Modal Kain Perca, Sales Dasi Jadi Raja Mode Berharta Rp 269 Triliun

Tanpa ijazah desain dan bermodal jualan dasi dari koper, mantan penjual dasi ini sukses membangun imperium bisnis mode berharta Rp 269 T.

Diterbitkan 24 September 2026, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Perjalanan hidup Ralph Lauren merupakan salah satu perwujudan paling nyata dari konsep American Dream. Pria asal Bronx, New York, ini berhasil bertransformasi dari seorang anak imigran tanpa latar belakang pendidikan mode formal menjadi maestro gaya hidup global.

Berbekal ketajaman estetika dan visi yang kuat, Lauren membangun imperium bisnis dengan kekayaan bersih (net worth) yang kini ditaksir Forbes mencapai US$ 7 miliar hingga US$ 15 miliar atau sekitar Rp 269 triliun (kurs Rp 17.870 per US$).

Lahir pada 1939 dengan nama asli Ralph Lifshitz, ia tumbuh dalam keluarga imigran Yahudi asal Belarusia, sebagaimana dilansir dari The Guardian, Kamis (24/9/2026).

Sejak muda, Lauren sudah memiliki kepekaan khusus terhadap pakaian dan bagaimana gaya berbusana mampu mengubah identitas seseorang. Tanpa pernah mengecap pendidikan di sekolah desain mode, ia mengasah selera estetikanya lewat hal-hal sederhana, yaitu mengamati gaya anak muda kaya di New York, menelusuri toko pakaian bekas, serta mengagumi keanggunan bintang film klasik Hollywood.

Langkah bisnis Lauren dimulai pada pertengahan 1960-an saat bekerja sebagai tenaga penjual (salesman) dasi di Brooks Brothers. Ketika ide desain dasi lebarnya yang berwarna mencolok ditolak perusahaan, Lauren mengambil keputusan berani untuk berdiri sendiri.

Bermodalkan kain perca dan ruang kerja kecil di Empire State Building, ia merancang serta menjual dasi buatannya langsung dari koper ke toko-toko kecil, hingga akhirnya dilirik ritel raksasa sekelas Bloomingdale’s.

Menjual Impian dan Narasi Gaya Hidup

Rahasia utama kesuksesan Lauren terletak pada kemampuannya merajut narasi dan impian. Bisnis yang ia bangun bukan sekadar menjual pakaian, melainkan menjual romantisme gaya hidup berkelas—mulai dari estetika aristokrasi ala country club, gaya koboi di kawasan barat Amerika, hingga keanggunan ala kampus Ivy League. Visi artistiknya yang konsisten dengan cepat menjadikan karyanya simbol keanggunan yang diidamkan banyak orang.

Gaya kepemimpinan dan pendekatan desain Lauren terbilang unik di dunia mode. Ia bukanlah tipe perancang konvensional yang duduk menggambar sketsa. Sebaliknya, Lauren bekerja merancang konsep cerita visual di dalam ruang khusus (rigs). Bersama timnya, ia mengumpulkan foto, barang antik, dan sampel kain untuk diolah menjadi satu koleksi utuh. Kejelian serta keteguhan pendiriannya dalam mempertahankan detail visual membuat setiap produknya memiliki karakter kuat dan tak lekang oleh waktu.

Inovasi Lauren juga mendobrak batas industri mode pada zamannya. Ketika produsen lain hanya fokus pada satu jenis produk, Lauren memperkenalkan pendekatan menyeluruh dengan merambah busana pria, busana wanita, pakaian olahraga, hingga perlengkapan rumah tangga dan dekorasi interior.

Kekuatan Tekad dan Warisan Kepemimpinan

Kisah keberhasilan Ralph Lauren membuktikan bahwa intuisi bisnis, kedisiplinan, dan pemahaman mendalam atas keinginan konsumen mampu mengalahkan ketiadaan ijazah formal di bidang mode. Ia menunjukkan bahwa impian besar yang dieksekusi dengan tekun dan berstandar tinggi sanggup menembus batas strata sosial.

Hingga kini, meski telah melepas jabatan Chief Executive Officer (CEO) pada 2015, Lauren tetap memegang peranan kunci sebagai Executive Chairman dan Chief Creative Officer.

Perjalanan hidupnya menjadi bukti inspiratif bahwa kesuksesan sejati lahir dari keberanian mempertahankan visi pribadi, mendengarkan intuisi, dan mengubah impian sederhana menjadi kenyataan yang diakui dunia.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6