Mendag Sebut Kenaikan CPO Tak Pengaruhi Harga Minyakita

Mendag Budi Santoso menuturkan, saat ini tren harga minyakita cenderung merosot.

Diterbitkan 13 Maret 2026, 20:55 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perdagangan, Budi Santoso (Mendag Budi Santoso) mengatakan harga Minyakita cenderung turun di beberapa daerah. Dia menilai, harga Minyakita tidak terpengaruh proyeksi kenaikan harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) global.

Sebelumnya, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memproyeksikan harga CPO global bisa tembus USD 1.050 per ton. Namun, kenaikan ini tak pengaruhi harga minyak goreng di pasaran.

"Enggak, enggak, enggak ada masalah," kata Budi, ditemui di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, Jumat (13/3/2026).

Dia menjelaskan, saat ini tren harga minyak goreng Minyakita cenderung turun. Hal tersebut didapat dari pantauan di Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP). 

"Kemarin kalau cek harga Minyakita aja juga sekarang malah turun, kan? Berapa sekarang? Sekarang Rp 15.800 di SP2KP turun terus grafiknya. Jadi belum ada pengaruhnya sampai sekarang," urainya.

Budi menepis kekhawatiran harga Minyakita tembus hingga di atas Rp 20.000 per liter seperti beberapa tahun lalu. "Menurut saya belum. Ya, rasanya enggak deh (tembus Rp 20.000)," ujar dia.

Stok Minyak Goreng

Budi Santoso mengajak produsen minyak goreng second brand atau minyak goreng murah untuk memperbanyak produksinya. Ajakan itu dikeluarkan setekah melihat situasi pasar yang kini menjadikan produk Minyakita sebagai acuan utama. 

Mendag mengatakan, ketersediaan minyak goreng di pasar nasional sebenarnya berlimpah, baik untuk kategori premium maupun second brand. Namun, secara produk jumlahnya saat ini berkurang. 

"Dulu sebelum ada Minyakita, second brand itu bisa sampai 50-an jenisnya. Sekarang berkurang karena kebanyakan beralih ke Minyakita," ujar dia dalam sesi konferensi pers di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Jumat, 6 Februari 2026.

Minta Produsen Minyak Goreng Ikutan

Ia pun menyoroti narasi minyak goreng langka yang seringkali muncul saat kuota Minyakita di pasaran berkurang. Padahal, ia menambahkan, stok minyak goreng di luar produk itu justru berlimpah.  

"Terus kalau Minyakita naik, seolah-olah harga minyak goreng naik. Kenapa? Karena Minyakita itu pakai HET (Harga Eceran Tertinggi). Jadi ada acuannya, sehingga kalau naik sedikit seolah-olah yang lain ikut naik," imbuh dia. 

"Ini yang kami minta kemudian kepada produsen, tolong membuat banyak minyak second brand. Second brand itu yang setipe atau selevel dengan Minyakita. Sehingga masyarakat lebih banyak menjangkau minyak-minyak dengan kualitas bagus dan harga yang terjangkau," pintanya. 

Harga Rata-rata Minyakita Turun

Menurut catatannya, harga rata-rata Minyakita saat ini tengah mengalami penurunan, meskipun masih lebih tinggi dibanding HET Rp 15.700 per liter. Secara tren, harga Minyakita di pasaran juga mengalami penurunan sejak awal 2026 ini. 

"Kalau kita lihat grafiknya kalau rata-rata kemarin kan Rp 16.800 ya harganya sekarang sudah Rp 16.200," terang Mendag. 

Ia kembali menekankan, Minyakita sebenarnya merupakan program pemerintah untuk melakukan intervensi pasar saat harga minyak dunia mengalami lonjakan pada 3 tahun lalu. 

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6