Sukses

Buntut Tragedi Kanjuruhan, Aremania Gantung Syal dan Baju di Jembatan Penyeberangan, Tak Akan Kembali ke Stadion

Liputan6.com, Jakarta Momen pilu tragedi Kanjuruhan tak akan mudah hilang dari kepala banyak orang. Nyawa yang melayang hingga 130 orang menunjukkan betapa buruknya insiden yang terjadi setelah laga Arema vs Persebaya pada 1 Oktober 2022 itu.

Bagi Aremania sendiri, tragedi di Stadion Kanjuruhan itu meninggalkan duka mendalam. Tak sedikit dari korban yang meninggal tersebut adalah fans Arema FC. Untuk menunjukkan solidaritas serta rasa kehilangan terhadap para korban, Aremania menggantungkan syal dan baju di sebuah jembatan penyeberangan di Malang.

Dalam foto-foto yang dicuitkan oleh akun Twitter @toptobs, tampak sebuah jembatan penyebarangan yang penuh dengan syal dan baju yang digantung. Juga terdapat spanduk dengan kalimat "Usut Tuntas Genosida Malang..."

 

"Di salah satu jembatan penyebrangan di malang terlihat banyak disimpan syal2 dan baju aremania. Lalu sy tanya ke aremania yg mengantar saya, ini mksdnya apa mas? Oh Itu syal dari beberapa korban meninggal dan temen2 aremania yg memutuskan untuk tidak akan hadir lg ke stadion." Demikian caption yang ditulis oleh @toptobs.

Dalam kolom balasan, ada salah satu warganet yang membantu menerangkan bahwa itu merupakan jembatan penyeberangan yang terdapat di Jl. A. Yani, Malang.

 

Cuitan tersebut telah disukai lebih dari 17 ribu kali dan dibagikan lebih dari 5 ribu kali. Beragam komentar warganet menanggapi aksi tersebut.

"Nangis liatnya, gantung syal begini demi keadilan," cuit salah satu warganet.

"Tidak ada sepak bola yg seharga nyawa.. Semoga para korban berada disisi Tuhan yg maha Esa," cuit warganet lainnya.

"Traumatik bgt. Aparat yg dsna ga tau apa akan trauma jg atau ngga, suporter yg prtama turun k lapangan trauma jg ga ya sambil ngbayangin seandainy aja sya ga turun ke lapangan," cuit warganet satunya.

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.

2 dari 4 halaman

35 Saksi Diperiksa Polri untuk Usut Tragedi Kanjuruhan

Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo mengatakan, pihaknya sampai saat ini telah memeriksa sebanyak 35 orang saksi terkait kasus dugaan kelalaian yang berbuntut terjadinya tragedi Kanjuruhan, Malang.

"Pemeriksaan para saksi sudah 35 saksi diminta keterangan baik saksi internal artinya bahwa anggota Polri yang terlibat dalam pengamanan di stadion kanjuruhan maupun saksi dari eksternal," kata Dedi kepada wartawan, di Jawa Timur, Rabu (5/10/2022).

Pemeriksaan terhadap para saksi, kata dia, masih berlangsung sampai dengan malam ini. Sehingga terkait hasil pemeriksaan masih belum bisa disampaikan ke publik.

"Mungkin besok baru saya sampaikan tentang progres baik dari tim audit investigasi maupun juga Tim Sidik dalam hal ini gabungan dari Bareskrim dan Polda Jatim," jelas Dedi.

Sebelumnya, Bareskrim Polri resmi menaikan status tragedi kerusuhan Stadion Kanjuruhan ke tahap penyidikan dengan mengenakan pasal kelalaian yang mengakibatkan hilangnya nyawa.

"Dari hasil pemeriksaan tersebut tim melakukan gelar perkara dari hasil gelar perkara meningkatkan status dari penyelidikan menjadi penyidikan," kata Dedi Senin 3 September 2022.

Adapun pasal yang dipakai yakni Pasal 359 KUHP, “Barang siapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan orang lain mati, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana kurungan paling ringan satu tahun.”

Kemudian, Pasal 360 KUHP berbunyi "Barangsiapa karena kesalahannya menyebabkan orang luka berat dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya lima tahun atau hukuman kurungan selama-lamanya satu tahun."

