Indonesia Vs Thailand: Duel Klasik Sarat Gengsi

Pertandingan ini akan ditayangkan secara langsung oleh SCTV pukul 19.30 WIB.

Diterbitkan 21 Desember 2013, 14:04 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
ada tiga pekerjaan rumah bagi skuad Garuda Muda. Pertama, jangan beri ruang gerak leluasa lawan, untuk itu gelandang-gelandang pekerja Indonesia yang dimotori oleh Pellu dan Dedi perlu ekstra kerja keras "merusak" ritme permainan Thailand, dan lebih berani mengganggu penguasaan bola para pemain lawan.

Thailand punya barisan gelandang yang memiliki kecepatan dan mengandalkan ketangguhan. Pergerakan mereka dinamis, mencari ruang leluasa untuk membidik lubang pertahanan lawan. Ini lantaran pelatih Senamuang boleh jadi menerapkan formasi 4-3-3, dengan bertumpu kepada tiga gelandang serang yakni Charry, Pokkao, Chutipol.

Pekerjaan rumah kedua ditujukan kepada barisan pertahanan Indonesia, yakni Diego, Syaifudin, Manahati, Alfin.

Pengambilan posisi yang tepat, ketenangan mengantisipasi pergerakan setiap lawan utamanya saat berada di area penalti daerah sendiri, dan tetap tampil fokus menjaga setiap jengkal wilayah pertahanan, menjadi hal yang mutlak dilakukan keempat pemain itu.

Dalam pertandingan kali lalu, para pemain Thailand banyak melepas operan-operan panjang langsung ke jantung pertahanan Indonesia. Tinggal sekarang, apakah barisan pertahanan Indonesia punya ketahanan fisik dan mental untuk meladeni kecepatan para pemain depan Thailand yang nota bene siap tampil ngotot.    

Acungan jempol secara khusus dapat diberikan kepada duet Manahati dan Syaifudin ketika keduanya mampu menghalau pergerakan para pemain depan Malaysia. Untuk Diego dan Alvin, perannya ketika menghadapi Thailand, perlu lebih fokus ke lini pertahanan, meski masih terbuka opsi bagi keduanya mendukung lini tengah skuadnya.

Meski ada ungkapan klasik bahwa "bertahan yang baik adalah menyerang", maka kali ini hasrat untuk "bertahan yang baik adalah bertahan" perlu dipertimbangkan oleh pelatih Rahmad Darmawan ketika menghadapi Thailand. Alternatifnya, skuad Garuda Muda dapat melakukan serangan balik yang cepat untuk membuat kejutan bagi lawan.

Ketiga, tim Indonesia sedapat mungkin mengurangi kesalahan elementer yang dapat dimanfaatkan Thailand. Tampil fokus selama pertandingan dan tidak panik ketika lawan menyerang, menjadi pelajaran bermakna dari kekalahan Indonesia.

Dan ada satu pelajaran bermakna bahwa pada 2011, Indonesia juga mencapai final. Namun, saat itu Titus Bonai dan kawan-kawan gagal meraih emas setelah ditaklukkan Malaysia 3-4 lewat babak adu penalti setelah bermain imbang 1-1 hingga babak tambahan. (Ant/Jnp)

Baca Juga:
Hadapi Thailand, RD: Ini Masalah MentalIndonesia Vs Thailand: Saatnya Rebut Emas!
Jadwal Siaran Langsung Sepakbola Malam dan Dini Hari Nanti

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Jonathan Pandapotan Purba, JnpTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan