Bicara soal orang kaya tentu pikiran Anda langsung melayang pada konglomerat dengan tumpukan uang dan gaya hidup mewahnya. Namun faktanya, meski sama-sama memiliki banyak harta, orang kaya zaman dulu berbeda dengan konglomerat masa kini.
Seperti dilansir dari The Richest, Kamis (24/10/2013), perbedaan tersebut tak ada hubungannya dengan nilai mata uang zaman dulu dan sekarang. Namun perbedaannya lebih kepada bagaimana para konglomerat tersebut memperoleh dan menghabiskan uang yang dimilikinya.
Lalu bagaimana cara mengetahui orang kaya zaman dulu dan yang berasal dari masa kini? Berikut sembilan perbedaan antara konglomerat tempo dulu dan zaman sekarang:
1. Orang kaya zaman sekarang lebih boros
Orang kaya zaman dulu cenderung menabung uang untuk keluarga. Begitu yang terus dilakukan dari satu generasi ke generasi berikutnya untuk tetap menjadi kaya. Tak heran, orang kaya tempo dulu tetap bisa menjadi konglomerat dari tabungan dan investasinya.
Sebut saja pemilik Walmart, Sam Walton yang tumbuh di keluarga kaya zaman dulu. Sepeninggalnya, keluarga Walton mewarisi harta bernilai US$ 23 miliar atau Rp 256,4 triliun yang telah disimpan dari berbagai generasi.
Sementara orang kaya masa kini lebih suka menghabis-habiskan uangnya baik untuk sumbangan atau membeli barang-barang mewah. Konglomerat zaman sekarang jarang memikirkan masa depannya.
Orang kaya zaman dulu bekerja keras untuk mencapai tempat teratas dan menikmati kehidupan mewah. Sebaliknya, miliarder zaman dulu merupakan perencana keuangan dan investor yang lebih baik.
2. Orang kaya zaman dulu takut kotor
Para konglomerat tempo dulu tak mau tangannya kotor. Jika memang harus bekerja, orang-orang kaya ini memilih semua pekerjaan yang bisa dilakukan di dalam rumah.
Beda halnya dengan orang-orang jaya masa kini yang cenderung lebih bersemangat. Tangan kotor akibat bekerja bukan masalah besar baginya. Hal ini mengingat kebanyakan orang kaya zaman sekarang berasal dari keluarga dengan kondisi finansial menengah ke bawah. Jadi para konglomerat itu tahu betul rasanya memeras keringat.
3. Orang kaya masa kini tahu rasanya bekerja keras
Rata-rata orang kaya zaman sekarang berasal dari keluarga dengan kelas ekonomi menengah ke bawah. Para konglomerat tersebut berhasil menanjak dari bawah hingga menggapai gudang kekayaannya.
Sementara kebanyakan orang kaya zaman dulu tak pernah merasakan sulitnya bekerja. Sejak lahir, dirinya telah dimanja dengan harta dalam jumlah besar. Seringkali para konglomerat tempo dulu berasal dari keluarga kelas atas. Jelas saja, orang kaya jaman dulu tak tahu bagaimana rasanya masyarakat bertahan hidup.
4. Orang kaya masa kini lebih rajin beli mobil
Konglomerat zaman sekarang lebih mencolok dan mengagungkan gaya hidup. Tak heran, uang hingga miliaran rupiah pun rela digelontorkan hanya untuk membeli mobil baru.
Sebaliknya, orang kaya zaman dulu tak terlalu mementingkan sesuatu yang terlalu mewah atau mencolok. Pilihan benda-benda bergaya klasik justru menjadi favorit pilihannya. Dibandingkan membeli mobil mahal, orang kaya zaman dulu lebih suka membeli mobil berkelas yang harganya lebih murah.
5. Orang kaya tempo dulu lebih menjaga tradisi keluarga
Berbeda dengan para orang kaya baru, konglomerat tempo dulu sangat patuh terhadap tradisi. Salah satu tradisi yang dipatuhinya adalah mewariskan harta kekayaan pada keluarga dan mengelolannya bersama saudara yang lain.
Sementara orang kaya baru tidak terlalu memperhatikan tradisi tersebut. Dirinya hanya peduli pada diri sendiri dan jumlah uang yang dihasilkannya.(Sis/Shd)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9357442/original/090884500_1790248073-cek_fakta_pupr.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9357195/original/038011000_1790236151-HOAX__23_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5372348/original/034637900_1759740027-meteor_jatuh.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261105/original/086134600_1781680485-BSU_-_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/12709/original/3-kaya-131024c.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9357654/original/010090000_1790271446-1000443129.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356800/original/077671500_1790221190-WhatsApp_Image_2026-09-24_at_09.33.18.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9332646/original/012342700_1787713788-e321c65d-e224-4b30-b5f9-c7dc77968345.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3940632/original/006857000_1645419592-caterpillar_6020b_equipina.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355283/original/019472000_1790097211-WhatsApp_Image_2026-09-23_at_00.04.59.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350795/original/061905200_1789630521-ChatGPT_Image_17_Sep_2026__14.15.53.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4647050/original/096680300_1699881296-Tempat_Sampah.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9347871/original/082698900_1789371708-ChatGPT_Image_14_Sep_2026__14.36.52.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9352169/original/056693800_1789732852-Foto_1_credit_WWF-Indonesia_Ilham_Andriansyah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346285/original/094214300_1789120119-file_0000000047f882308af83e40b22f096a.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1176605/original/028391000_1458444646-20160319-Earth-Hour-di-kawasan-Bundaran-HI-Fanani-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3929526/original/096494900_1644470631-jesse-schoff-Ph2KtIqKs7c-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3086785/original/029576300_1585287630-75472269_1894347164044549_6326080536172060911_n.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1101858/original/035886800_1451983610-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4477896/original/072602400_1687478218-Miliarder_atau_Orang_Terkaya_Dunia.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3596916/original/034110900_1633708611-Ilustrasi_Miliarder_atau_Orang_Terkaya_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4875214/original/065543800_1719381472-Miliarder_Vecstock.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5407327/original/098707200_1762690871-IMG-20251107-WA0028.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1553962/original/019771000_1540541277-singa.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3524608/original/093373500_1627531623-mufid-majnun-MHcg_VUA46c-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9327954/original/075423800_1787130407-email-attachment_2026_08_19_ariefhakim-at-klyid_bahlil-godok-larangan-orang-kaya-beli-pertalite-jangan-ambil-hak-rakyat_1000413995.jpg)