"Tim hari ini melakukan pemeriksaan terkait Pasal 359 dan Pasal 360 KUHP dengan melakukan pemeriksaan 20 orang saksi," sebut Dedi.

3 dari 4 halaman

Tragedi Kanjuruhan, Jokowi: Pintu Stadion Terkunci, Tangga Tajam, dan Kepanikan

Presiden Joko Widodo atau Jokowi meninjau langsung kondisi Stadion Kanjuruhan, Kota Malang, Jawa Timur, Rabu (5/10/2022). Dia mengungkapkan tragedi Kanjuruhan disebabkan oleh banyak faktor.

"Sebagai gambaran, tadi saya melihat bahwa problemnya ada di pintu yang terkunci dan juga tangga yang terlalu tajam, ditambah kepanikan yang ada, tapi itu saya hanya melihat lapangannya," ucap Jokowi di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang.

Jokowi menegaskan, tata kelola persepakbolaan Indonesia perlu diperbaiki secara keseluruhan, baik dalam pertandingan, stadion, penonton, hingga pengamanan. Dia mengatakan, Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) menyatakan kesiapannya untuk membantu memperbaiki tata kelola tersebut.

"Saya kira kita memang perlu evaluasi total semuanya, baik manajemen pertandingan, manajemen stadion, manajemen penonton, manajemen waktu, manajemen pengamanan. Semuanya harus dievaluasi total agar peristiwa yang terjadi di Stadion Kanjuruhan ini tidak terjadi lagi, jelas semuanya," tegas dia.

Selain itu, Jokowi menjelaskan, pemerintah telah membentuk Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) yang diketuai oleh Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud Md. Tim tersebut dibentuk untuk mencari tahu secara detail penyebab utama atas terjadinya tragedi di Stadion Kanjuruhan.

"Kita tahu telah dibentuk tim gabungan independen pencari fakta yang diketuai oleh Pak Menko Polhukam. Kita harapkan nantinya tim ini segera bisa menyelesaikan tugasnya, sehingga kita tahu betul-betul penyebab utama dari tragedi tanggal 1 Oktober di Stadion Kanjuruhan Malang," ujar Jokowi.

4 dari 4 halaman

Temuan Komnas HAM soal Tragedi Kanjuruhan: Banyak Korban Mata Merah hingga Wajah Biru

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) turun langsung melakukan investigasi tragedi maut di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur. Dalam tragedi pada Sabtu malam 1 Oktober 2022 itu, 131 orang dilaporkan meninggal dunia.

Komisioner Komnas HAM Choirul Anam pun menyampaikan hasil temuan mereka soal tragedi Kanjuruhan bahwa kondisi jenazah secara fisik ada yang sangat memprihatinkan dan ini menunjukkan potensi penyebab kematian.

"Pertama adalah kondisi jenazahnya banyak yang mukanya biru, jadi muka biru ini banyak. Ini yang menunjukkan kemungkinan besar karena kekurangan oksigen karena juga gas air mata," ujar Anam dalam keterangannya, Rabu (5/10/2022).

"Jadi muka biru, terus ada yang matanya merah, keluar juga busa. Jadi teman-teman khususnya keluarga, Aremania, maupun relawan yang menangani jenazah memberikan informasi terkait hal tersebut," tambah Anam.

Dia menjelaskan, kondisi wajah biru dan mata merah juga dibarengi dengan temuan adanya kondisi luka fisik seperti kaki patah, rahang patah, memar, dan lain sebagainya.

"Ada beberapa yang sangat memprihatinkan karena kena gas air mata adalah kondisi mata. Matanya sangat merah," ucap dia.

Bahkan, lanjut Anam, akibat gas air mata banyak juga dari korban yang selamat mengalami sakit mata selepas ditemui pihaknya pada lusa setelah insiden Kanjuruhan.

"Bahkan kami bertemu dengan salah satu korban yang, itu peristiwanya hari Sabtu, Senin bertemu kami, Senin baru bisa melihat. Matanya sakit kalau dibuka. Dadanya juga perih, sesak napas, tenggorokannya perih. Itu beberapa contoh informasi yang kami dapat," jelas Anam.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.