Olimpico Jadi Saksi Jatuhnya Milan: Kartu Merah, Kekalahan, dan Kegagalan ke Eropa

Kekalahan dari Roma sekaligus menjadi penegas atas kegagalan Milan meraih tiket Liga Champions, Liga Europa, ataupun Conference League.

Diperbarui 19 Mei 2025, 10:55 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta AC Milan menuju penutup musim 2024/25 dengan kepahitan. Kekalahan 1-3 dari AS Roma pada pekan ke-37 di Olimpico memastikan mereka tidak akan tampil di kompetisi Eropa musim depan. Kekalahan ini sekaligus menjadi penegas atas kegagalan mereka meraih tiket Liga Champions, Liga Europa, ataupun Conference League.

Duka ini datang hanya beberapa hari setelah kekalahan 0-1 dari Bologna di Final Coppa Italia. Dua kali bertanding di Olimpico dalam sepekan, dua kali pula Milan pulang dengan kepala tertunduk. Semua harapan mereka untuk menutup musim dengan pencapaian manis pun buyar.

Duel kontra Roma sebenarnya dimulai dengan cepat dan intens. Gianluca Mancini membuka keunggulan tuan rumah hanya tiga menit setelah laga dimulai. Milan mencoba bangkit, tetapi situasi makin rumit setelah Santiago Gimenez diganjar kartu merah.

Pelatih Milan, Sergio Conceicao, mengakui atmosfer di ruang ganti sudah sulit sejak kekalahan di final. “Mood setelah final sulit diperbaiki. Insiden-insiden seperti ini terjadi bukan hanya kemarin, tapi juga sepanjang lima bulan saya di sini. Selalu negatif bagi kami, dan positif bagi lawan, entah karena kesalahan kami sendiri atau dari pihak lain,” ujarnya kepada DAZN, seperti dikutip Football Italia.

Kartu Merah Gimenez dan Kontroversi VAR

Kartu merah untuk Gimenez menjadi momen krusial dalam laga. Sang striker tertangkap VAR menyikut dada Mancini dalam sebuah duel dan dianggap melakukan tindak kekerasan. Milan bermain dengan 10 orang sejak menit ke-21, situasi yang sangat menyulitkan di laga sekrusial ini.

Yang membuat Conceicao naik pitam adalah inkonsistensi perangkat pertandingan. Dia membandingkan insiden Gimenez dengan pelanggaran Sam Beukema terhadap Matteo Gabbia di final Coppa Italia. Dalam kasus itu, VAR tidak bertindak.

“VAR dan AVAR hari ini sama seperti saat melawan Bologna. Saya tidak bilang kartu merah untuk Gimenez tidak pantas. Saya sendiri belum melihat tayangannya, tapi insiden yang sama terjadi pada Gabbia dan VAR tidak memanggil wasit saat itu,” tegas Conceicao.

Pelatih asal Portugal itu menyayangkan momen-momen seperti ini terjadi di tengah upaya Milan merebut tiket Eropa. “Kami sedang berjuang untuk posisi Eropa. Saya akui kami seharusnya tampil lebih baik di final, tapi detail seperti ini membuat semuanya makin sulit,” tambahnya.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Meski kekurangan pemain, Milan sempat menyamakan kedudukan lewat Joao Felix. Bola rebound disambar setelah tembakan Alex Jimenez ditepis Mile Svilar. Namun, Roma kembali unggul melalui tendangan bebas Leandro Paredes yang mengejutkan Mike Maignan. Maignan sempat menggagalkan dua peluang beruntun dari Angelino, tetapi tidak bisa berbuat banyak saat Bryan Cristante melepaskan tembakan keras dari luar kotak penalti. Skor akhir 3-1 menutup malam kelabu bagi Milan. Conceicao mencoba tetap objektif atas hasil ini. “Kami punya peluang melalui Luka dan Rafa, tapi kehabisan tenaga. Tidak seharusnya kami kebobolan lewat situasi bola mati seperti itu,” katanya. Dia juga menyayangkan bahwa Roma bisa mencetak gol meski tak banyak menguasai bola di babak pertama. Milan tak hanya kehilangan poin, tetapi juga sang pelatih. Conceicao diusir keluar lapangan karena protes dan tidak akan menemani tim di laga terakhir musim ini. Banyak yang meyakini ini adalah laga terakhirnya di bangku cadangan Rossoneri.

Halaman
Show All
Gia Yuda PradanaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan