Purbaya Beberkan Strategi Pemerintah Jaga Stabilitas Nilai Tukar Rupiah

Purbaya memastikan pemerintah bersama otoritas moneter terus menjaga koordinasi guna memastikan stabilitas sistem keuangan.

Diterbitkan 11 Maret 2026, 14:31 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa penguatan fondasi ekonomi menjadi kunci utama dalam menjaga pergerakan nilai tukar rupiah tetap stabil.

Dikatakan, stabilitas nilai tukar akan lebih mudah dijaga selama kondisi fundamental ekonomi nasional tetap kuat. “Selama fondasi ekonomi kita bagus, mengendalikan rupiah lebih mudah dibandingkan jika kondisi ekonomi sedang tidak baik,” ujar dia di Kompleks Istana Kepresidenan, Selasa (10/3/2026).

Ia menjelaskan bahwa pemerintah bersama otoritas moneter terus menjaga koordinasi guna memastikan stabilitas sistem keuangan.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah menjaga likuiditas di sistem keuangan tetap memadai serta melakukan pemantauan ketat terhadap pergerakan nilai tukar.

Menurutnya, kerja sama yang solid antara pemerintah dan Bank Indonesia (BI) menjadi faktor penting dalam meredam gejolak pasar global.

“Kalau kita memastikan perkembangan ekonomi baik, likuiditas di sistem cukup, dan BI memonitor kondisi nilai tukar, maka kerja sama yang baik antara pemerintah dan BI sangat penting untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Jika koordinasi seperti ini terjaga, gejolak pasar global tidak akan terlalu sulit dikendalikan,” kata Purbaya.

Purbaya juga menanggapi kekhawatiran mengenai dampak kenaikan harga minyak global terhadap anggaran subsidi energi pemerintah, terutama menjelang Hari Raya Idulfitri.

Ia menegaskan bahwa kondisi fiskal Indonesia masih cukup kuat untuk menyerap kenaikan harga energi yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.

“Kita masih aman, masih kuat. Kenaikan ini baru terjadi beberapa hari. Subsidi energi dihitung untuk satu tahun penuh, dengan asumsi rata-rata harga sekitar 70. Jadi kenaikan beberapa hari ini belum cukup untuk mengubah anggaran kita. Kita masih bisa menyerapnya,” ujarnya.

Nilai Tukar Rupiah

Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melesat pada pembukaan perdagangan Rabu (11/3/2026). Nilai tukar rupiah dibuka naik 12 poin atau 0,07% menjadi 16.851 per dolar AS dari penutupan sebelumya 16.863 per dolar AS.

Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong menuturkan, penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dipengaruhi harga minyak yang melemah.

“Rupiah diperkirakan akan berkonsolidasi dengan potensi menguat terbatas didukung oleh penurunan yang cukup besar pada harga minyak,” ujar dia dikutip dari Antara, Rabu pekan ini.

Mengutip Anadolu, patokan internasional minyak mentah Brent sempat diperdagangkan USD 87,6 per barel, dan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) di kisaran USD 84,2 per barel.

Angka ini menurun setelah sempat melonjak di atas USD 119 per barel pada Senin, 9 Maret 2026 terkait kekhawatiran gangguan pasokan di Selat Hormuz yang terkait dengan perang Iran dengan AS-Israel.

Penyebab

Lukman menuturkan, penurunan tersebut disebabkan pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengatakan perang dengan Iran diperkirakan akan "segera berakhir", tetapi membantah berakhir pada pekan ini.

“Ada harapan dari pernyataan Trump yang akan mengamankan Selat Hormuz, dan pernyataannya bahwa perang akan berakhir tidak lama lagi, walau belum tentu hal ini terjadi, namun memberikan sentimen yang positif,” ujar dia.

Di sisi lain, dia juga mengatakan, perang yang masih berlangsung akan terus membebani rupiah.

Berdasarkan faktor-faktor itu, rupiah akan bergerak di kisaran 16.800-16.950 per dolar AS.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6