World Bank Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Negara Teluk 10,3%, Ini Pemicunya

Pertumbuhan ekonomi ini akan didorong oleh pulihnya ekspor, produksi minyak, dan aktivitas ekonomi lainnya.

Diterbitkan 08 Oktober 2026, 14:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ekonomi di negara-negara Teluk dapat pulih pesat pada 2027, seiring Bank Dunia atau World Bank memproyeksikan pertumbuhan 10,3% jika konflik Amerika Serikat (AS)-Iran tidak meningkat tahun ini. Klaim ini dibuat dengan asumsi produksi minyak dan pengiriman kembali normal awal 2027. Perdagangan, pariwisata, dan aktivitas domestik juga diprediksi pulih setelah peperangan yang dipicu AS ini.

Dampak konflik tersebut, yang telah menyebabkan gangguan hebat di Selat Hormuz, diperkirakan menyebabkan perekonomian negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk, atau Gulf Cooperation Council (GCC) mengalami kontraksi sebesar 4,3% pada 2026, menurut laporan tersebut.

Melansir Arab News, Kamis (8/10/2026), produk domestik bruto (PDB) di Timur Tengah, Afrika Utara, Afghanistan, dan Pakistan juga diproyeksikan merosot 2,1% tahun ini, mengikuti pertumbuhan 3,3% pada 2025.

Menurut World Bank, pertumbuhan pada 2027 akan didorong oleh produksi hidrokarbon dan ekspor, tetapi pemulihan wilayah masih butuh upaya kebijakan yang berkelanjutan.

"Jika konflik ini mereda hingga akhir 2026, pertumbuhan di wilayah MENAAP, termasuk Iran, diproyeksikan pulih ke 7,8% pada 2027, yang mayoritas didorong oleh pemulihan produksi hidrokarbon dan ekspor. Namun, pemulihan wilayah tidak bisa dipastikan dan butuh upaya kebijakan berkelanjutan,” ujar World Bank.

Ekonomi Arab Saudi Diprediksi Pulih 7,9%

World Bank memprediksikan ekonomi Arab Saudi akan kontraksi 2% pada 2026 sebelum akhirnya pulih 7,9% dalam 12 bulan setelahnya.

Negara ini sebagian terlindung dari dampak gangguan ekspor minyak, lantaran mereka mengirim minyak mentah melalui Pipa Timur–Barat, yang mengirimnya ke Yanbu di Laut Merah.

Mengomentari pertumbuhan ini, mitra pengelola Arthur D. Little Timur Tengah dan India, Thomas Kuruvilla mengatakan, Arab Saudi memasuki pemulihan ini dengan basis ekonomi yang lebih luas dibanding siklus minyak sebelumnya, seperti konstruksi, logistik, hingga pariwisata.

"Konstruksi, logistik, layanan bisnis, pariwisata dan perhotelan akan diuntungkan dari aktivitas yang lebih intensif, sementara investasi berkelanjutan dalam kerangka Visi 2030 dapat memperkuat pembangunan jangka panjang mereka,” ujar Kuruvilla.

Dia juga mempertimbangkan dampak pemulihan minyak ke aktivitas sektor swasta, produktivitas, dan investasi.

"Pertanyaan penting untuk 2027 adalah seberapa efektif pemulihan minyak ini memengaruhi aktivitas sektor swasta yang lebih luas, produktivitas, dan investasi. Jika itu terjadi, pemulihan ini akan menggenjot diversifikasi dibanding hanya menunjang pertumbuhan secara siklis," dia menambahkan.

Kuruvilla memperkirakan sektor pariwisata akan mendapat untung besar dari pemulihan ekonomi tahun depan, karena negara tersebut telah membangun sejumlah proyek yang cukup besar di bidang perhotelan, hiburan, dan pengembangan destinasi.

"Destinasi yang telah menetapkan proposisi yang membedakan dan meningkatkan permintaan akan mendapat untung dari pemulihan ini,” tuturnya.

Gambaran Besar Ekonomi Dunia

Menurut World Bank, ekonomi Timur Tengah dan Afrika Utara diproyeksikan kontraksi 2,8%, mengikuti pertumbuhan 3,4% pada 2025.

Mereka juga memproyeksikan PDB Qatar untuk mencapai pertumbuhan 26,7% pada 2027 setelah berlanjutnya produksi gas alam cair. Sementara, ekonomi Kuwait diperkirakan tumbuh 22% saat ekspor minyak kembali normal.

Sementara, di Uni Emirat Arab, pertumbuhan pada 2027 diprediksi berada pada angka 9,5%, diikuti Bahrain di 4,2% dan Oman di 3,4%

Kuruvilla berpendapat stabilitas wilayah dan pemulihan aktivitas ekonomi bisa membantu meningkatkan minat investor di wilayah tersebut."

Adanya peluang yang menarik secara komersial, arus kas sektor swasta yang lebih kuat, serta peningkatan pembagian risiko dengan investor swasta akan menjadi pertanda pemulihan ini mulai berkembang menjadi penilaian ulang yang lebih luas dan lebih berkelanjutan terhadap kawasan GCC,” kata Kuruvilla.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6