Pressing vs Possession: Siapa Penguasa Sejati Final Liga Champions 2025?

Pressing telah menjadi obsesi sepak bola modern, seolah menjadi syarat utama untuk jadi juara. Namun, final Liga Champions 2025 antara PSG dan Inter Milan menunjukkan arah berbeda: Kualitas teknis jadi penentu utama.

Diperbarui 30 Mei 2025, 10:39 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Nicolo Barella melengkapi trio ini dengan energi dan kecerdasan. Ia mungkin dikenal karena intensitasnya, tapi kini lebih sering membuat keputusan matang ketimbang sekadar berlari tanpa arah.

Strategi Tanpa Bola yang Berbasis Kecerdikan

Baik PSG maupun Inter tetap melakukan pressing, namun bukan pressing buta. Mereka menyesuaikan pola, kadang man-to-man, kadang zona dengan jebakan kolektif.

Uniknya, Inter jarang mengandalkan dribbling untuk membuka ruang. Sebaliknya, mereka mengedepankan passing dan rotasi posisi, bahkan melibatkan bek tengah untuk maju ke lini tengah saat membangun serangan.

Semua itu muncul sebagai respons atas tekanan tinggi dalam sepak bola modern. Ketimbang melawan pressing dengan tenaga, mereka memilih bermain dengan otak.

Final Liga Champions 2025: Adu Otak, Bukan Otot

Pressing tetap penting, tapi bukan elemen paling memesona dari laga final kali ini. Siapa pun pemenangnya, kita seharusnya fokus pada kualitas teknikal lini tengah yang menentukan ritme permainan.

PSG dengan poros Neves–Ruiz–Vitinha menawarkan harmoni antara kekuatan fisik dan flair bermain. Inter membalas dengan trio veteran cerdas: Calhanoglu, Mkhitaryan, dan Barella.

Final ini bisa menjadi titik balik bagi sepak bola modern. Saat dunia mulai lelah dengan sepak bola berbasis tekanan, para maestro lini tengah siap membuktikan: menguasai bola tetap seni tertinggi dalam permainan ini.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Richard Andreas LuturmasTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan