Cerita Indonesia Lolos ke Piala Dunia 1938

FIFA mengakui Indonesia sebagai negara Asia pertama yang mengikuti Piala Dunia dengan mengusung nama Hindia Belanda di Piala Dunia 1938 Prancis.

Diperbarui 17 Oktober 2022, 17:37 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Hari Bersejarah Sepak Bola Indonesia

Sepak bola berkembang pesat di Hindia Belanda pada era 1930-an, di mana Persatuan Sepak Bola Hindia Belanda (NIVU) didirikan.

Ada sekitar 400 klub dengan 4.000 anggota. Tetapi tidak ada persaingan nyata karena sebagai wilayah kepulauan, Hindia Belanda terlalu besar dan transportasi menjadi kendala utama pada zaman itu.

Karenanya model kompetisi yang dilaksanakan di wilayah perkotaan banyak diadakan di Jawa dan Sumatera. Tim pemenang dari masing-masing kota dan pulau, kemudian bermain untuk kejuaraan Hindia Belanda.

Sejumlah pemain pilihan dari Kejuaran Hindia Belanda tersebut, kemudian pergi ke Prancis untuk menghadapi salah satu negara kuat sepak bola kala itu, Hongaria pada 5 Juni 1938 di Kota Reims, Prancis.

Piala Dunia saat itu, dikemas sederhana, dari mulai penentuan peserta hingga sistem kompetisi gugur. Mereka yang kalah harus angkat koper.

Dinikmati lewat Siaran Radio

Di Stadion Velodrome Municipal, Reims, di depan 20.000 penonton, Hindia Belanda turun ke lapangan. Tim bermain dengan kostum oranye, celana pendek putih, dan kaus kaki biru muda.

Sejak awal Hindia Belanda tidak akan mudah melakoni pertandingan lawan Hungaria. Pada saat itu, Hungaria dianggap sebagai kekuatan besar sepak bola dan merupakan favorit untuk gelar juara dunia. Benar saja, Indonesia dihancurkan Hungaria 0-6.

Di Hindia Belanda sendiri, suporter sepak bola bisa mendengarkan siaran langsung radio Wereldomroep yang dipandu penyiar Han Hollander. Setelah 45 menit, skor sudah 4-0 untuk Hungaria.

Di babak kedua, Hungaria memutuskan untuk bermain santai. Mereka melambat dan mencetak skor hanya dua kali. Hindia Belanda tidak dapat menolak kenyataan kalah kelas dari Hungaria.

Setelah 90 menit bermain, tim harus pulang meninggalkan turnamen. Tetapi kalah telak, tak membuat skuat Hindia Belanda tertunduk lesu. Tawa kebahagian karena sudah tampil di kejuaraan dunia sepak bola, tetap jadi kebanggaan. Apalagi menghadapi Hungaria yang kemudian menapak hingga final, sebelum dikalahkan Italia.

Catatan Perjalanan Nawir

Selama sepekan perjalanan dengan perahu harus ditempuh untuk satu pertandingan sepak bola. Tapi itu semua sepadan. Setelah itu, kapten Nawir menulis dalam laporan perjalanannya: 'Ini tentang olahraga, yang menciptakan kegembiraan dalam hidup dan tidak berubah menjadi wajah muram dari orang-orang yang sangat menginginkan kesuksesan murni.'

Sebuah pemikiran yang bagus, tetapi majalah Belanda Sportkroniek menulis dengan sinis dan menilai kinerja Hindia Belanda saat hadapi Hungaria jauh dari harapan.

"Titik terlemahnya adalah mereka memainkan playmaking yang sangat lemah, atau sebenarnya para pemain sama sekali tidak tahu apa itu playmaking. Apa yang dilakukan seorang pemain ketika tidak menguasai bola sama pentingnya dengan ketika seorang pemain menguasai bola. Dan para pemain Hindia Belanda belum mengetahuinya, karena ketika mereka tidak menguasai bola, mereka biasanya tidak melakukan apa-apa," tulis Sportkroniek.

Tetapi, reporter radio Han Hollander jauh lebih baik dalam menyampaikan narasi perjuangan para pemain Hindia Belanda saat hadapi Hungaria. Jurnalis radio olahraga pertama di Belanda itu, memuji para pemain atas semangat juang mereka.

Hindia Belanda Hadapi Belanda setelah Piala Dunia 1938

Di Piala Dunia 1938, Radio Wereldomroep juga menyiarkan langsung pertandingan Belanda melawan Cekoslowakia. Sama halnya dengan Hindia Belanda, Belanda juga menelan kekalahan setelah takluk 0-3.

Oranye Besar dan Oranye Kecil sama-sama harus angkat koper untuk meninggalkan Prancis 1938. Beberapa pekan kemudian, Hindia Belanda melawan Belanda dalam pertandingan di Stadion Olimpiade Amsterdam.

Oranye Besar menghancurkan Oranye Kecil dengan skor 9-2. Tetapi kekalahan telak itu, tak membuat hati para pemain Hindia Belanda ikutan hancur. Momen pertemuan dengan Pangeran Bernhard, lebih membahagiakan dan tak terlupakan ketimbang memikirkan kekalahan besar di lapangan hijau.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Mohamad Taufik, Harley IkhsanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan