Miliarder Pendiri Evergrande Mengaku Bersalah, Skandal Properti China Makin Terungkap

Bos Evergrande Hui Ka Yan mengaku bersalah atas kasus penipuan, setelah runtuhnya raksasa properti China dengan utang USD 300 miliar.

Diterbitkan 16 April 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pendiri raksasa properti China Evergrande Group, Hui Ka Yan, mengaku bersalah atas sejumlah tuduhan termasuk penipuan penggalangan dana.

Dalam persidangan di Shenzhen, China, pengadilan menyatakan Hui “pleaded guilty and expressed remorse” atau mengaku bersalah dan menyatakan penyesalan. Ia juga mengaku bersalah atas penyalahgunaan dana serta penghimpunan dana publik secara ilegal.

Dikutip dari The Guardian, Kamis (15/4/2026), Evergrande sebelumnya dikenal sebagai perusahaan properti terbesar di China. Namun sejak 2021, perusahaan tersebut gagal membayar sebagian besar kewajibannya yang mencapai sekitar USD 300 miliar.

Krisis Evergrande menjadi simbol masalah besar di sektor properti China yang selama ini membebani pertumbuhan ekonomi negara tersebut.

Kegagalan perusahaan membayar produk investasi juga memicu kemarahan masyarakat, terutama dari kalangan kelas menengah dan bawah yang kehilangan dana investasi mereka.

Selain pengakuan bersalah, Hui juga menghadapi sejumlah tuduhan lain, termasuk pemberian pinjaman ilegal, penerbitan sekuritas secara curang, serta praktik suap oleh unit perusahaan.

 

Ancaman Hukuman Berat dan Kasus Tambahan

Pengadilan di Shenzhen menyatakan bahwa putusan akhir akan diumumkan kemudian, meski belum ada tanggal pasti.

Untuk kasus penggalangan dana ilegal, hukuman maksimal yang dapat dijatuhkan adalah penjara seumur hidup serta penyitaan aset. Sementara itu, kasus suap juga dapat berujung hukuman serupa.

Pada 2024, regulator pasar modal China juga telah menjatuhkan denda sebesar USD 6,6 juta kepada Hui dan melarangnya beraktivitas di pasar sekuritas seumur hidup. Keputusan ini diambil setelah ditemukan adanya manipulasi laporan keuangan oleh bisnis utama Evergrande.

Hingga kini, Hui yang berusia 67 tahun belum terlihat di publik sejak ditahan oleh otoritas China pada 2023.

 

Dari Orang Terkaya Asia ke Skandal Besar

Perjalanan Hui Ka Yan terbilang dramatis. Ia memulai karier sebagai pekerja pabrik baja sebelum membangun kerajaan bisnis properti.

Evergrande didirikan pada 1996 di Guangzhou dan berkembang pesat melalui strategi ekspansi agresif dengan utang besar. Perusahaan bahkan melantai di bursa saham Hong Kong pada 2009.

Pada puncaknya di 2017, Hui menjadi orang terkaya di Asia dengan kekayaan mencapai USD 45,3 miliar. Namun kekayaannya merosot tajam menjadi sekitar USD 3 miliar pada awal 2023.

Krisis Evergrande berujung pada perintah likuidasi oleh pengadilan Hong Kong pada 2024, sekaligus mengakhiri perjalanan perusahaan yang sempat menjadi simbol kejayaan sektor properti China.

Di luar China, proses hukum masih berlangsung untuk membekukan aset Hui dan mantan istrinya di luar negeri, sebagai upaya mengembalikan sekitar USD 6 miliar yang diduga telah dibayarkan dalam bentuk dividen dan kompensasi kepada para eksekutif.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6