Harga Minyak Dunia Hari Ini Anjlok Usai Cetak Rekor Termahal

Simak ulasan harga minyak dunia hari ini Jumat 1 Mei 2026.

Diterbitkan 01 Mei 2026, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak berbalik turun pada hari Kamis (Jumat waktu Jakarta) tak lama setelah harga minyak mentah Brent mencapai level tertinggi dalam empat tahun terakhir. Penurunan harga minyak ini terjadi menyusul laporan bahwa militer Amerika Serikat (AS) akan memberi masukan kepada Presiden Donald Trump tentang potensi tindakan terhadap Iran.

Dikutip dari CNBC, Jumat (1/5/2026, patokan harga minyak dunia, Brent turun lebih dari 3% dan ditutup pada USD 114,01 per barel, setelah melonjak ke level tertinggi sepanjang masa perang sebesar USD 126 di awal sesi perdagangan.

Sedangkan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun lebih dari 1% dan ditutup pada USD 105,07.

Axios melaporkan bahwa Komando Pusat AS akan mempresentasikan rencana Trump untuk kemungkinan aksi militer terhadap Iran, mengutip dua sumber yang mengetahui masalah tersebut.

Sebelumnya, Trump dilaporkan telah menolak proposal Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz, yang menandakan blokade angkatan laut akan tetap berlaku hingga kesepakatan nuklir yang lebih luas tercapai. 

Pergerakan harga minyak terbaru ini terjadi di tengah reli beberapa hari untuk Brent dan WTI, di mana kedua patokan harga minyak tersebut naik sekitar 60% sejak perang yang dipimpin AS dan Israel melawan Iran dimulai pada 28 Februari. 

“Pasar minyak telah beralih dari optimisme berlebihan ke realitas gangguan pasokan yang kita lihat di Teluk Persia,” kata Kepala Strategi Komoditas Bank Belanda ING Warren Patterson.

 

Ekspor Lewat Selat Hormuz

“Semakin lama gangguan ini berlanjut, semakin sedikit pasar dapat mengandalkan persediaan, dan semakin besar kebutuhan akan penghancuran permintaan lebih lanjut. Satu-satunya cara untuk mendorong hal ini adalah melalui harga minyak yang lebih tinggi,” tambahnya.

Goldman Sachs memperkirakan bahwa ekspor melalui jalur sempit Selat Hormuz telah turun hingga hanya 4% dari tingkat normal, sementara negosiasi AS-Iran yang terhenti dan blokade AS yang berkelanjutan memperketat pasokan. 

Para analis bank tersebut mengatakan bahwa ekspor Iran yang terbatas dan kapasitas penyimpanan yang terbatas dapat memperdalam gangguan pasokan jika blokade terus berlanjut, dan menambahkan bahwa peningkatan produksi dari UEA setelah keluarnya dari OPEC kemungkinan akan terwujud secara bertahap dalam jangka menengah daripada mengimbangi kekurangan dalam jangka pendek.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6