Peringatan Bank Dunia: Harga BBM, Pangan, dan Emas Berpotensi Naik

Gara-gara konflik dan gangguan pasokan, Bank Dunia memperingatkan potensi lonjakan harga BBM, pangan, hingga emas yang mengancam biaya hidup.

Diterbitkan 30 Oktober 2026, 15:45 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Rumah tangga di Uni Emirat Arab (UEA) maupun berbagai belahan dunia kembali dihadapkan pada tekanan kenaikan harga bahan bakar, bahan pangan, dan kebutuhan pokok lainnya. Kondisi ini dipicu oleh proyeksi lonjakan harga komoditas global sebesar 23% pada 2026, menurut laporan terbaru Commodity Markets Outlook dari Bank Dunia.

Mengutip Gulf News, Jumat (30/10/2026), kenaikan tersebut dipicu oleh konflik di Timur Tengah, terganggunya pengiriman biji-bijian, serta tingginya tekanan pada pasokan energi. Dampaknya mengancam lonjakan biaya hidup bagi konsumen dan pelaku usaha, khususnya di negara-negara yang bergantung pada perdagangan komoditas internasional. 

Bagi warga UEA, dampaknya tidak hanya sebatas kenaikan harga bensin. Lonjakan harga energi global turut memengaruhi biaya transportasi, pangan impor, logistik, hingga barang kebutuhan sehari-hari. Tekanan serupa dialami rumah tangga di seluruh dunia, terutama di negara-negara yang sangat bergantung pada impor bahan bakar, biji-bijian,dan pupuk.

Bank Dunia memperkirakan harga energi bakal melambung 32% tahun ini, sekaligus mengakhiri tren penurunan yang sempat terjadi selama tiga tahun berturut-turut. Sementara itu, harga komoditas pangan diproyeksikan naik sekitar 10% pada 2026 dan berlanjut naik 7% pada 2027.

Proyeksi ini mengacu pada komoditas yang diperdagangkan secara internasional, bukan prediksi langsung terhadap inflasi konsumen atau harga di supermarket. Dampak riil bagi rumah tangga akan sangat bergantung pada penetapan harga lokal,kebijakan pemerintah, serta sejauh mana pelaku usaha membebankan kenaikan biaya tersebut kepada konsumen.

Harga Minyak Dongkrak Biaya Bahan Bakar dan Transportasi

Bank Dunia memproyeksikan harga minyak mentah Brent rata-rata berada di level US$ 91 per barel pada 2026, naik dari US$ 69 per barel pada 2025 sebelum akhirnya melandai ke US$ 79 pada 2027. Kenaikan ini mencerminkan gangguan pasokan imbas konflik Timur Tengah yang memaksa banyak negara mencairkan cadangan minyak mereka. 

Produksi minyak global diproyeksikan merosot 5,2% pada 2026, menjadi penurunan tahunan terbesar dalam lebih dari empat dekade terakhir di luar masa resesi global 2020. Di sisi lain, tingkat konsumsi juga diperkirakan menyusut 2,5%, yang merupakan penurunan terbesar ketiga dalam sejarah setelah tahun 1980 dan 2020.

Tingginya harga minyak menahan minat konsumsi, sementara tren elektrifikasi, terutama di China turut menekan permintaan minyak bumi.

Meski permintaan melandai, tingkat produksi diperkirakan tetap berada di bawah angka konsumsi. Kondisi ini memaksa penarikan cadangan minyak secara berlanjut dan membuat pasar sangat rentan terhadap gangguan pasokan lanjutan.

Bagi pengendara di UEA, pergerakan harga minyak internasional sangat krusial karena harga bensin dan solar domestik dievaluasi setiap bulan berdasarkan kondisi pasar global. Bagi dunia usaha secara global, dampaknya bakal menjalar ke biaya transportasi, pengapalan, dan distribusi. Pembengkakan biaya bahan bakar pada akhirnya meningkatkan biaya pengiriman barang antarnegara hingga distribusi produk ke toko-toko retail.

Harga Pangan Diproyeksi Naik 18% dalam Dua Tahun

Keterjangkauan harga pangan menjadi kekhawatiran tersendiri bagi masyarakat di UEA dan dunia. Bank Dunia memperkirakan harga komoditas pangan internasional bakal naik sekitar 10% pada 2026 dan bertambah 7% pada 2027, atau akumulasi kenaikan sekitar 18%. 

Gangguan pada pengiriman biji-bijian menghambat perdagangan internasional, sementara fenomena cuaca El Nino mengancam hasil panen sektor pertanian. Kenaikan harga bahan bakar dan pupuk pun melambungkan biaya produksi,pengolahan, hingga distribusi pangan.

Bagi konsumen di UEA, dinamika ini sangat berpengaruh mengingat ketergantungan yang tinggi pada rantai pasok pangan internasional. Kenaikan harga biji-bijian berpotensi mendongkrak biaya impor gandum dan sereal, sementara pembengkakan biaya transportasi dan bahan baku pertanian dapat memicu kenaikan harga bahan pokok secara lebih luas. 

Kondisi serupa mengintai konsumen di negara-negara pengimpor pangan lainnya. Dampaknya bahkan bisa lebih terasa di negara-negara berpenghasilan rendah, di mana porsi pengeluaran untuk membeli makanan mendominasi anggaran rumah tangga. Meski demikian, harga retail di UEA tidak serta-merta melonjak dengan persentase yang sama seperti komoditas global.

Tingkat persaingan lokal, kontrak pasokan, dan kendali harga pemerintah untuk barang kebutuhan pokok dapat menahan laju kenaikan di tingkat konsumen.

Harga Logam dan Emas Ikut Melesat

Harga logam industri diperkirakan naik 25% pada 2026 hingga menyentuh rekor baru. Kenaikan harga aluminium, tembaga, dan timah ini dipicu oleh gangguan pasokan serta tingginya permintaan pasar. 

Geliat investasi di bidang energi terbarukan, kendaraan listrik, dan pusat data (data center) menjadi pendorong utama permintaan tersebut. Bagi pelaku usaha di UEA dan berbagai negara, tingginya harga logam dapat membengkakkan biaya konstruksi, peralatan listrik, dan infrastruktur. Apakah konsumen akan menanggung beban kenaikan ini, tergantung pada kebijakan para pemasok. 

Sementara itu, harga emas atau logam mulia diproyeksikan melambung 40% tahun ini seiring langkah investor memburu aset aman (safe haven) di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi. Hal ini berdampak langsung bagi warga UEA yang membeli perhiasan atau emas batangan, mengingat harga retail lokal merujuk pada pergerakan harga internasional.

Bank Dunia memperkirakan harga logam mulia mulai melandai pada 2027, tetapi nilainya tetap tiga kali lipat lebih tinggi dibanding rata-rata periode 2015–2019.

Mungkinkah Harga Melonjak Lebih Tinggi pada 2027?

Skenario dasar Bank Dunia menunjukkan harga komoditas secara keseluruhan bakal melandai 7% pada 2027, memberikan sedikit kelegaan setelah lonjakan tajam tahun ini. 

Namun, jika gangguan pasokan terjadi secara bersamaan, kondisinya bisa memburuk. Dalam skenario terburuk, harga minyak mentah Brent bisa menembus rata-rata US$ 105 per barel pada 2027, sementara harga komoditas pangan berpotensi melonjak 12% di atas proyeksi dasar, melampaui rekor tertinggi pada 2022.

Meski demikian, angka tersebut merupakan skenario risiko dan bukan proyeksi utama. Untuk membantu negara-negara mengantisipasi dampak ekonominya, Bank Dunia telah menyiagakan skema pendanaan sebesar US$ 50miliar hingga US$ 60 miliar, termasuk US$ 25 miliar dana siaga yang siap dikucurkan.

Dana bantuan ini dapat dialokasikan untuk memperkuat jaring pengaman sosial, menopang keuangan pemerintah, serta menyediakan likuiditas bagi pelaku usaha dan sektor pertanian. Bagi rumah tangga di seluruh dunia, proyeksi ini menjadi sinyal bahwa gangguan pasokan internasional masih akan memengaruhi pengeluaran untuk transportasi, bahan pokok,dan kebutuhan harian sepanjang tahun ini, dengan potensi tekanan yang bertahan hingga 2027.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6