Tarif Masuk Ragunan Diusulkan Naik Jadi Rp 10 Ribu

DPRD DKI menilai tarif tersebut masih rasional jika dibandingkan dengan harga tiket sejumlah destinasi wisata lain di Jakarta.

Diterbitkan 07 September 2026, 08:38 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Komisi C DPRD DKI dan TMR mengkaji kenaikan tarif masuk Ragunan menjadi Rp 10.000.
  • Kenaikan tarif bertujuan meningkatkan fasilitas, pelayanan, dan menyesuaikan kondisi ekonomi Jakarta.
  • Diharapkan mengurangi ketergantungan TMR pada APBD dan mencapai kemandirian finansial.

Liputan6.com, Jakarta - Komisi C DPRD DKI Jakarta dan pengelola Taman Margasatwa Ragunan (TMR) mengkaji penyesuaian tarif masuk. Tarif yang saat ini sebesar Rp 4.000 untuk dewasa dan Rp 3.000 untuk anak-anak diusulkan naik menjadi Rp 10 ribu.

Ketua Komisi C DPRD DKI Jakarta Dimaz Raditya mengatakan, rencana tersebut bertujuan meningkatkan fasilitas dan pelayanan di TMR. Menurut dia, tarif yang berlaku saat ini sudah tidak sebanding dengan perkembangan kondisi ekonomi dan pendapatan masyarakat Jakarta.

“Tarif Ragunan ini sudah 20 tahun tidak pernah naik. Sementara, kondisi ekonomi dan pendapatan masyarakat Jakarta terus meningkat,” ujar Dimaz dalam keterangannya, dikutip Minggu (6/9/2026).

Dimaz menegaskan, angka Rp 10 ribu masih dalam tahap kajian. Ia menilai tarif tersebut masih rasional jika dibandingkan dengan harga tiket sejumlah destinasi wisata lain di Jakarta, seperti Ancol dan Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

“Tarif sekarang paling mahal Rp 4.000. Rencana akan dinaikkan menjadi Rp 10.000, tetapi masih terus kami kaji perihal angka,” tutur dia.

 

 

Keamanan Kandang Jadi Perhatian

Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta Hardiyanto Kenneth mengatakan, penyesuaian tarif juga diperlukan untuk membenahi sarana dan prasarana Ragunan. Salah satu aspek yang menjadi perhatian ialah keamanan kandang satwa.

“Beberapa waktu lalu ada anak yang terjatuh ke area kandang gajah. Nah, ini menjadi salah satu catatan kami dan kami berharap standar keamanan bisa ditingkatkan seiring penyesuaian tarif,” ungkap Kenneth.

Selain memperbaiki fasilitas, kenaikan tarif diharapkan dapat mengurangi ketergantungan TMR terhadap APBD DKI Jakarta. Saat ini, sekitar 70 persen biaya operasional Ragunan masih ditanggung pemerintah daerah.

Kenneth mengatakan, besarnya porsi pembiayaan dari APBD membuat pengelola perlu didorong agar secara bertahap lebih mandiri secara finansial. Dengan demikian, anggaran pemerintah dapat dialihkan untuk program lain yang lebih membutuhkan.

“Harapan kami dengan adanya peningkatan tarif ini adalah Taman Margasatwa Ragunan bisa mandiri secara finansial. Efisiensi pada anggaran APBD nantinya bisa digunakan untuk program lain yang lebih membutuhkan,” kata Kenneth.

 

Kebutuhan Anggaran Ragunan

Kepala Taman Margasatwa Ragunan Endah Rumiyanti mengungkapkan, kebutuhan anggaran operasional TMR mencapai sekitar Rp 160 miliar per tahun. Sementara itu, pendapatan mandiri yang dihimpun pengelola baru sekitar Rp 30 miliar per tahun.

“Total kebutuhan anggaran operasional kami per tahunnya mencapai sekitar Rp160 miliar, tapi pendapatan mandiri yang mampu kami kumpulkan baru sekitar Rp30 miliar per tahun. Artinya, tingkat subsidi dari pemerintah daerah masih berada di kisaran 70 persen,” ucap Endah.

Karena itu, Endah menyambut baik wacana penyesuaian tarif. Ia menegaskan, kebijakan tersebut bukan bentuk komersialisasi kawasan, melainkan upaya memperkuat pelayanan publik agar pengelolaan Ragunan dapat berkembang sesuai masterplan yang telah disusun.

Menurut Endah, pengembangan kawasan diarahkan untuk memperkuat fungsi Ragunan sebagai ruang rekreasi, konservasi, dan edukasi.

“Goal utamanya adalah menghadirkan ruang terbuka hijau dan kebun binatang berstandar internasional yang aman, nyaman, dan edukatif,” tandas Endah.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6