yang terjadi dalam  masyarakat. Ide-ide tersebut  kemudian saya olah dalam bentuk novel.

Bagaimana menemukan ide lalu mewujudkannya menjadi cerita?

Menulis novel  butuh energi besar. Itu menjadi tantangan saya dalam menulis. Saya harus menjaga energi dan stamina dari awal penulisan hingga novel yang saya tulis selesai. Itu bukan hal yang mudah. Seringkali konsentrasi saya terganggu. Kadang rasa jenuh datang. Saya harus melawan hal-hal seperti itu. Karena sejak awal tujuan saya menulis adalah ingin menyuarakan sesuatu, saya tidak berhenti dan putus asa ketika gangguan-gangguan seperti itu datang. Itu bagian yang  harus  dilewati sepanjang proses penulisan.

Apa yang menyenangkan dari kegiatan menulis?

Yang paling bernilai dari  kegiatan menulis: ia memberi saya kebebasan untuk berpikir dan menyuarakan sesuatu. Dengan menulis saya tak lagi  punya ketakutan. Dengan menulis saya tak  punya bebas. Tentu akan sangat menyenangkan ketika kemudian apa yang  kita tulis bisa didengar dan mempengaruhi kesadaran para pembaca.

Kegiatan Anda selain menjadi penulis?

Sekarang saya sedang menngambil kuliah S2 di jurusan Sosiologi Universitas Indonesia. Selain itu saya juga mengelola Yayasan Muara yang bergerak dalam bidang pendidikan dan budaya untuk menyebarkan nilai-nilai kebebasan dan kemanusiaan.

Apa yang diharapkan dari pembaca yang telah membaca buku-buku Okky?

Harapan saya, melalui novel-novel saya, bisa terbentuk kesadaran baru para pembaca  dalam melihat ketidakadilan dan  berbagai persoalan di sekitarnya.

Bagi saya sastra bukan kumpulan kata mutiara. Sastra juga bukan rangkaian motivasi agar pembaca mencapai kesuksesan pribadi.

Novel Maryam memenangi KLA 2012, apa artinya buat Okky?

Dengan kemenangan Maryam  dalam KLA 2012 semoga apa yang disuarakan dalam novel tersebut semakin bisa tersebar luas dan membawa perubahan.

Novel terbaru saya 'Pasung Jiwa' akan terbit Mei 2013. Novel ini  berkisah tentang pergulatan individu dalam mendapatkan kebebasan, melepaskan diri dari segala kungkungan yang ada. Mulai dari kungkungan agama, norma, tradisi, hingga dominasi politik dan ekonomi. Novel ini akan melihat lebih dalam ke diri manusia, nuansa kejiwaan, suara batin, paradoks dan kebingungan menghadapi realita di sekitarnya. Novel ini juga ingin menanyakan apa artinya kebebasan. Apakah kebebasan benar-benar ada dan bisa didapatkan oleh manusia.

Boleh cerita masa bocah yang menyenangkan?  

Saya lahir di Magetan,  kota kecil di lereng Gunung Lawu. Akses bacaan sangat terbatas saat saya masih kecil. Tapi kecintaan pada dunia tulis menulis sudah ada sejak dulu. Saya membaca apa saja: koran, majalah, buku-buku yang ada. Sejak SMP saya sudah ikut kegiatan yang berhubungan dengan tulis menulis dan jurnalistik.  Saya kuliah di HI UGM. Lalu bekerja sebagai wartawan di Jakarta sebelum akhirnya memutuskan total menekuni dunia kepenulisan.

Saya suka melakukan perjalanan dan memotret. Sejak menikah tahun 2008, saya dan suami secara rutin melakukan perjalanan ke tempat-tempat indah di nusantara. Saya juga suka main piano dan olahraga. (KW)

    Artikel Selanjutnya
    Raditya Dika Sukses di Segala Profesi Berkat Kegelisahannya
    Artikel Selanjutnya
    Mengenang Sosok Ainun Habibie dengan Habis Kartini, Terbitlah Ainun