Kembangkan Biometana, Pertagas Niaga Bakal Beli CBG reNIKOLA

reNIKOLA menyatakan, perjanjian dengan Pertagas Niaga menjadi pencapaian penting untuk mengoptimalkan potensi nilai biometana.

Diterbitkan 19 Agustus 2026, 07:39 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - reNIKOLA Holdings Sdn Bhd melalui PT reNIKOLA Primer Energi (PT RPE) menandatangani perjanjian jual beli compressed biomethane gas (CBG) jangka panjang dengan PT Pertagas Niaga (PTGN), anak usaha PT Pertamina Gas, untuk mengembangkan ekosistem biometana ke jaringan gas di Indonesia.

Proyek tersebut mengintegrasikan produksi biometana dari 8 pabrik kelapa sawit milik PT Perkebunan Nusantara IV (PTPN IV) dengan jaringan distribusi gas yang telah beroperasi. Proyek senilai US$ 40 juta itu diproyeksikan menghasilkan lebih dari 830.000 MMBtu CBG per tahun setelah beroperasi penuh.

“Perjanjian ini merupakan pencapaian penting dalam upaya kami untuk mengoptimalkan potensi nilai biometana di Indonesia. Kami membangun ekosistem biometana terukur yang membuktikan bagaimana limbah pertanian dapat diubah menjadi sumber energi terbarukan yang andal,” kata CEO/Direktur PT RPE, Amran Yusof di Jakarta, Selasa (18/8/2026).

PTGN akan menjadi pembeli CBG PT RPE selama 15 tahun dan menyalurkan gas terbarukan tersebut kepada konsumen industri melalui jaringan distribusi gas alam yang tersedia. PERTAGAS juga akan membangun stasiun injeksi biometana khusus pertama di Indonesia di sekitar Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei.

President Director PTGN Toto Yulianto mengatakan integrasi biometana dengan jaringan gas yang tersedia dapat memperluas akses industri terhadap energi rendah karbon.

"Melalui kolaborasi ini, kami menciptakan jalur bagi biometana untuk diintegrasikan ke dalam jaringan gas yang telah tersedia, memperluas akses terhadap energi yang lebih bersih sekaligus memanfaatkan infrastruktur yang ada secara optimal,” ujar Toto.

 

Memanfaatkan Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit

Proyek tersebut memanfaatkan limbah cair pabrik kelapa sawit atau POME sebagai bahan baku biometana. Pengolahan POME diproyeksikan mengurangi emisi gas rumah kaca sekitar 320.000 ton CO₂ ekuivalen per tahun atau setara dengan mencegah pembakaran sekitar 161 juta kilogram batu bara.

Direktur Utama PTPN IV Jatmiko mengatakan proyek tersebut juga memberikan nilai tambah bagi industri kelapa sawit melalui pemanfaatan emisi metana menjadi energi terbarukan.

"Dengan mengubah emisi metana dari limbah cair pabrik kelapa sawit menjadi energi terbarukan, kami menunjukkan bagaimana industri kelapa sawit dapat memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan rendah karbon di Indonesia,” kata Jatmiko.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6