Bola Ganjil: Tukang Jahit Pengubur Mimpi Argentina

Simak kisah Rudolf Kreitlein, wasit yang keputusannya membuat Argentina tersingkir dari Piala Dunia 1966.

Diperbarui 18 November 2020, 21:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Namun Kreitlein kesulitan menghadapi itu. Keberpihakan mulai merambat pikirannya, terutama melihat pelatih Argentina Juan Carlos Lorenzo yang selalu protes dari pinggir lapangan.

Standar ganda pun diterapkan. Dalam pemahaman Kreitlein, Inggris melakukan pelanggaran karena terlambat melakukan tekel. Sementara Argentina dinilainya menjegal lawan dengan pertimbangan dan kesengajaan.

Pola pikir itu mendasari keputusan Kreitlein, meski Inggris membuat 30 pelanggaran, hampir dua kali lebih banyak dari Argentina (17) dalam 90 menit.

Tidak Suka Wajah

Kapten Argentina Antonio Rattin menyadari itu dan bertanya kepada Kreitlein, meski keduanya berbeda bahasa ibu. Memiliki latar belakang militer dan otoritasnya dipertanyakan, Kreitlein merasa Rattin sudah melampaui batas. Pada menit ke-35, dia mengusir sang pemain keluar lapangan.

Dalam wawancara dengan Daily Express bertahun-tahun kemudian, Kreitlein mengungkapkan alasan di balik sikapnya itu. "Melihat wajahnya saja sebenarnya sudah cukup," ujar Kreitlein.

Rattin marah besar begitu menyadari keputusan Kreitlein. Dia menolak meninggalkan lapangan dan mengkonfrontir wasit. Pengawas wasit asal Inggris Ken Aston terpaksa masuk dan mencoba membujuk Rattin keluar.

Tapi kubu Argentina semakin marah. Mereka menganggap Inggris dan Jerman Barat berkonspirasi untuk menyingkirkan tim dari turnamen. Setelah beberapa waktu, Rattin akhirnya keluar dikawal polisi. Argentina tumbang 0-1 di laga ini akibat gol Geoff Hurst.

FIFA tidak memberi komentar mengenai kinerja Kreitlein. Meski begitu, mengusir wasit hanya karena protes dan wajah terasa sangat berlebihan, baik jika dilihat dalam kacamata sepak bola dulu atau sekarang.

Setidaknya insiden tersebut membawa dampak positif bagi dunia wasit. Kreitlein dan para kolega sadar dibutuhkan bahasa universal agar semua mengerti. Kartu kuning dan merah pun mulai digunakan pada Piala Dunia 1970.

Kontroversi Kedua

Kreitlein bekerja sebagai wasit di Bundesliga selama tiga tahun lalu. Dia kembali terlibat kontroversi pada musim 1967/1968 ketika mengusir pemain untuk kali kedua. Jelang berakhirnya laga Koln vs Hannover, Kreitlein mengusir idola Hannover Jurgen Bandura karena mengguruinya.

Semua karena masalah sepele. Hannover mendapat tendangan bebas yang bakal diambil Bandura. Namun, dia merasa tembok lawan terlalu dekat. Sang pemain lalu protes dan mengukur sendiri jarak lokasi tendangan bebas dan tembok.

Keputusan Kreitlein kali ini mendapat reaksi lebih keras. Pada 1966, dia 'hanya' dikawal polisi dari amarah skuat Argentina. Kali ini, suporter Hannover menerornya berminggu-minggu. Mereka mengancam akan menculik istri Kreitlein dan membakar toko jahitnya di Stuttgart.

Kreitlein terus bekerja sebelum gantung peluit semusim kemudian. Dia meninggal pada Juli 2012 di usia 92 tahun.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Harley Ikhsan, Marco TampubolonTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan