Pertamina Pernah Terbangkan Pelita Air Pakai Bahan Bakar Minyak Jelantah

Pertamina sukses olah limbah minyak goreng jadi bahan bakar pesawat SAF. Bahkan, penerbangan Pelita Air rute Jakarta-Bali sudah pernah menjajalnya!

Diterbitkan 04 September 2026, 20:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PT Pertamina (Persero) telah memanfaatkan limbah minyak goreng bekas atau jelantah menjadi bahan bakar pesawat terbang. Bahan bakar dengan campuran minyak jelantah ini telah diakui oleh industri penerbangan dan dipastikan aman digunakan.

Corporate Secretary Pertamina, Arya Dwi Paramita, menyampaikan bahwa minyak jelantah atau used cooking oil (UCO) tidak sebatas berujung sebagai limbah rumah tangga. Di tangan Pertamina, limbah tersebut dapat diolah menjadi bahan bakar pesawat ramah lingkungan yang dikenal sebagai Sustainable Aviation Fuel (SAF).

"Ternyata minyak goreng yang selama ini sering kali kita anggap sebagai sesuatu yang tidak bisa dimanfaatkan lagi, sebenarnya bisa dikumpulkan," kata Arya dalam sesi diskusi IdeaFest 2026 di JCC Senayan, Jakarta, Jumat (4/9/2026).

Ia menerangkan, minyak jelantah yang terkumpul kemudian diolah di Kilang Pertamina Cilacap dan dicampur dengan bahan baku pendukung lainnya hingga menjadi SAF.

"Minyak itu kita olah untuk bahan bakar pesawat udara. Namun jangan khawatir, ini aman karena risetnya sudah diinisiasi sejak 2015, lalu diteliti secara ketat dan diuji coba dari 2021 hingga 2025," ungkapnya.

Arya menambahkan, maskapai anak perusahaan Pertamina, Pelita Air Service, bahkan sudah pernah menjajal langsung penerbangan rute Jakarta–Bali menggunakan SAF berbasis minyak jelantah tersebut.

"Bagi yang suka naik Pelita Air Service, waktu uji coba penerbangan ke Bali dulu, kita sudah menggunakan SAF," jelas Arya.

 

Kemandirian Energi

Arya menegaskan bahwa inovasi pemanfaatan minyak jelantah ini dilakukan bukan tanpa alasan, melainkan demi mewujudkan kemandirian energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi impor.

"Jadi, apa tujuan utamanya? Kenapa kita harus melakukan ini? Karena kita harus mengurangi ketergantungan impor energi. Ini sebenarnya menjadi gerakan kita bersama," pungkasnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6