Riset IDEAS: Nilai Ekonomi Kurban 2026 Melemah

Tren kurban 2026 bergeser. Masyarakat kini lebih memilih kambing dan domba bobot kecil demi sesuaikan anggaran.

Diterbitkan 23 Mei 2026, 20:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Potensi ekonomi dari ibadah kurban nasional pada tahun 2026 diperkirakan tetap raksasa dengan angka mencapai Rp26,89 triliun. Proyeksi tersebut dirilis oleh lembaga riset Institute for Demographic and Affluence Studies (IDEAS) berdasarkan estimasi keterlibatan sekitar 1,90 juta rumah tangga pekurban di seluruh Indonesia.

Dari total perputaran ekonomi tersebut, jumlah hewan kurban yang diprediksi akan disembelih mencapai 1,59 juta ekor. Angka ini mencakup:

  • Sapi: 493,18 ribu ekor
  • Kambing/Domba: 1,09 juta ekor

Melalui jumlah tersebut, total distribusi daging kurban ke masyarakat yang membutuhkan diproyeksikan menyentuh 99,29 ribu ton.

Peneliti IDEAS, Tira Mutiara, menjelaskan bahwa simulasi riset ini dihitung menggunakan pendekatan jumlah penduduk Muslim yang memiliki pengeluaran di atas lima kali garis kemiskinan di tingkat kabupaten/kota. Kelompok masyarakat inilah yang dinilai paling memenuhi syarat kemampuan secara ekonomi untuk berkurban.

“Simulasi juga mempertimbangkan preferensi jenis dan bobot hewan kurban, mulai dari sapi utuh hingga skema patungan 1/7 sapi serta kambing dan domba dengan berbagai kategori bobot,” ujar Tira dalam keterangan tertulis, Sabtu (23/5/2026).

 

Sinyal Penurunan Daya Beli dan Minat Hewan Bobot Besar

Meskipun nilainya fantastis, proyeksi ekonomi kurban untuk tahun 2026 ini sebenarnya tercatat sedikit melandai dibandingkan pencapaian tahun 2025 yang mampu menyentuh Rp27,10 triliun. Penurunan ini dipicu oleh berkurangnya jumlah rumah tangga pekurban serta pergeseran minat masyarakat yang mulai menghindari hewan ternak berbobot besar.

Berdasarkan data IDEAS, proyeksi jumlah sapi kurban tahun depan menyusut sekitar 10,17 ribu ekor. Sementara untuk kategori kambing dan domba diperkirakan berkurang sekitar 3,43 ribu ekor. Efeknya, total pasokan distribusi daging kurban secara nasional ikut menyusut hingga 1,85 ribu ton.

Tira menilai perubahan tren ini menjadi indikator kuat adanya penyesuaian pola konsumsi akibat tekanan ekonomi domestik yang sedang berlangsung. Masyarakat kini lebih realistis dalam mengalokasikan anggaran ibadahnya.

“Masyarakat tetap berupaya mempertahankan ibadah kurban, tetapi cenderung memilih hewan dengan harga yang lebih terjangkau. Ini terlihat dari meningkatnya permintaan kambing dan domba dengan bobot 40 kilogram dan 20 kilogram,” tambah Tira.

Kecenderungan masyarakat yang beralih ke hewan kurban berukuran lebih kecil ini menjadi sinyal awal melemahnya daya beli riil. Faktor pemicu utamanya dinilai bersumber dari akumulasi kenaikan harga pangan, melonjaknya biaya hidup harian, serta melambungnya harga hewan ternak itu sendiri dalam beberapa tahun terakhir.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6