Banyak Dikritik, Begini Respon Komite Penyelenggara Piala Dunia 2022

Berbagai kritikan, terbaru dari Australia, mendapat respon cepat dari Qatar dan menunjukkan mereka makin terbuka menanggapi berbagai isu yang ada terkait Piala Dunia 2022.

Diterbitkan 31 Oktober 2022, 23:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Komite itu juga mengatakan, reformasi baru-baru ini yang diprakarsai oleh pemerintah Qatar akan mengubah budaya tempat kerja tetapi membutuhkan waktu untuk diterapkan sepenuhnya.

Reformasi ketenagakerjaan pemerintah Qatar diakui oleh ILO (Organisasi Buruh Internasional), ITUC, (Konfederasi Serikat Buruh Internasional) dan banyak organisasi hak asasi manusia sebagai patokan di kawasan itu.

Animo

Undang-undang dan reformasi baru, lanjutnya, sering membutuhkan waktu untuk diterapkan, dan penerapan undang-undang perburuhan yang kuat merupakan tantangan global, termasuk di Australia.

"Tidak ada negara yang sempurna dan setiap negara - tuan rumah acara besar atau tidak - memiliki tantangannya sendiri."

 "Piala Dunia ini telah berkontribusi pada warisan kemajuan, latihan yang lebih baik, dan peningkatan kehidupan."

"Ini adalah warisan yang akan bertahan lama setelah bola terakhir ditendang," kata komite.

Meski banyak mendapatkan aksi protes atas dugaan pelanggaran hak asasi manusia selama pengerjaan infrastruktur, hal ini dinilai tak mengurangi animo orang-orang untuk datang.

Diperkirakan sebanyak lebih dari satu juta orang akan datang menyaksikan Piala Dunia 2022.

Dampak Besar

Jumlah tersebut diperkirakan bakal bertambah mengingat permintaan tiket begitu tinggi pada Piala Dunia edisi kali ini.

Presiden FIFA, Gianni Infantino, mengungkapkan bahwa penjualan tiket memecahkan rekor yang terbanyak selama sejarah Piala Dunia.

"Piala Dunia 2022 ini sudah memiliki dampak besar di Timur Tengah," kata Infantino, dikutip dari laman resmi FIFA.

"Turnamen ini juga merupakan kesempatan bagi Qatar dan seluruh kawasan Teluk untuk menampilkan diri kepada dunia dengan cara lain dan menyingkirkan, sekali dan untuk semua, beberapa prasangka yang sayangnya ada."

"Momen itu pasti akan membantu untuk mendapatkan lebih banyak saling pengertian antara orang-orang dari budaya dan latar belakang yang berbeda, saya yakin akan hal itu."

"Kami akan memiliki dua juta orang yang datang dari seluruh dunia dan menunjukkan bahwa umat manusia dapat hidup damai bersama," ujar Infantino.

Lebih lanjut lagi, Infantino menaruh harapan tinggi bahwa sepakbola bisa lebih masif lagi perkembangannya di daerah Teluk. Sepakbola juga bisa menjadi hiburan murah dan bisa dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.

"Sepakbola bukan milik eksklusif segelintir orang, ini adalah olahraga dunia dan kita perlu membuatnya tumbuh di seluruh dunia,".

"Di beberapa bagian dunia mungkin ada terlalu banyak sepak bola, di bagian lain tidak ada cukup sepak bola papan atas," tutur Infantino mengakhiri.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Yo Kavya, Defri SaefullahTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan