El Nino Diprediksi Sampai 2027, Pengamat Wanti-Wanti Risiko Gagal Panen

Musim kemarau yang lebih panjang dan kering akibat El Nino berpotensi menekan produksi padi, cabai, dan bawang merah di berbagai daerah.

Diterbitkan 12 Juni 2026, 16:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memutakhirkan prediksi iklim 2026 dengan menyebut fenomena El Nino diperkirakan segera aktif dan berpotensi bertahan hingga awal 2027. Kondisi tersebut diprediksi menyebabkan musim kemarau tahun ini berlangsung lebih kering dibandingkan kondisi normal.

Pengamat pertanian dari Asosiasi Ekonomi dan Politik Indonesia (AEPI) Khudori menjelaskan, potensi El Nino yang diumumkan oleh BMKG perlu diwaspadai secara serius karena kondisi cuaca dapat berubah drastis dalam beberapa bulan ke depan.

Bahkan, sejumlah ahli sebelumnya telah mengingatkan kemungkinan munculnya El Nino sangat kuat atau yang kerap disebut El Nino Godzilla.

Karakteristik musim kemarau tahun ini berpotensi memberi tekanan lebih besar terhadap sektor pertanian. Berdasarkan proyeksi BMKG, sekitar 46% wilayah diperkirakan mengalami musim kemarau lebih awal dari kondisi normal.

Selain itu, lebih dari 50% wilayah diproyeksikan mengalami kemarau yang lebih panjang dan lebih kering.

“Kemarau yang lebih panjang, lebih kering, dan datang lebih awal akan berdampak langsung pada sektor yang sangat bergantung pada ketersediaan air, salah satunya pertanian,” jelasnya kepada Liputan6.com, Jumat (12/6/2026).

Kondisi tersebut dapat menyebabkan sebagian lahan yang biasanya masih bisa ditanami pada musim normal menjadi tidak produktif akibat keterbatasan air. Karena itu, kesiapan mitigasi dari pemerintah dan petani menjadi faktor kunci untuk meminimalkan dampak kerugian.

 

Petani Diimbau Sesuaikan Pola Tanam

Khudori menekankan pentingnya informasi iklim dan cuaca dari BMKG dapat tersampaikan dengan cepat hingga ke tingkat petani bawah. Informasi tersebut harus mampu diterjemahkan menjadi keputusan konkret terkait pola tanam dan pemilihan komoditas.

“Kalau ketersediaan air tidak cukup untuk menanam padi, jangan dipaksakan menanam padi karena tanaman ini membutuhkan banyak air. Petani harus bisa menyesuaikan pola tanam dengan kondisi cuaca di wilayahnya masing-masing,” saran Khudori.

Ia menilai peran pendampingan dari penyuluh pertanian lapangan (PPL) menjadi sangat vital, karena tidak semua petani memiliki kemampuan untuk langsung menginterpretasikan data ilmiah yang disampaikan BMKG.

Khudori juga mengingatkan bahwa pengalaman El Nino siklus 2023 hingga 2024 menunjukkan adanya dampak nyata terhadap volume produksi pertanian nasional, termasuk produksi beras yang saat itu sempat terkontraksi.

“Kalau El Nino nanti berkembang menjadi sangat kuat, dampaknya terhadap sektor pertanian tentu akan lebih besar, terutama untuk tanaman pangan,” ujarnya.

 

Cabai dan Bawang Merah

Selain padi, komoditas hortikultura sensitif seperti cabai dan bawang merah juga berpotensi terdampak apabila kekeringan berlangsung ekstrem. Kondisi cuaca kering yang berkepanjangan dapat memicu ledakan hama dan penyakit tanaman yang berisiko tinggi menyebabkan gagal panen massal.

Untuk mengurangi risiko kerugian total di tingkat petani, Khudori mendorong pemerintah pusat dan daerah untuk segera memperluas cakupan program asuransi pertanian. Menurutnya, jaring pengaman ini menjadi benteng pertahanan terakhir.

“Asuransi pertanian penting sebagai pelindung terakhir. Ketika petani mengalami gagal panen, mereka tetap memiliki modal klaim untuk kembali menanam pada musim berikutnya, sehingga beban kerugiannya tidak terlalu mencekik,” pungkas Khudori.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6