Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia melonjak lebih dari 4% pada perdagangan Rabu (5/8/2026). Kenaikan ini didorong oleh pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) serta turunnya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS, sementara pelaku pasar terus mencermati perkembangan terbaru di Timur Tengah yang dinilai dapat memengaruhi prospek inflasi dan arah suku bunga.
Mengutip CNBC, Kamis (6/8/2026), harga emas di pasar spot naik 4,3% menjadi US$ 4.252,74 per ounce. Sepanjang perdagangan, logam mulia tersebut sempat menyentuh level tertinggi sejak 22 Juni 2026. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS menguat 3,7% ke US$ 4.305,20 per ounce.
"Dua hari penurunan imbal hasil obligasi dan pelemahan dolar AS selama sepekan tampaknya membuka jalan bagi kenaikan harga emas dan perak," kata pedagang logam independen Tai Wong.
Advertisement
Pelemahan dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang menopang harga emas. Mata uang Negeri Paman Sam berada di dekat level terendah terhadap yen Jepang dalam tiga bulan terakhir, sehingga emas yang diperdagangkan dalam dolar menjadi lebih murah bagi pembeli dari luar negeri.
Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga bertahan di dekat level terendah dalam sepekan. Kondisi tersebut meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai karena biaya peluang untuk memegang logam mulia menjadi lebih rendah.
Dari sisi data ekonomi, laporan ADP National Employment Report menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja sektor swasta di AS melambat pada Juli 2026. Jumlah tenaga kerja hanya bertambah 44.000, jauh di bawah perkiraan ekonom yang memproyeksikan kenaikan 70.000 pekerja.
Â
Sinyal The Fed
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9310806/original/096451100_1785371567-ChatGPT_Image_Jul_30__2026__07_24_25_AM.jpg)
Sementara itu, sejumlah pejabat bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) masih memberikan sinyal perlunya kebijakan moneter yang lebih ketat.
Presiden Federal Reserve Bank of Kansas City, Jeff Schmid, pada Selasa mengatakan pengetatan kebijakan moneter diperlukan agar inflasi yang masih terlalu tinggi dapat kembali ke target 2%.
Di sisi lain, Presiden Federal Reserve Bank of Minneapolis, Neel Kashkari, dalam wawancara dengan CNBC mengatakan dirinya meyakini saat ini merupakan waktu yang tepat untuk mulai menaikkan suku bunga secara bertahap.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang sekitar 57% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuan September mendatang.
Kenaikan suku bunga umumnya dapat mengurangi daya tarik emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil.
Di tengah dinamika tersebut, Presiden AS Donald Trump mengatakan pemerintahannya telah melakukan "diskusi yang sangat baik" dengan Iran. Pernyataan tersebut memunculkan harapan bahwa konflik yang telah berlangsung selama lima bulan dapat segera berakhir.
Perkembangan di Timur Tengah pun masih menjadi salah satu faktor yang terus dipantau investor dalam menentukan arah pergerakan harga emas dunia.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9296017/original/033910000_1784000101-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-14T103335.623.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316388/original/075760100_1785924799-cek_fakta_-_cpns_kementerian_imigrasi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5569782/original/065699500_1777454729-Tugas__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3167349/original/049156100_1593592165-20200701-Iuran-BPJS-Kesehatan-Resmi-Naik--ANGGA-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309011/original/063278500_1785214678-ChatGPT_Image_Jul_28__2026__07_13_04_AM.jpg)
