KOLOM: Sepak Bola Indonesia Itu Cerah, Bung!

Sepak bola Indonesia sedang dalam kondisi cerah. Prospek timnas Indonesia menjanjikan.

Diterbitkan 22 September 2017, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Lolos ke Piala Asia U-16 tak bisa dipandang sebelah mata. Kita terakhir kali melakukannya pada 2010. Sudah tiga perhelatan kita absen. Jadi, andai kali ini lolos, itu pencapaian yang harus diapresiasi. Apalagi jika diguratkan dengan catatan istimewa. Tak tersentuh kekalahan selama kualifikasi, misalnya.

Gebrakan tim asuhan Indra dan Fachri adalah sebuah asa untuk negeri ini. Asa untuk melihat merah-putih berkibar gagah di kancah sepak bola. Asa untuk mewujudkan Garuda Nusantara Juara. Melihat talenta-talenta yang ada, menilik cara bermain mereka, kita bisa optimistis. Masa depan sepak bola Indonesia itu cerah, Bung!

Membangun Jembatan

Hal terpenting sekarang adalah menjaga dan mengawal para talenta itu. Bukan rahasia, banyak pemain kita yang semasa junior oke punya, tapi menghilang entah ke mana saat memasuki tim senior. Dari talenta luar biasa, tak jarang pesepak bola kita lantas hanya jadi biasa-biasa saja, semenjana.

Perlu diingat, itu bukan fenomena eksklusif milik Indonesia. Di belahan dunia mana pun, tak selalu pemain hebat di usia muda akan jadi bintang besar. Bahkan di negeri-negeri dengan kultur sepak bola kuat macam Brasil dan Argentina pun begitu. Juga di negara yang saat ini dikenal punya pembinaan bagus, Jerman. Saat ini, hanya Toni Kroos, bintang yang sudah memperlihatkan kelasnya sejak di timnas U-17. Di belakangnya adalah Emre Can, Marc-Andre ter Stegen, dan Mario Goetze.

Pengalaman negara-negara lain, juga pengalaman kita selama ini, adalah pelajaran berharga bagi otoritas sepak bola negeri ini. Perlu sebuah upaya untuk mengawal generasi emas yang ada agar setidaknya satu atau dua orang benar-benar menjadi bintang. Caranya dengan lebih serius menata kompetisi junior di berbagai tingkat secara kontinu serta mendorong para pelatih dan klub profesional untuk akomodatif terhadap mereka.

Ini penting agar kemampuan para talenta muda itu terus terasah dan meningkat. Bagaimanapun, tempaan terbaik adalah kompetisi. Bila anak-anak umur 16 hingga 18 tahun ini tak punya wadah yang baik, sangat mungkin kemampuan mereka malah menurun, bukannya menanjak. Kita bisa lihat lulusan tim juara Piala AFF U-19 edisi 2013. Tak ada yang benar-benar menjadi bintang. Jika dibandingkan dengan performa empat tahun yang lalu, Evan Dimas saja terlihat menurun.

Pelatih dan pemain Timnas Indonesia U-19 foto bersama saat tiba di Bandara Soetta, Tangerang, Rabu (20/9/2017). Timnas U-19 kembali ke tanah air setelah berhasil meraih peringkat ketiga Piala AFF U-18. (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Dari generasi Egy Maulana, juga Sutan Diego Armando Ondriano Zico, tak bisa dimungkiri, kita mendambakan sebuah sensasi. Jika bukan seperti Messi, setidaknya seperti Pietro Pellegri. Ya, Pellegri, pemain belia yang saat ini membela Genoa di Serie-A.

Pellegri adalah sensasi. Akhir tahun lalu, dia memecahkan rekor pemain termuda dalam sejarah Serie A. Dia menumbangkan rekor lama milik Amadeo Amadei yang telah bertahan hampir sepuluh windu lamanya. Pekan lalu, dia kembali mengukir rekor. Torehan dua gol ke gawang Lazio menjadikan dia pencetak brace 'dua gol dalam satu pertandingan' termuda di Serie A. Lagi-lagi, dia menumbangkan rekor seorang legenda. Kali ini milik Silvio Piola yang dibuat pada 1931.

