Yum Brands Lepas Bisnis Pizza Hut Rp 47,88 Triliun

Induk usaha Pizza Hut, Yum Brands melepas bisnis Pizza Hut dalam dua transaksi. Pelepasan bisnis itu akan rampung kuartal III 2026.

Diterbitkan 16 Juni 2026, 22:18 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Yum! Brands (Yum Brands), perusahaan restoran cepat saji asal Amerika Serikat menjual bisnis Pizza Hut kepada LongRange Capital dan Yum China dalam dua transaksi terpisah sekitar US$ 2,7 miliar atau Rp 47,88 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.740)

Dilansir dari CNBC, Selasa (16/6/2026), LongRange Capital akan mengakuisisi sebagian besar bisnis Pizza Hut sekitar US$ 1,5 miliar atau Rp 26,60 triliun. Sementara itu, Yum China mengambil alih operasional Pizza Hut di China daratan sekitar US$ 1,2 miliar atau Rp 21,28 triliun.

Yum menyebut, penjualan merupakan hasil evaluasi strategis untuk memaksimalkan nilai bagi pemegang saham dan memberikan struktur kepemilikan yang lebih sesuai bagi masing-masing pasar.

Keputusan itu diambil setelah Pizza Hut bertahun-tahun menghadapi tekanan bisnis, termasuk kehilangan pangsa pasar di Amerika Serikat akibat persaingan dengan Domino’s Pizza dan berkembangnya layanan pesan antar pihak ketiga seperti DoorDash.

Dari kedua transaksi tersebut, Yum memperkirakan menerima dana bersih sekitar US$ 2,3 miliar atau Rp 40,7 triliun setelah pajak dan biaya terkait. Transaksi diperkirakan rampung pada kuartal III 2026 setelah mendapat persetujuan regulator.

Berdasarkan dokumen regulator, hingga akhir 2025 Pizza Hut memiliki hampir 20.000 gerai di 108 negara dan wilayah dengan total penjualan sistem mencapai US$ 12,8 miliar atau Rp 227,03 triliun. Amerika Serikat menjadi pasar terbesar dengan kontribusi sekitar 40% dari total penjualan, disusul China sekitar 20%.

Mengutip laman resmi Yum Brands,  Yum Brands, Inc dan anak perusahaan mengoperasikan dan mengelola lebih dari 63.000 restoran di 155 negara dan wilayah di bawah merek-merek ikoniknya antara lain KFC, Taco Bell, Pizza Hut dan Habit Burger & Grill. KFC, Taco Bell dan Pizza Hut merupakan pemimpin global dalam kategori ayam, makanan ala Meksiko dan pizza.

Wall Street

Sebelumnya, bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street menguat pada awal pekan seiring kenaikan harga saham SpaceX. Selain itu, Presiden AS Donald Trump mengumumkan kesepakatan untuk mengakhiri perang antara AS dan Iran.

Mengutip CNBC, Selasa, (16/6/2026), indeks Dow Jones bertambah 468,77 poin atau 0,92% ke posisi rekor 51.671,03. Indeks Dow Jones juga mencapai rekor tertinggi intraday baru selama sesi tersebut. Indeks S&P 500 mendaki 1,65% menjadi 7.554,29. Indeks Nasdaq melambung 3,07% menjadi 26.683,94. Indeks Nasdaq mencatat hari terbaik sejak 31 Maret.

Di sisi lain, saham SpaceX melonjak hampir 20% setelah naik 19% saat debut di pasar pada Jumat, 12 Juni 2026.

“Tampaknya jauh lebih teratur daripada yang saya harapkan, dan itu bukan hal yang buruk. Ini bukan semacam saham meme sejak awal, melainkan orang-orang benar-benar menambahkannya, dan menahan dalam portofolio mereka, bukan mencoba untuk menjualnya kembali,” ujar Chief Market Strategist Zacks Investment Management, Brian Mulberry.

Pada Minggu malam, Trump menuturkan di media sosial, kesepakatan dengan Iran sudah selesai. Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif menuturkan, nota kesepahaman akan ditandatangani resmi pada Jumat di Swiss.

“Tampaknya kali ini nyata karena suku bunga dan harga minyak telah menembus level-level kunci. Perkembangan ini seharusnya mengurangi tekanan pada FOMC, dan itu adalah kabar baik jangka panjang untuk pasar,” ujar Mulberry.

 

Harga Minyak

Pengumuman itu datang setelah baku tembak antara Israel dan Hizbullah yang didukung Teheran di Lebanon menimbulkan ketidakpastian. Hal ini mengenai apakah kesepakatan itu akan mencapai garis akhir pada Minggu.

Trump juga mengizinkan pembukaan kembali jalur utama Selat Hormuz yang menyebabkan harga minyak anjlok.

Pada Senin, Wakil Presiden AS JD Vance memperkirakan, selat akan dibuka tanpa biaya untuk jangka panjang.

Harga minyak mentah AS ditutup turun 4,9% ke US$ 80,75 per barel. Meskipun Mulberry mencatat, kemungkinan akan membutuhkan waktu "sedikit lebih lama" agar harga produk olahan seperti bahan bakar jet turun, penurunan harga minyak mentah menjadi US$ 80 merupakan "sinyal kuat.

“Hal ini mengingat pada pertemuan pekan ini, FOMC, tidak perlu menaikkan suku bunga [dan] tekanan harga akan mereda relatif cepat,” ujar dia.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6