Industri reksa dana mengalami peningkatan pesat. Meski demikian, pertumbuhan penawaran produk reksa dana masih lambat di Indonesia. Hal itu karena minim distribusi dan transaksi penjualannya sehingga masyarakat yang sudah menjadi nasabah reksa dana sangat sulit untuk menjalankan transaksi.
Selain itu, produk reksa dana yang ditawarkan juga dinilai masih mahal. Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Muliaman Hadad mengatakan, saat ini memang industri reksa dana masih mengalami peningkatan yang tinggi.
Namun, masih banyak masyarakat yang berpikir lebih jauh untuk menjadi nasabah produk reksa dana, karena produk reksa dana masih memilikii tawaran harga yang mahal.
"Kami ingin bertemu dengan Asosiasi terkait, untuk membicarakan bagaimana reksa dana bisa lebih murah, sehingga masyarakat bisa menjangkau untuk menjadi nasabah produk reksa dana," ujar Muliaman ketika ditemui dalam acara ISCME 2013 di Ritz Carlton Pacifc Place, Jakarta, Rabu (27/11/2013).
Menurut Muliaman, produk reksa dana juga masih sangat minim distribusi dan transaksi penjualannya, sehingga masyarakat yang sudah menjadi nasabah reksa dana sangat sulit untuk menjalankan transaksi.
Untuk itu, ia berharap agar industri reksa dana bisa lebih meningkatkan distribusi dan transaksi penjualannya, agar nasabah banyak yang menyerap produk reksa dana.
"Penjualan dan distribusi penjualan reksa dana masih sangat minim. Harus ditingkatkan lagi lah. Jadi kami memiliki rencana dan upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan produk reksa dana yang lebih baik," tutur Muliaman.
Selain itu, ia mengungkapkan, saat ini OJK sedang bekerjasama dengan Self Regulatory Organizations (SRO) dan Asosiasi untuk membahas cara efektif membangun distribusi produk reksa dana yang baik.
"Produk reksa dana masih memiliki peluang dan kapasitas yang baik. Sekarang masiih sangat kecil peminatnya, untuk itu kami buat cara bagaimana membangun saluran distribusi ," tutupnya. (Dis/Ahm)
Selain itu, produk reksa dana yang ditawarkan juga dinilai masih mahal. Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Muliaman Hadad mengatakan, saat ini memang industri reksa dana masih mengalami peningkatan yang tinggi.
Namun, masih banyak masyarakat yang berpikir lebih jauh untuk menjadi nasabah produk reksa dana, karena produk reksa dana masih memilikii tawaran harga yang mahal.
"Kami ingin bertemu dengan Asosiasi terkait, untuk membicarakan bagaimana reksa dana bisa lebih murah, sehingga masyarakat bisa menjangkau untuk menjadi nasabah produk reksa dana," ujar Muliaman ketika ditemui dalam acara ISCME 2013 di Ritz Carlton Pacifc Place, Jakarta, Rabu (27/11/2013).
Menurut Muliaman, produk reksa dana juga masih sangat minim distribusi dan transaksi penjualannya, sehingga masyarakat yang sudah menjadi nasabah reksa dana sangat sulit untuk menjalankan transaksi.
Untuk itu, ia berharap agar industri reksa dana bisa lebih meningkatkan distribusi dan transaksi penjualannya, agar nasabah banyak yang menyerap produk reksa dana.
"Penjualan dan distribusi penjualan reksa dana masih sangat minim. Harus ditingkatkan lagi lah. Jadi kami memiliki rencana dan upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan produk reksa dana yang lebih baik," tutur Muliaman.
Selain itu, ia mengungkapkan, saat ini OJK sedang bekerjasama dengan Self Regulatory Organizations (SRO) dan Asosiasi untuk membahas cara efektif membangun distribusi produk reksa dana yang baik.
"Produk reksa dana masih memiliki peluang dan kapasitas yang baik. Sekarang masiih sangat kecil peminatnya, untuk itu kami buat cara bagaimana membangun saluran distribusi ," tutupnya. (Dis/Ahm)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9324106/original/075794500_1786690114-cek_fakta_-_alat_pertanian_tanam_padi_hingga_traktor.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4147878/original/074965600_1662436164-Cek_Bansos_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9314568/original/051669400_1785750475-cek_fakta_-_prabowo_gibran.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/856256/original/042112000_1429499998-batik-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2153/original/ojk-gedung130423b.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316602/original/067209500_1785976330-dims.apnews.webp)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4514354/original/090343000_1690337409-medium-shot-senior-couple-with-laptop_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5401601/original/001087400_1762219862-Mengeluarkan_uang_dari_dompet.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3029348/original/099783600_1579686479-20200122-Penguatan-Rupiah-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260028/original/031899300_1781533761-f1425013-eebc-4fbb-8dd2-6dbdc66359b3.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8141629/original/011552700_1780994074-STAR_Asset_Management_meluncurkan_produk_reksa_dana_pendapatan_tetap_baru-9_Juni_2026a.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5028255/original/089063500_1732871319-fotor-ai-2024112916722.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5285412/original/045032800_1752672091-Foto_2_-_Gedung_OCBC_Space.jpg)