Pellegri memang bukan Messi. Namun, dia tetaplah warna tersendiri. Warna itu sekaligus juga asa baru Italia yang tak lagi memiliki golden boy dan poster boy selepas era Alessandro del Piero dan Francesco Totti. Dia, juga Gianluigi Donnarumma, adalah representasi masa depan Gli Azzurri.

Berani Bertualang

Hal lain yang tak kalah penting, mendorong para talenta yang ada untuk berani bertualang ke luar negeri. Ini penting karena generasi pesepak bola kita sekarang yang berkutat di dalam negeri ya begitu-begitu saja. Kita butuh sebuah generasi yang mau dan mampu menaklukkan negeri-negeri lain. Bukan hanya demi menaikkan kemampuan, melainkan juga mengharumkan nama bangsa di pentas internasional.

Sudah bukan rahasia, mentalitas pemain kita soal yang satu ini masih lemah. Mereka seperti minder bila harus berkiprah di luar Indonesia. Padahal, ini penting karena faktanya pemain yang berkutat di dalam negeri tidak menunjukkan perkembangan signifikan. Alasan yang mengemuka bisa macam-macam. Culture shock, sulit melawan rindu kampung halaman, dan kendala bahasa adalah hal-hal yang kerap jadi dalih pembenaran.

Padahal, deretan alasan itu adalah hal yang lumrah saja. Siapa pun dan dari mana pun dia, pasti mengalami gegar budaya saat bertualang di negeri orang. Bahkan, Messi pun mengalami hal tersebut. Namun, itu adalah tantangan yang harus ditaklukkan, bukan momok yang mesti dihindari.

Pemain Indonesia U-19, Egy Maulana Vikri, melakukan selebrasi usai menjebol gawang Myanmar pada laga Piala AFF U-18 di Stadion Thuwunna, Minggu (17/9/2017). Egy Maulana menjadi top skorer Piala AFF U-18 dengan delapan gol. (Liputan6.com/Yoppy Renato)

Saat pertama kali menimba ilmu di La Masia, Messi kerap disergap rindu kepada ibunya. Setiap empat bulan sekali pulang ke Argentina, kaki dan hatinya selalu terasa berat untuk kembali ke Spanyol. Namun, dia melawan itu karena tahu bahwa sepak bola adalah hidupnya. Andai tetap di Argentina, dia tak akan menjadi pesepak bola yang lebih baik.

Soal bahasa, banyak contoh yang bisa dijadikan cermin. Sebut saja Franck Ribery. Saat bergabung dengan Bayern Muenchen pada 2007, dia tak menguasai bahasa Jerman. Namun, dia bisa bertahan satu dekade dan menjadi bintang di Bundesliga. Bahkan, dia diakui sebagai salah satu legenda di Bayern dan Liga Jerman. Sebelumnya, saat berumur 22 tahun, dia juga mengelana di Turki yang jelas tak memakai Prancis, bahasa ibunya, sebagai bahasa utama.

Aksi Lionel Messi saat membawa dari kejaran pemain Eibar pada pertandingan La Liga Spanyol di stadion Camp Nou di Barcelona, Spanyol, (19/9). Barcelona menang telak 6-1 atas SD Eibar. (AFP Photo/Pau Barrena)

Tak perlu berfantasi terlalu tinggi. Tengok saja ke negara-negara jiran. Bila ada yang memiliki kompetisi lebih bagus, beranilah mengadu nasib di sana dalam usia muda. Ini lebih baik ketimbang berkutat di liga nasional yang begini-begini saja. Berjuang di negeri orang memang supersulit karena standar yang jauh lebih tinggi. Namun, itu bukan kemustahilan.

Di antara para pesepak bola kita masa kini, selain Diego Zico, ada pula Osvaldo Ardiles Haay dan Gianluca Pagliuca Rossy. Itu adalah nama-nama yang mengingatkan kita kepada pemain-pemain hebat di sepak bola dunia. Kita tentu berharap generasi mereka benar-benar menginternasional. Terutama talenta-talenta yang saat ini kita lihat memiliki kemampuan spesial macam Sutan Diego Zico dan Egy Maulana.


*Penulis adalah pengamat sepak bola dan jurnalis. Tanggapi kolom ini @seppginz.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Liputan6.com, Defri SaefullahTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan