Pressing vs Possession: Siapa Penguasa Sejati Final Liga Champions 2025?

Pressing telah menjadi obsesi sepak bola modern, seolah menjadi syarat utama untuk jadi juara. Namun, final Liga Champions 2025 antara PSG dan Inter Milan menunjukkan arah berbeda: Kualitas teknis jadi penentu utama.

Diperbarui 30 Mei 2025, 10:39 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Pressing telah menjadi obsesi sepak bola modern, seolah menjadi syarat utama untuk jadi juara. Namun, final Liga Champions 2025 antara PSG dan Inter Milan menunjukkan arah berbeda: Kualitas teknis jadi penentu utama.

Kedua finalis memang mampu menekan lawan dengan intensitas tinggi, tapi justru kemampuan mereka dalam menguasai bola yang lebih mencolok. Final ini bukan sekadar adu stamina, tapi duel para gelandang jenius yang lebih suka mengontrol bola ketimbang mengejarnya.

Ketika pertandingan besar biasanya ditentukan oleh siapa yang paling agresif, laga ini berpotensi mengubah narasi. Kita tak lagi bicara siapa paling cepat merebut bola, tapi siapa paling pintar menggunakannya.

Evolusi Pressing: Dari Senjata Utama Menjadi Sekadar Pelengkap

Selama satu dekade terakhir, pressing mendominasi diskursus taktik sepak bola. Kecepatan berlari dan agresivitas dianggap sebagai kualitas wajib, bahkan lebih penting dari skill olah bola.

Namun, ketika pemain dipilih karena daya lari alih-alih kemampuan menguasai bola, sepak bola kehilangan daya tarik estetisnya. Apa jadinya jika bintang dunia lebih senang saat lawan menguasai bola demi bisa menekan?

Kritik Ralf Rangnick terhadap Cristiano Ronaldo jadi contoh ekstrem dari tren ini. Ronaldo dianggap tak cocok karena tak antusias menekan, padahal esensi sepak bola adalah menguasai bola, bukan sekadar merebutnya.

PSG: Pressing Cerdik dan Lini Tengah Bertalenta

PSG era baru tidak lagi mengandalkan trio non-defensif seperti Messi, Neymar, dan Mbappe. Kini, mereka tampil kompak, agresif, tapi juga memukau secara teknis di lini tengah.

Joao Neves merangkum filosofi mereka dengan baik: “Kami lebih baik bermain dengan bola. Cara terbaik bertahan adalah dengan membawa bola di kaki,” katanya sebelum semifinal melawan Arsenal.

Neves, Fabian Ruiz, dan Vitinha membentuk poros yang tidak hanya kuat dalam merebut bola, tetapi sangat nyaman menguasainya. Rotasi posisi mereka sering kali membuat lawan bingung membedakan siapa yang bermain sebagai regista, mezzala, atau trequartista.

Inter Milan: Harmoni Kreatif di Jantung Permainan

Inter justru tampil lebih teknikal dibanding PSG. Gelandang terdalam mereka, Hakan Calhanoglu, memulai karier sebagai playmaker klasik sebelum menjadi pengatur ritme seperti Pirlo.

Di depannya, Henrikh Mkhitaryan yang dulu dikenal sebagai pencetak gol andalan kini jadi penghubung antar lini yang lebih tenang dan berpengalaman. Pada usia 36 tahun, ia tampil seperti maestro sejati di laga-laga besar.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Nicolo Barella melengkapi trio ini dengan energi dan kecerdasan. Ia mungkin dikenal karena intensitasnya, tapi kini lebih sering membuat keputusan matang ketimbang sekadar berlari tanpa arah.

Halaman
Show All
Richard Andreas LuturmasTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan