Rincian Harga Emas Antam Hari Ini 11 April 2026, Lebih Mahal Dibanding Kemarin!

Harga emas Antam hari ini naik Rp 3.000 menjadi Rp 2.860.000 per gram. Simak daftar lengkap harga emas batangan dari 0,5 gram hingga 1 kg per Sabtu (11/4/2026).

Diterbitkan 11 April 2026, 10:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam) atau harga emas Antam kembali naik pada perdagangan Sabtu ini. Harga emas Antam hari ini naik Rp 3.000 sedangkan pada Jumat kemarin naik Rp 7.000.

Mengutip laman logammulia.com, Sabtu (11/4/2026), harga emas antam hari ini dipatok Rp 2.860.000 per gram, lebih mahal dibandingkan perdagangan sebelumnya yang dipatok Rp 2.857.000 per gram.

Demikian juga harga buyback emas Antam hari ini juga naik bahkan dengan nilai lebih besar. HHarga buyback emas Antam hari ini naik Rp 8.000 menjadi Rp 2.627.000 per gram.

Untuk diketahui, harga buyback ini adalah jika Anda akan menjual emas, Antam akan membelinya di harga Rp 2.627.000 gram.

Sebagai informasi, harga emas Antam mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah pada Kamis 29 Januari 2026 di harga Rp 3.168.000 per gram. Sedangkan harga buyback emas Antam di angka Rp 2.989.000 per gram.

Informasi mengenai harga emas Antam ini bersumber dari situs resmi Logam Mulia, unit bisnis PT Aneka Tambang Tbk. Dengan demikian, data yang disajikan memiliki akurasi dan kredibilitas yang tinggi bagi publik.

Daftar Harga Emas Antam

Berikut daftar harga emas Antam hari ini Sabtu, 11 April 2026:

  • Harga emas 0,5 gram: Rp 1.480.500
  • Harga emas 1 gram: Rp 2.860.000
  • Harga emas 2 gram: Rp 5.660.000
  • Harga emas 3 gram: Rp 8.465.000
  • Harga emas 5 gram: Rp 14.075.000
  • Harga emas 10 gram: Rp 28.095.000
  • Harga emas 25 gram: Rp 70.112.000
  • Harga emas 50 gram: Rp 140.145.000
  • Harga emas 100 gram: Rp 280.212.000
  • Harga emas 250 gram: Rp 700.265.000
  • Harga emas 500 gram: Rp 1.400.320.000
  • Harga emas 1.000 gram: Rp 2.800.600.000.

Harga Emas Berpotensi Tembus USD 5.000, Ini Sentimen Utamanya

Harga emas mencatat kenaikan pada perdagangan Jumat dan bersiap menutup pekan dengan penguatan. Sentimen ini dipicu melemahnya dolar Amerika Serikat (AS) setelah tercapainya gencatan senjata antara AS dan Iran.

DIkutip dari CNBC, Sabtu (11/4/2026), harga emas spot naik 0,3% menjadi USD 4.778,89 per ons. Sepanjang pekan ini, harga emas telah menguat lebih dari 2%. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS justru turun tipis 0,3% ke level USD 4.804,00.

Pelaku pasar masih mencermati seberapa kuat gencatan senjata tersebut akan bertahan serta dampaknya terhadap arah kebijakan suku bunga ke depan.

Trader logam independen, Tai Wong, mengatakan bahwa pembeli emas mulai kembali menguasai pasar secara perlahan.

“Pembeli emas secara hati-hati mulai kembali mengendalikan narasi minggu ini dengan pola kenaikan bertahap setiap hari, didukung oleh gencatan senjata yang masih bersifat sementara,” ujarnya.

Ia menambahkan, level USD 5.000 akan menjadi titik krusial bagi pergerakan emas.

“Perkirakan akan ada pertarungan signifikan menjelang level USD 5.000. Jika mampu menembus kembali, hal itu bisa memicu reli bullish baru,” kata Wong.

Meski demikian, gencatan senjata yang baru berjalan dua hari tersebut belum sepenuhnya meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah. Blokade Selat Hormuz masih berlangsung, dan konflik paralel antara Israel dan sekutu Iran di Lebanon juga belum mereda.

Inflasi Tinggi dan Suku Bunga Jadi Tantangan Emas

Direktur perdagangan logam High Ridge Futures, David Meger, menyebut bahwa meredanya ketegangan geopolitik turut memengaruhi ekspektasi pasar terhadap suku bunga.

“Ketika ketegangan di Timur Tengah mulai mereda, muncul harapan bahwa suku bunga berpotensi lebih rendah di masa depan, dan dolar pun tertekan. Hal ini mendukung harga emas,” jelasnya.

Dolar AS yang melemah sepanjang pekan ini membuat emas menjadi lebih murah bagi investor yang menggunakan mata uang lain, sehingga meningkatkan daya tariknya.

Namun, data terbaru menunjukkan bahwa inflasi konsumen di AS melonjak ke level tertinggi dalam hampir empat tahun pada Maret. Lonjakan ini dipicu oleh kenaikan harga minyak akibat perang serta dampak lanjutan dari kebijakan tarif.

Inflasi yang tinggi menjadi kendala bagi bank sentral untuk menurunkan suku bunga. Padahal, emas biasanya diminati sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian geopolitik. Di sisi lain, daya tarik emas cenderung menurun ketika suku bunga tinggi karena tidak memberikan imbal hasil.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6