Tangis Bahagia Mantan Kernet Bus Peluk Trofi Bernilai Rp 400 M

Dia duduk sendiri di bench, sementara rekan lainnya sudah berdiri di pinggir lapangan. Dia sengaja menutupi wajah dengan dua telapak tangan

Diterbitkan 28 Mei 2015, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Sepakbola tidak ada dalam kamus hidupnya. 

"Di usia 20 tahun saya masih tinggal di kampung halaman. Saya bekerja sebagai seorang kernet. Saat itu hidup terasa sulit. Pekerjaan saya menarik karcis bus. Saya berasal dari keluarga yang sangat miskin dan harus mengumpulkan uang untuk menyambung hidup," ungkap Bacca.

Ketika itu, dia bahkan tidak berpikir menjadi pemain sepakbola. Namun suatu ketika, timbul niat iseng ikut latihan dengan klub lokal, Atletico Junior yang menggelar latih tanding dengan pemain di sekitar tempat tinggalnya. Tanpa diduga, melihat kemampuan Bacca, tim tersebut mengajaknya bergabung.

Padahal, Bacca sempat ragu sepakbola bisa menghasilakan uang. "Tapi sekarang, Puji Tuhan, saya beruntung Atletico Junior merekrut saya." Dari situ, sang pemain sadar sepakbola mampu mengubah nasibnya.

Bacca mengakui sempat merasa kesulitan ketika meretas karier. Terlebih, ketika kariernya jalan di tempat. Perasaan menyesal menjadi pemain sepakbola sempat dirasakan Bacca di tengah ketidakpastian. Terutama karena harus bermain di Divisi Dua dengan status pemain pinjaman dari Atletico Junior.

http://cdn1-a.production.liputan6.static6.com/medias/887090/big/017412700_1432757929-2015-05-27T195607Z_75758167_MT1ACI13769088_RTRMADP_3_FOOTBALL.JPG

"Masa kecil saya sangat keras. Ketika saya mulai mendapatkan uang, saya pikir saya mulai berhasil. Tapi saya salah," katanya.

Namun, semangat pantang menyerah membuatnya semakin bersinar terang. "Seorang pemberani tidak akan pernah membiarkan dirinya tenggelam, tetapi harus bangkit dan menjadi lebih kuat." Pedoman hidup itu dipegang teguh Bacca hingga kini. 

Sampai akhirnya, jerih payah Bacca mulai terlihat ketika bermain untuk klub Belgia, Club Brugge periode 2012-2013. Di musim itu, Bacca merebut gelar top-scorer dan pemain terbaik. Tokcer di Belgia, Sevilla kemudian meminangnya dua musim lalu. 

>Klimaksnya terjadi 27 Mei 2015 malam ketika dia menangis bahagia di Warsaw Polandia menyaksikan Sevilla menasbihkan diri sebagai juara Europa League.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Rejdo PrahanandaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan