Liputan6.com, Jakarta - Maskapai penerbangan berbiaya rendah (low-cost carrier) seperti AirAsia di Thailand kian tertekan akibat melonjaknya harga bahan bakar penerbangan (avtur) di pasar global.
Pendiri AirAsia sekaligus penasihat AirAsia Group Berhad, Tony Fernandes, mengungkapkan bahwa penjualan tiket prapenjualan (advance booking) membuat perusahaan harus menanggung selisih biaya bahan bakar yang tidak dapat dibebankan secara susulan kepada penumpang.
Melansir VnExpress, Senin (28/9/2026), tiket-tiket tersebut sebelumnya dijual saat harga avtur masih berada di level US$ 85 (sekitar Rp 1,52 juta) per barel. Harga itu dicatat sebelum dinamika konflik geopolitik yang melonjakkan harga avtur hingga menyentuh level US$ 200 (sekitar Rp 3,58 juta) per barel.
Advertisement
Fernandes menjelaskan bahwa AirAsia tidak bisa begitu saja meminta biaya tambahan kepada penumpang yang sudah membeli tiket jauh hari.
"Saya tidak bisa kembali meminta uang. Saya tidak bisa bilang, 'Maaf Anda membayar US$ 6 (Rp 107.526), namun karena situasi geopolitik, Anda harus membayar US$ 6 lagi'," tutur Fernandes sebagaimana dikutip dari The Nation.
Â
AirAsia Proyeksikan Tekanan Berlangsung Lama
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4967127/original/074194300_1728718220-f95a81b5-7eff-4d8e-9f9e-1c57f1b5b03d.jpg)
Guna menambal lonjakan biaya operasional dan kargo, AirAsia saat ini tengah merombak struktur tarifnya. Harga tiket penerbangan terbaru disesuaikan dengan kenaikan avtur dan mengalami peningkatan sekitar 20 hingga 25 persen, bahkan lebih dari tarif sebelumnya.
Fernandes menilai krisis bahan bakar saat ini berbeda dengan gangguan akibat pandemi COVID-19 beberapa tahun lalu. Krisis avtur kali ini tidak memiliki kepastian batas waktu karena sangat bergantung pada perkembangan konflik geopolitik.
Jika kondisi tidak kunjung membaik, bisnis penerbangan dipastikan makin tertekan sehingga AirAsia harus mengambil langkah adaptasi yang serius.
"Ini kemungkinan akan berlangsung lama, jadi ini waktunya AirAsia beradaptasi secara serius," tegas Fernandes.
Berdasarkan data Otoritas Penerbangan Sipil Thailand, porsi biaya bahan bakar yang biasanya menyerap 25 hingga 30 persen dari total biaya operasional maskapai, kini melonjak drastis hingga mencapai 60 persen bagi maskapai berbiaya rendah. Penerbangan domestik menjadi yang paling rentan terdampak akibat struktur pajak lokal yang membuat harga avtur lebih mahal dibandingkan penerbangan internasional.
Kondisi tersebut mengikis margin keuntungan dan arus kas (cash flow), serta mengganggu kemampuan operasional jangka pendek maskapai. Banyak maskapai terpaksa memperketat kontrol biaya hingga menghentikan sementara sejumlah rute penerbangan.
Â
Advertisement
Maskapai Kompak Naikkan Tarif
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5530888/original/022536500_1773499556-Armada_Vietjet.jpg)
Dampak serupa dialami oleh Vietjet Thailand. Chief Executive Vietjet Thailand, Woranate Laprabang, menyampaikan bahwa biaya operasional penerbangan telah meningkat 20 hingga 25 persen.
Kendati demikian, tingkat keterisian penumpang (load factor) untuk penerbangan domestik masih terbilang tinggi, yakni rata-rata 87 hingga 88 persen selama periode low season. Hal ini mengindikasikan bahwa konsumen mulai menerima kenaikan harga tiket tersebut.
Woranate memproyeksikan tidak akan ada perang tarif (price war) pada kuartal IV 2026. Ketersediaan armada pesawat yang belum pulih sepenuhnya pascapandemi, ditambah tingginya harga bahan bakar, membuat maskapai tidak memiliki pilihan lain selain menaikkan harga tiket.
"Dengan harga bahan bakar setinggi ini, pilihan manajemen pendapatan bagi maskapai adalah menaikkan harga. Tidak akan ada kompetisi harga di kuartal keempat karena tarif harus merefleksikan tingginya biaya operasional," jelas Woranate.
Â
Strategi Lindung Nilai Maskapai Lain
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2047744/original/028951700_1522640166-Thai_Airways.jpg)
Di sisi lain, beberapa maskapai telah menyiapkan langkah mitigasi risiko. Chief Executive Thai Airways International, Chai Eamsiri, mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan lindung nilai (hedging) untuk 40 hingga 50 persen kebutuhan bahan bakar hingga akhir 2026. Langkah ini diambil guna meredam gejolak harga di pasar.
"Thai Airways sudah melakukan lindung nilai atas sebagian risiko fluktuasi harga bahan bakar untuk sisa tahun 2026 dan akan melanjutkannya secara bertahap hingga 2027," ujar Chai sebagaimana dikutip dari Bangkok Biznews.
Meskipun tekanan harga memaksa pemangkasan beberapa rute, Chai optimistis Thai Airways dapat mengelola dampaknya secara bertahap.
Sebagai informasi, pasar penerbangan Thailand merupakan yang terbesar kedua di Asia Tenggara dengan kapasitas 6,6 juta kursi, berada di bawah Indonesia yang memimpin dengan 10,8 juta kursi berdasarkan laporan penyedia data penerbangan OAG. Sementara itu, Vietnam berada di peringkat ketiga dengan 6,4 juta kursi.
Â
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354030/original/018131800_1789992594-cek_fakta_KM_Virgo_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9359577/original/013031200_1790564633-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-28T100252.716.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7368499/original/067001900_1780149167-Jepretan_Layar_2026-05-27_pukul_20.44.42.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5306704/original/080618800_1754448434-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__43_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309792/original/094097900_1785258365-AirAsia.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2995583/original/093783600_1576227057-coline-hasle-YCnycuWG7XY-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358415/original/056465700_1790339608-IMG_2927.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358530/original/092817600_1790359243-WhatsApp_Image_2026-09-25_at_9.24.59_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9357654/original/010090000_1790271446-1000443129.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356800/original/077671500_1790221190-WhatsApp_Image_2026-09-24_at_09.33.18.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9332646/original/012342700_1787713788-e321c65d-e224-4b30-b5f9-c7dc77968345.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3940632/original/006857000_1645419592-caterpillar_6020b_equipina.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355283/original/019472000_1790097211-WhatsApp_Image_2026-09-23_at_00.04.59.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350795/original/061905200_1789630521-ChatGPT_Image_17_Sep_2026__14.15.53.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4647050/original/096680300_1699881296-Tempat_Sampah.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9347871/original/082698900_1789371708-ChatGPT_Image_14_Sep_2026__14.36.52.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9352169/original/056693800_1789732852-Foto_1_credit_WWF-Indonesia_Ilham_Andriansyah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5396599/original/008087800_1761743801-Indonesia_AirAsia__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4967127/original/074194300_1728718220-f95a81b5-7eff-4d8e-9f9e-1c57f1b5b03d.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340919/original/025508100_1788532054-email-attachment_2026_09_04_ariefhakim-at-klyid_tony-fernandes-curhat-belum-semua-pesawat-airasia-keluar-bengkel-imbas-covid-19_13961.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1093119/original/095830000_1450894023-Pesawat-Lion-Air.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309792/original/094097900_1785258365-AirAsia.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4827895/original/067350900_1715333655-IMG_0240.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6287959/original/089767800_1779162728-IMG-20260519-WA0002.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7746416/original/075410200_1780554101-IMG-20260604-WA0012.jpg)