Bola Ganjil: Turunkan 4 Pemain Jadi Penjaga Gawang, Kiper Dadakan Terakhir Sukses Mentahkan Penalti

Kiper merupakan posisi istimewa dalam sepak bola. Selain jadi satu-satunya pemain yang boleh menggunakan tangan, meski sebatas kotak penalti sendiri, hanya ada satu orang yang bisa mengisinya.

Diterbitkan 31 Desember 2023, 00:31 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Di balik gemerlap tersebut, ternyata ada noda pada kiprah Kopke di lapangan hijau. Dia tercatat sebagai pemain Jerman yang paling sering terkena degradasi. Kopke merasakannya enam kali, meski cuma bermain untuk tujuh klub.

Kopke merasakan pengalaman pahit pertama bersama klub kota kelahiran Holstein Kiel. Bersamanya, Holstein Kiel tergusur ke Divisi III pada 1981 ketika Kopke masih berusia 20 tahun.

Dia lalu pindah ke SC Charlottenburg. Di sana Kopke kembali gagal membantu klub bertahan di Divisi II pada 1984. Siklus serupa terulang ketika dirinya hijrah ke Hertha Berlin dua tahun berselang.

Kopke mencari peruntungan baru di Nurnberg. Di sanalah dia membangun reputasi sebagai salah satu penjaga gawang terbaik Jerman. Namun, tren buruk belum menghilang. Nurnberg tergusur ke Divisi II tahun 1994.

Sosok kelahiran 12 Maret 1962 ini lalu direkrut klub Bundesliga lain Eintracht Frankfurt. Sayang, langkah itu bisa jadi disesali. Pasalnya, Frankfurt juga turun kasta pada 1996.

Kopke membuang sial dan pergi meninggalkan Jerman. Dia hijrah ke Prancis untuk membela Olympique Marseille. Uniknya, di sana Kopke tidak merasakan degradasi.

Sudah memasuki 37 tahun, Kopke kembali ke Nurnberg demi menutup karier. Sayang nasib sial kembali menghantui. Nurnberg tergusur dari Bundesliga pada musim pertamanya usai pulang kampung tahun 1999.

Setidaknya Kopke bisa menebus dosa. Dia menetap di sana dan membantu Nurnberg kembali ke Bundeslita pada 2001 sebelum gantung sarung tangan.

Cadangan Abadi di Turnamen Besar Sepak Bola

Lain lagi dengan para kiper pelapis. Mereka kerap masuk skuad turnamen, dia tidak pernah bermain di kompetisi utama.

Lars Eriksson merupakan pelapis Thomas Ravelli saat Swedia bermain di Piala Dunia 1990 dan 1994, plus Piala Eropa 1992.

Sementara Martin Silva lebih tragis lagi. Dengan Fernando Muslera jadi penjaga gawang utama Uruguay sejak 2009, para kiper lain harus terima hanya menghias bangku cadangan.

Tidak tanggung-tanggung, Silva sama sekali tidak bermain meski masuk skuad untuk tujuh turnamen. Rinciannya adalah Piala Dunia 2010, 2014, 2018, serta Copa America 2011, 2015, 2016, dan 2019 Copa America.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Harley Ikhsan, Marco TampubolonTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan