Citizen6: Para mahasiswa di Indonesia terkadang tidak peduli dengan pola makan dan gaya hidup sehat. Dengan tugas yang banyak dan menyita waktu serta kegiatan kemahasiswaan lainnya membuat para penerus bangsa ini lupa akan makan teratur dan menu sehat bagi asupan gizi mereka. Utamanya mahasiswa perantauan yang dengan semboyannya "Asal Kenyang Tapi Murah" mereka makan di mana saja, dan makan apa saja. Hal ini yang membuat para mahasiswa sering mengalami gangguan kesehatan.
Dr. Christina yang membuka praktek di sebuah klinik di daerah Tembalang, Semarang mengatakan bahwa akhir-akhir ini banyak sekali mahasiswa yang datang ke kliniknya. Para mahsiswa tersebut datang dengan keluhan yang sama, yaitu diare, gangguan pencernaan dan maag. Hal ini membuktikan bahwa pola hidup mahasiswa ini tidak sehat. Dr. Christina juga mengatakan kebanyakan para mahasiswa ini tidak teratur dalam pola makan dan mengkonsumsi makanan yang kurang dalam hal gizi. Misalnya saja penyetan, nasi goreng, kucingan dan mie instan, sehingga menambah parah faktor penyebab penyakit. Ditambah dengan kurangnya asupan buah-buahan dan sayuran yang sarat akan vitamin dan zat gizi.
Tidak bisa dipungkiri bahwa makanan murah meriah memang sangat penting bagi kehidupan para mahasiswa. Namun, hal itu seharusnya tidak menjadi penghambat bagi para mahasiswa itu sendiri itu tetap bisa hidup sehat. Boleh saja makan di penyetan, kucingan, dan lain sebagainya, namun jangan terlalu sering.
Dr. Christina menambahkan bahwa tidak semua makanan itu berpotensi penyakit, namun cara pengolahannya yang menimbulkan faktor-faktor penyakit. Misalnya penyetan dengan sambal yang pedas, cobek yang digunakan berulang-ulang sehingga tidak higienis dan tempat makan yang tidak sehat seperti d pinggir jalan, es batu yang terbuat dari air kotor. Hal ini yang sering tidak diperhatikan mahasiswa ketika makan.
Tidak hanya dari segi makanan saja, kurang tidur, dan kurangnya berolahraga juga menjadi faktor lain penyebab penyakit. Kurang tidur dan olahraga akan menurunkan daya tahan tubuh para mahasiswa. Apalagi cuaca sekarang sering berubah-ubah, ditambah lagi harus mengahadapi kuliah, dan tugas yang menuntut mereka tetap dalam kondisi fit. Beruntunglah apabila kampus menerapkan mata kuliah olahraga sebagai mata kuliah wajib, paling tidak dalam seminggu ada sejenak waktu untuk berolahraga.
Namun yang paling memprihatinkan dari para mahasiswa ini adalah ketika sudah sembuh dari sakit, mereka kembali melakukan kebiasaan yang sama. Sehingga tanpa disadari penyakit yang tadinya sudah sembuh menjadi kambuh lagi, bahkan semakin parah. Hal ini yang harus diperhatikan oleh mahasiswa itu sendiri, orang tua atau teman dekat sehingga bisa saling mengingatkan.
Untuk itu, perlunya kesadaran kembali bagi para mahasiswa ini untuk menanamkan pola hidup sehat. Tentunya para mahasiswa ini tahu pola hidup sehat yang baik dan benar. Hanya kurang dalam praktiknya. Bagaimana bangsa ini mau sehat, jika penerus bangsanya sakit-sakitan? (Yusuf Fajar Ramadhan/YSH)
Dr. Christina yang membuka praktek di sebuah klinik di daerah Tembalang, Semarang mengatakan bahwa akhir-akhir ini banyak sekali mahasiswa yang datang ke kliniknya. Para mahsiswa tersebut datang dengan keluhan yang sama, yaitu diare, gangguan pencernaan dan maag. Hal ini membuktikan bahwa pola hidup mahasiswa ini tidak sehat. Dr. Christina juga mengatakan kebanyakan para mahasiswa ini tidak teratur dalam pola makan dan mengkonsumsi makanan yang kurang dalam hal gizi. Misalnya saja penyetan, nasi goreng, kucingan dan mie instan, sehingga menambah parah faktor penyebab penyakit. Ditambah dengan kurangnya asupan buah-buahan dan sayuran yang sarat akan vitamin dan zat gizi.
Tidak bisa dipungkiri bahwa makanan murah meriah memang sangat penting bagi kehidupan para mahasiswa. Namun, hal itu seharusnya tidak menjadi penghambat bagi para mahasiswa itu sendiri itu tetap bisa hidup sehat. Boleh saja makan di penyetan, kucingan, dan lain sebagainya, namun jangan terlalu sering.
Dr. Christina menambahkan bahwa tidak semua makanan itu berpotensi penyakit, namun cara pengolahannya yang menimbulkan faktor-faktor penyakit. Misalnya penyetan dengan sambal yang pedas, cobek yang digunakan berulang-ulang sehingga tidak higienis dan tempat makan yang tidak sehat seperti d pinggir jalan, es batu yang terbuat dari air kotor. Hal ini yang sering tidak diperhatikan mahasiswa ketika makan.
Tidak hanya dari segi makanan saja, kurang tidur, dan kurangnya berolahraga juga menjadi faktor lain penyebab penyakit. Kurang tidur dan olahraga akan menurunkan daya tahan tubuh para mahasiswa. Apalagi cuaca sekarang sering berubah-ubah, ditambah lagi harus mengahadapi kuliah, dan tugas yang menuntut mereka tetap dalam kondisi fit. Beruntunglah apabila kampus menerapkan mata kuliah olahraga sebagai mata kuliah wajib, paling tidak dalam seminggu ada sejenak waktu untuk berolahraga.
Namun yang paling memprihatinkan dari para mahasiswa ini adalah ketika sudah sembuh dari sakit, mereka kembali melakukan kebiasaan yang sama. Sehingga tanpa disadari penyakit yang tadinya sudah sembuh menjadi kambuh lagi, bahkan semakin parah. Hal ini yang harus diperhatikan oleh mahasiswa itu sendiri, orang tua atau teman dekat sehingga bisa saling mengingatkan.
Untuk itu, perlunya kesadaran kembali bagi para mahasiswa ini untuk menanamkan pola hidup sehat. Tentunya para mahasiswa ini tahu pola hidup sehat yang baik dan benar. Hanya kurang dalam praktiknya. Bagaimana bangsa ini mau sehat, jika penerus bangsanya sakit-sakitan? (Yusuf Fajar Ramadhan/YSH)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340558/original/047338600_1788510282-cek_fakta_-_BNI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5491146/original/066985700_1770086696-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-03T094228.234.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9323076/original/064136000_1786599582-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-13T123857.729.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9351957/original/080906700_1789720927-cek_fakta_suahasil.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/100125/original/121228bmahasiswa.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4647050/original/096680300_1699881296-Tempat_Sampah.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9347871/original/082698900_1789371708-ChatGPT_Image_14_Sep_2026__14.36.52.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9352169/original/056693800_1789732852-Foto_1_credit_WWF-Indonesia_Ilham_Andriansyah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346285/original/094214300_1789120119-file_0000000047f882308af83e40b22f096a.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1176605/original/028391000_1458444646-20160319-Earth-Hour-di-kawasan-Bundaran-HI-Fanani-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3929526/original/096494900_1644470631-jesse-schoff-Ph2KtIqKs7c-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9349154/original/070984700_1789475303-WhatsApp_Image_2026-09-15_at_7.23.17_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5349953/original/059135700_1757945389-Bapenas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346936/original/048560000_1789222746-WhatsApp_Image_2026-09-12_at_19.50.01.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5010796/original/017006400_1731931573-20241117_084948.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3518881/original/000279300_1627027346-karbon_un.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346407/original/065215400_1789134579-WhatsApp_Image_2026-09-11_at_8.17.12_PM.jpeg)